Tampilkan postingan dengan label Ipar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ipar. Tampilkan semua postingan

Iparnya kakakku

Aku tinggal bersama kakakku dan suaminya. Mereka berdua belum punya anak dan sering pergi untuk mengerjakan urusan bisnisnya masing2. Pokoknya orang2 yang terkategori super sibuk lah.
Suatu waktu mereka bersama akan ke Singapore selama seminggu, bersamaan dengan itu ipar kakakku, adik suaminya, datang menginap dirumah. Dia, mas Arman, tinggal dikota lain dan sedang tugas di Jakarta, sehingga tinggal dirumah abangnya.

Pagi itu, setelah kakakku dan suaminya berangkat ke airport, aku menyediakan makan pagi untukku dan mas Arman. Setelah siap aku memanggil mas Arman, "Mas, sarapan mas.". Aku memanggilnya sembari mendorong pintu kamarnya, ternyata dia masih tidur dengan hanya memakai cd. Napsuku langsung timbul melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan toketnya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas k ontolnya besar dan panjang tercetak dengan jelas di cdnya. Kayaknya k ontolnya dah tegang berat. Karena pintu kamar berbunyi ketika aku buka, tiba2 mas Arman membuka matanya, memandangku yang sedang terkagum2 melihat bodi dan k ontolnya. "Kenapa Nes?', tanyanya sambil senyum2. Dia tau bahwa aku sedang mengagumi bodi dan juga k ontolnya. Aku jadi tersipu malu. "Sarapan dulu mas, ntar dingin", kataku sambil keluar kamar. Lama kutunggu tapi dia gak keluar juga dari kamar, sementara itu napsuku makin berkobar membayangkan k ontolnya yang besar dan panjang itu. "Mas", panggilku lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Aku kembali ke kamarnya.

Dia rupanya sedang telentang sambil mengusap2 k ontolnya dari luar cdnya. Ketika dia melihat aku ada dipintu kamar, sengaja dia pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah k ontolnya yang besar mengacung dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat k ontol segede itu. "Kamu pengen ngerasain k ontolku ya Nes", katanya terus terang. "Belum pernah ya ngerasain k ontol segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Nes, bodi kamu merangsang banget deh". Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. k ontolnya yang tegang berat berayun2 seirama
jalannya. DIa segera memelukku dan menarikku ke ranjang, dirumah memang gak ada siapa2 lagi. Dasterku segera dilepaskannya, begitu juga bra dan cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, toket yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembutku yang lebat menutupi n onokku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya. Bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke toketku sehingga wajahnya terbenam di toketku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah toketku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya sampe ke n onokku yang berjembut tebal. Dia menjilati jembutku dulu sampe jembutku menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir n onokku terus ke i tilku. Ketika lidahnya menyentuh i tilku, aku terlonjak kegelian. Dia menahan kakiku dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku. Lidahnya menyusupi n onokku dan menjilati i tilku yang makin membengkak. n onokku berlendir, dia menjilati lendir yang keluar. Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku nyampe. "Mas, nikmat banget deh, padahal belum die ntot ya", kataku mendesah.

Mas Arman diam saja, dan berbaring telentang. "Kamu diatas ya Nes, biar masuknya dalem", ajaknya. Aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara k ontolnya yang sudah tegang berat. "Aku masukkin k ontolku ke n onok kamu ya Nes", katanya sambil mengarahkan k ontolnya menyentuh bibir n onokku. Dia tidak masuk menekankan k ontolnya masuk ke n onokku tapi digesek2kan di bibir n onokku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu basah dan mengkilap.Aku terbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking napsunya, "Mas, masukin dong." Aku mulai menekan kepala k ontolnya yang sudah pas berada di mulut n onokku. Pelan2
k ontolnya menyusup kedalam n onokku, "Akh mas, gede banget", erangku. "Apanya yang besar Nes", dia memancing reaksiku. "Punyanya maass..!!" "..Apa namanya..?" dia memancing lagi, aku langsung aja menjawab, "k ontol mas, besar sekali". Dengan sekali hentakan keatas k ontolnya
menyeruak masuk n onokku. "Ooh mas, pelan2 mas", aku mendesah lirih. Mataku terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2. Bibir n onokku sampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan k ontol besarnya. "n onok kamu sempit sekali Nes", jawabnya. Aku mulai
berirama menaik turunkan pantatku, k ontolnya masuk merojok n onokku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur k ontol besarnya. Aku mulai merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. n onokku yang sudah licin terasa penuh sesak
kemasukan k ontolnya yang besar, k ontolnya terasa banget menggesek n onokku yang sudah basah berlendir itu. "Mas, enak banget mas, terus mas", erangku. "Terus diapain Nes", jawabnya menggoda aku lagi. "Terus e ntotin n onok Ines mas", jawabku to the point. "e ntotin pake k ontol gede mas". Enjotannya dari bawah makin menggebu sehingga aku makin menggeliat2. Aku memeluknya dan mencium bibirnya dengan garesif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu kencang, lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot. Kemudian dia menggulingkan aku
sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan k ontolnya keluar masuk dengan cepat. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih mudah menyodokan k ontolnya keluar masuk. Keluar masuknya k ontolnya sampe menimbulkan suara berdecak2 yang seirama dengan keluar
masuknya k ontolnya, karena basahnya n onokku. "Mas, enak sekali k ontolmu mas, e ntotin n onok Ines yang cepet mas, nikmat banget", desahku. "Ooh n onok kamu sempit banget Nes, terasa banget sedotannya. Nikmat banget deh", jawabnya sambil terus mengenjotkan k ontolnya keluar masuk n onokku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku menggelinjang kenikmatan, toket kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut,
"Ssh, mas, nikmat banget nge ntot ama mas, pentil Ines dikenyot terus mas", erangku lagi. "Ines bisa ketagihan die ntot ama mas. Ooh mas, Ines gak tahan lagi mas, mau nyampeee". Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil menikmati kenikmatan yang melanda tubuhku, luar biasa rasanya. "Nes, aku masih pengen nge ntotin n onok kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2", katanya sambil terus mengenjotkan k ontolnya.

Mas Arman minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan n onokku die ntot dari belakang, n onokku terasa berdenyut menyambut masuknya k ontolnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan k ontolnya, kalo dia mengenjotkan k ontolnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong
pantatku dengan keras ke belakang sehingga k ontol besarnya masuk dalem sekali ke n onokku. "Ooh nikmatnya mas, die ntot dari belakang. Kerasa banget geseken k ontol mas di n onok Ines". Jarinya mengilik2 i tilku sambil terus mengenjotkan k ontolnya keluar masuk. " Uuh mas, nikmat
banget mas, terus mainin i til Ines mas sambil ngenjot n onok Ines", erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan i tilku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil
mengenjotkan k ontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. "Mas, nikmat banget mas, Ines udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii", aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat dari yang pertama. Diapun mencabut k ontolnya dari n onokku dan berbaring
disebelahku. "Mas. belum ngecret kok dicabut k ontolnya", tanyaku. "Ines masih mau kok mas die ntot lagi, biar bisa nyampe lagi". Dia setengah bangun dan membelai rambutku, "Kamu masih bisa nyampe lagi kok Nes"."Ines mau kok die ntot mas seharian, kan Ines bisa nyampe terus2an,
nikmat banget deh mas".

Istirahat sebentar, mas Arman kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan k ontolnya ke dalam n onokku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan k ontolnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, "Aaaaaaahhhh , Maaaassssssss ..". k ontolnya dinaikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya bermain di pentilku, sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2 punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, "Aah mas, nikmatnya. Terus mas, tekan yang keras,
aah". Dia meremas2 toketku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok n onokku dengan k ontolnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan. Tiba2 dia mencabut k ontolnya dari n onokku, aku protes, "Kok dicabut lagi mas, Ines belum nyampe mas, dimasukin lagi dong k ontolnya". Tapi dia segera menelungkup diatas n onokku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian n onokku dan terakhir i tilku. "Mas, diapa2in sama mas nikmat ya mas, terus isep i til Ines mas, aah", erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan k ontolnya ke
mulutku. k ontolnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati n onokku yang dipenuhi lendir itu. "Nes, aku dah mau ngecret neh", katanya sambil mencabut k ontolnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke n onokku. Dia mulai mengenjot n onokku dengan cepat dan keras, aku rasanya juga sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan k ontolnya dalam2 di n onokku dan terasa
semburan pejunya yang hangat didalam n onokku, banyak sekali ngecretnya, bersamaan dengan ngecretnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia. "Mas, nikmat banget deh masss", erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut k ontolnya dan berbaring disebelahku.

Tak lama kemudian, kita bangun dan membersihkan badan di kamar mandi. Tidak ada aktivitas lanjutan di kamar mandi karena mas Arman harus melakukan tugasnya pagi ini. Selesai membersihkan badan, kita sarapan, kemudian mas Arman pergi, akupun melakukan aktivitas harianku. Sorenya ketika aku pulang ke rumah, mas Arman belum kembali, biasanya memang dia pulangnya malam. Akupun mandi, menyiapkan makan malam untukku sendiri, kemudian kusantap sambil nonton tv. Sepi juga rasanya setelah tadi pagi menreguk kenikmatan dengan mas Arman. Aku bersantai sambil nonton tv sampai kantuk datang menyerang. TV kumatikan dan aku masuk
kamarku, rebahan diranjang dan tak lama kemudian aku tertidur. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena toketku terasa ada yang meremas2. Aku membuka mata, kulihat mas Arman tersenyum melihatku, "Nes, ngelanjutin yang tadi pagi mau enggak". Dia sudah bertelanjang bulat berbaring disebelahku. k ontol besarnya sudah ngaceng sempurna. Tanpa
menunggu jawabkanku, segera aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas2 toketku sudah mulai mengeras, pentilku di pilin2nya, aku hanya bisa ber ah uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya. Pentilku langsung diserbunya, diemut2nya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu toketku terus saja diremas2nya. Puas mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di n onokku. Lidahnya segera membelah bibir n onokku dan menjilati i tilku, aku
mengangkangkan pahaku sehingga mempermudah dia menggarap i tilku. Aku mulai mengerang2 saking nikmatnya yang melanda tubuhku. "Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg.." badanku melintir, bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di i tilku. Dia makin bersemangat karena eranganku. Tiba2 dia melepaskan jilatannya, segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala k ontolnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir n onokku dan langsung ditusuk masuk. "Hhgghh.." sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan k otolnya. Tapi
karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan k ontolnya ke dalam n onokku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya k ontolnya yang cepat amblas ke dalam n onokku. Begitu tertanam didalam, k ontolnya dienjotkan keluar masuk pelan2. Terasa banget k ontolnya yang besar menyeruak masuk mengisi lobang n onokku yang terdalam. "Hhsssh, dalemm bangett mas", spontan keluar eranganku, "nikmat banget rasanya". Dia terus mengenjotkan k ontolnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya. Dia makin gencar mengenjotkan k ontolnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya. "Mas, ennakk. Duhh dalem bangett masuknya mas. Aaa.. dikorek-korek gitu Ines pengenn kluarr. Ayyo mas..adduuh", erangku gak karuan. ".. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak n onokmu Nes, aku juga mo ngecret .. sshmmmh.." "Hhsss.. aduuhh tobatt mas.. hahgh ooghh.. k ontolnya masuk dalem sekali mas, gedee sekalli, aduuh.. mas. lebih nikmat dari tadi pagi deh." k ontolnya makin dipompa keras2, nikmat banget rasanya. "Heg.. yaang kerass mas.. shh, iya gittu..aduh..ssshgh..
heehh.. ayyo.. ayoo mas.. aaahgh.. sshgh. Ines udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh.." Dia meremas2 toketku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua toketku. Tapi menjelang tiba di saat dia
ngecret, dia mencabut k ontolnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk. Dia menekan kepalaku ke arah k ontolku yang tegang mengangguk2 berlumuran cairan n onokku. '"Ayo Nes isepin sampe ngecret." Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan mengocok k ontolnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia ngecret di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan pejunya yang tiba2, dia terus menekan kepalaku supaya tidak melepaskan kulumanku sehingga pejunya tertelan olehku. Setelah keluar semua, aku melepas
mulutku, langsung meringis. "Kenapa Nes, nggak enak ya rasanya?" tanyanya geli. "Asin rasanya mas.." jawabku ikut geli. "Emang enak sih dikeluarin pake mulut?" kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini. "Oo.. sama kamu sih pasti enak aja." jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.

Di kamar mandi, mas Arman memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas toketku, pentilnya diplintir2 sambil menciumi kudukku. Aku menggelinjang kegelian. Aku mencari k ontolnya, astaga, sudah mulai ngaceng lagi rupanya. Kuat banget dia, baru aja ngecret di mulutku sudah mulai ngaceng lagi. "Kuat banget sih mas, baru Ines emut sampe ngecret udah ngaceng lagi", kataku. "Iya tadi kan ngecret dimulut kamu, sekarang pengen ngecret lagi di n onok kamu", jawabnya sambil terus meremesi toketku. Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, k ontolnya yang makin keras aku remes dan kocok2 biar sempurna ngacengnya. "Mas, Ines isep lagi ya", kataku sambil jongkok di depannya. Ujung k ontolnya kujilati dan kemudian giliran kepala k ontolnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati k ontolnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum. Kepalaku mengangguk2 seiring keluar masuknya k ontolnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus2. "AAh Nes, nikmat banget deh", erangnya. Dia memegang rambutku dan mendorong k ontolnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke jembutku. Jarinya mulai mengelus bibir n onokku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi n onokku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak langsung ke i tilku tapi berputar2 sekitar n onokku. Ke daerah paha, terus kedaerah pantat dan naik lagi. "Mas, nakal ih", desahku, napsu sudah kembali menguasaiku. Jilatannya diarahkan ke i tilku sambil memasukkan jarinya ke n onokku. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk n onokku. "Maas", desahku saking napsunya. pinggulku menggeliat kekiri kekanan.

Akhirnya sampailah saat yang kutunggu2, mas Arman menaiki badanku, ditindihnya aku, k ontolnya diarahkan ke n onokku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap2kan dibibir n onokku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala k ontolnya membelah n onokku.
Dia mulai mengeluar masukkan k ontolnya ke n onokku, pelan2, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh k ontolnya nancep dalem sekali di n onokku. "Maas, nikmat sekali", jeritku. Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan k ontolnya keluar masuk n onokku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan k ontolnya ke dinding n onokku, nikmat banget. n onokku mulai berdenyut2 meremes2 k ontolnya yang terus bergerak
lincah keluar masuk. "Mas, Ines udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras mas, aah", erangku lagi. Dia makin semangat mengenjot n onokku. Tiba2 dia berhenti dan mencabut k ontolnya, "Maas", protesku. Ternyata dia pengen ganti posisi. Aku disuruhnya nungging dan kembali k ontolnya
melesak masuk n onokku dari belakang, doggie style. pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan k ontolnya keluar masuk. Toketku yang berguncang2 seirama dengan enjotan k ontolnya diraihnya, diremes2nya, pentilnya diplintir2, menambah kenikmatan yang sedang
mendera tubuhku. "Terus maas", erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya. Aku memaju mundurkan badanku supaya k ontolnya nancep dalem sekali di n onokku, sampe akhirnya, "Terus maas, Ines nyampe lagiii". Dinding n onokku berdenyut2 mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot n onokku dengan cepat. Aku nelungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya. Dia membaringkan dirinya, k ontolnya masih tegak berdiri berlumuran cairan n onokku. "Nes, kamu yang diatas ya, aku belum keluar neh", pintanya.

Aku menempatkan diriku diatasnya, k ontolnya kupegang dan langsung kutancapkan ke n onokku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja k ontolnya ambles semua di n onokku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar2. biar cape, tapi nikmat banget
rasanya gesekan k ontolnya ke n onokku. Toketku diremes2nya sambil memlintir2 pentilnya. Aku merubah gerakanku menjadi keatas kebawah mengocok k ontolnya dengan n onokku. "Mas, nikmat banget deh", erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk didadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya. "Mas, belum mau ngecret ya, Ines lemes mas", desahku. "Tapi nikmat kan", jawabnya. "Nikmat banget mas". Dia berguling tanpa mencabut k ontolnya dari n onokku sehingga sekarang dia ada diatasku. dia mulai lagi mengenjotkan k ontolnya keluar masuk n onokku. "Nes, aku udah mau ngecret, erangnya sambil mempercepat enjotannya. Dia terus mengenjotkan k ontolnya keluar masuk n onokku, sampe akhirnya, "Nes", erangnya. terasa sekali semburan pejunya membanjiri n onokku. Kami berdua terkulai lemas. Hal itu kita ulangi berkali2 selama dia tinggal dirumah kakakku, setelah kakakku kembalipun kita masih tetap melakukannya, sampai dia menyelesaikan tugasnya dan kembali ke kotanya.


readmore>> »»  

Oral sex dengan kakak ipar

Isteriku mengajak aku pulang ke kampungnya pada hujung minggu itu. Aku mengikut tanpa masalah. Anak aku juga suka bila diberitahu kami akan pulang ke kampung.

Dalam perjalanan, handphone isteriku tiba-tiba berbunyi. Rupa-rupanya kakak nya memberitahu bahawa dia juga dalam perjalanan pulang ke kampung. Hmm.. bagus ni.. Bisik aku dalam hati. Kakak ipar ku itu bekerja sebagai leader di sebuah kilang. Suaminya bekerja sebagai pemandu lori buah. Mereka dikurniakan 5 orang cahaya mata. Aku lebih gemar memanggilnya dengan gelaran kak Iza.

Aku gembira kerana aku akan dapat menatap wajahnya puas-puas buat melancap atau buat modal bayangan time main dengan isteriku nanti. Sebenarnya aku cuma stim kat muka dia je. Mungkin pasal muka dia lebih kurang dengan pornstar terkenal yang aku suka tu, Ava Devine. Dengan bibirnya yang bak delima, aku kadang-kadang melancap sendiri bila teringatkan dia sambil bayangkan aku pancut kat muka dia. Body memang out! body bini aku lagi solid dan menggiurkan. Tapi biasalah lelaki, memang tak pernah puas. Aku langsung tak ada terniat untuk melakukan peromenan atau senang kata persetubuhan dengan Kak Iza, sebab aku kureng berselera dengan tubuhnya yang melidi tu. Cuma bab muka dia je yang aku gila sakan.

Sampai kat rumah mertua, aku nampak keluarga kak Iza dah sedia tercongok depan tv sambil minum petang bersama mertua aku. Aku pun masuk, bersalaman dengan diaorang. Pas tu aku lepak kat satu sudut menonton tv tanpa mengganggu mereka yang sedang rancak berborak. Tetapi itu wayang je beb, sebenarnya mata aku syok tengok muka kakak ipar aku tu bila ada peluang. Rasa nak bagi dia blowjob kat situ jugak.

Aku sangkakan panas hingga ke petang, rupanya hujan hingga ke subuh. ye begitulah kerakusan nafsu aku. Dengan nafsu yang mengaum, aku rekod setiap inci muka kak Iza dalam memory kad otak aku. Hasilnya, berbuih mulut bini aku memblowjob batang aku sampai dia rasa pelik kenapa aku lain macam pada malamnya. Kemudian aku henjut lagi bini aku dalam gelap-gelap kat bilik dia sambil bayangkan aku henjut kak Iza.

Bini aku yang dah kenyang kena henjut tu terus tertidur tak ingat dunia. Aku ni pulak, rasa macam tak puas lagi. Dah lah hujan malam tu, nak buat second round tak sampai hati pulak tengok bini aku yang dah terkangkang dalam selimut. Aku ambik keputusan untuk ke anjung rumah, nak hisap rokok sambil layan suasana hujan kat luar.

Semasa aku melalui kawasan ruangan menonton tv, aku lihat keluarga kakak iparku sedang syok tidur. Masing-masing berselimut sakan, maklumlah, hujan. Memang syok kalau tidur. Tapi yang aku ni pulak, tak boleh tidur. Kelihatan kak Iza juga dah tidur time tu.

Kat kerusi malas di anjung rumah banglo mertua ku, aku merokok sambil menikmati hembusan udara hujan yang lebat itu. Tapi sedang syok layan blues, tetiba bahu aku kena tepuk dari belakang. Aku toleh, rupa-rupanya kak Iza tercegat berdiri belakang aku.

�Anas tak tidur lagi ke?�

�Tak boleh tidur la kak, tadi saya nampak akak dah tidur..�

�Belom, tadi tu tidur-tidur ayam je. Akak terus bangun nampak kelibat Anas ke anjung.�

�Abang Azmi (suami kak Iza) dan anak-anak akak dah tidur?�

�Bukan setakat tidur, dah berdengkur dah..�

Kami diam seketika. Kemudian kak Iza duduk di kerusi malas yang satu lagi yang berada di hadapan ku.

�Anas, akak mintak tolong sikit boleh?�

�Apa dia kak?�

�Akak harap anas boleh tolong akak. Akak memang harappp sangat. �

�Ehh.. macam penting sangat je kak. Apa dia, cakaplah kak?�

Kak Iza diam seketika, mungkin dia mengatur ayat kot.

�Camni, 5 tahun lepas, akak buat loan. Akak cagarkan dengan geran tanah abah kat estet tu. Tapi sejak tengah tahun ni, akak tak de OT lah Anas, jadi memang akak bermasalah nak bayar balik loan tu��

�Dah berapa bulan kak Iza dah sangkut dengan bank?�

�Masuk bulan ni dah 6 bulan akak tak bayar ansuran. Bank dah hantar surat dah, dia kata kalau tak bayar jugak dalam bulan ni, dia akan gadaikan geran tanah tu.�

�Aisey, masalah berat tu,abah tahu tak akak cagarkan geran tanah tu kat bank?�

�Abah tak tahu. Kalu Abah tahu, mesti dia tak bagi punya.�

�Abang Azmi tahu tak?�

�Dia tahu akak ambik loan, tapi dia tak tahu akak cagar geran tanah tu.�

Aku faham dia memang dilanda masalah yang amat berat. Geran tanah tu memang bapak mertua aku beri kepercayaan kat kak Iza untuk pegang dan jaga. Kalau dia tahu geran tu di buat cagaran loan, pastu nak kena gadai bank pulak, mampos teruk kak Iza kena nanti.

�Saya kena bincang dengan Siti dulu kak pasal ni, sebab nilainya banyak tu..�

�Anas.. pleasee.. jangan bagi tahu sesiapa.. teruk akak nanti. Akak cuma nak Anas sorang je yang tahu sebab tulah akak harap sangat Anas bolehhh sangat tolong akak. Pleaseeee�

Aku terdiam seketika. Merenungkan nasib Kak Iza yang dilanda konflik kewangan tu. Aku boleh tolong tapi pasti ada risiko dengan bengkel aku tu nanti. Yelah bukan sikit-sikit dia buat loan tu.

�Anas.. Tolonglah akak� akak rela buat apa sahaja yang Anas nak.. �

�Termasuk main dengan saya?��� aku segera menyampuk.

Kak Iza terdiam sekejap. Matanya tertumpu ke lantai. Suasana sepi giler masa tu. Cuma bunyi hujan yang mengisi suasana malam tu. Kemudian kak Iza memandang muka aku.

�Anas pleaseee� janganlah macam tu. Akak ni kan akak ipar Anas. Janganlah sampai Anas nak ambil kesempatan pulak.. Please Anasss.. tolong akak ye..�

�Kak Iza, saya bukan tak boleh tolong kak, tapi bengkel saya tu memang perlukan cash hari-hari tau tak. Nak beli sparepart, minyak pulak dah naik harga sekarang, bil-bil, gaji pekerja, hutang bank pun tak settle lagi tu. Boleh saya tolong akak tapi risiko saya tinggi kak..�

�Anas� kalau betul akak main dengan Anas, boleh ke Anas tolong Akak..?� sayu je suara dia.

�Masalahnya, nak ke akak main dengan saya untuk saya tolong akak?�

�Mmmm� cara lain boleh tak Anas.. Main tu dosanya besar sangat lah� �

�Kalau hisap saya punya boleh kak?�

Kak Iza diam sekejap. Matanya kembali tertumpu ke lantai. Mungkin dia sedang mempertimbangkan tawaran aku. kemudian dia berkata,

� Ok, tapi Anas janji Anas mesti tolong Akak. Jangan main-mainkan Akak tau.. �

�Ok, saya janji akan tolong akak, tapi ada syaratnya..�

�Ada syarat ke? bukan ke akak dah setuju nak hisap Anas punya..�

�Syarat mesti ada.. kalau tak saya tak boleh cari makan kak.. Saya ni pun keji macam bank jugak.. hehehe..� Aku ketawa kecil macam penyangak dalam filem tamil.

�Apa dia Anas�

�Saya akan bayarkan hutang akak tu tapi bukan sekali gus. Tapi bulan demi bulan. Bulan ni saya akan bayarkan hutang untuk dua bulan terdahulu. Bulan depan untuk dua bulan kemudian dan seterusnya sampai cukup 6 bulan hutang akak yang tergantung dengan bank. Walau macammana pun, akak mesti bayar ansuran setiap bulan, kalau tak, hutang akak akan jadi semakin banyak dan semakin lama lah akak kena hisap saya punya��

�Boleh ke macam tu?�

�Boleh ke tak boleh, mesti boleh punya. Yang penting hutang settle. Isnin ni kita sama-sama pergi bank dan buat perbincangan untuk bayar balik hutang tertunggak macam yang saya cakap tadi supaya bank tak gadaikan geran tu��

�Ok� akak faham, tapi selama hutang akak belum habis selama tu ke akak kena hisap Anas punya?�

�Akak memang bijak dan cepat faham. Memang betul. Tak kira kat mana, bila dan macam mana sekali pun, bila saya nak akak mesti bagi. Boleh kak?�

�Ye�� kata kak Iza sambil mengangguk antara mahu dan terpaksa.

�Ok, untuk menguji keikhlasan akak, kita buat sekarang.�

�Sekarang? Nanti kalau dia orang terjaga camne?�

�Akak jangan risaulah. Jom masuk dalam�

Kak Iza mengikut aku menuju ke ruang tamu. Aku berdiri di sebelah almari perhiasan, sementara Kak Iza pula seperti sudah tahu apa yang perlu dibuat, terus berlutut di hadapan ku. Cahaya dari lampu dapur sedikit sebanyak membantu aku untuk melihat muka Kak Iza yang dah ready nak hisap konek aku tu.

Aku lorotkan seluar pendek aku ke peha. Terpacaklah konek aku yang dah keras terpacak menghala ke muka kak Iza. KakIza terus menggenggam lembut batang aku. Ohhh.. lembutnya tangan mak orang nih� bisik aku dalam hati. tanpa membuang masa, kak Iza terus menghisap konek aku. Kepala konek aku yang kembang berkilat itu dihisap lembut. Lidahnya bermain-main di kepala takuk ku. Bibirnya yang agak tebal itu kelihatan melenyapkan kepala konekku di dalam mulutnya. Dari gaya hisapannya, jelas bahawa dia memang mahir menghisap konek lelaki. Pasti konek abang Azmi yang bertuah dihisap oleh kak Iza yang seksi mukanya itu. Sekali-sekali aku mengintai di hall dan kelihatansuasana sepi dan aman. Pasti semua orang syok tidur kat atas. Manakala aku pula kat ruang tamu kat bawah ni, tengah syok kena kolom kak Iza, kakak iparku.

Hisapan kak Iza semakin dalam. Kini separuh konek ku telah terbenam di dalam mulutnya yang hangat itu. Sesekali aku terasa kesedapan yang amat sangat bila kepala konek ku bergesel dengan lelangit mulut kak Iza. Sambil dia menghisap konekku, aku membelai rambutnya. Terasa juga kesian tengok kakak ipar ku itu terpaksa menggadai maruahnya dengan menghisap kemaluan adik iparnya semata-mata ingin melepaskan diri dari bebanan hutang. Namun dia tiada cara lain nampaknya. Dia buntu. Hanya dengan menjadi hamba nafsu adik iparnya sahajalah dia dapat melepaskan diri. Bagi aku pula, memang dah pucuk dicita ulam mendatang. Jahatkan aku ni. Hehehe.. Sekurang-kurangnya aku tak gadai seluruh tubuhnya. Ok what..

Air liur kak Iza dah berciciran ke lantai. Malah banyak juga yang dah mengalir ke telur aku. Memang syok gila kena hisap. Hisapan kak Iza di konek ku semakin laju. Dia sengaja ingin aku pancut cepat. Aku semakin sampai ke kemuncak. Konek ku semakin berkembang keras di dalam mulutnya. Bibirnya yang agak tebal itu semakin mencengkam konek ku yang licin berlumuran dengan air liur dan air mazi ku. Lidahnya terus menguli konek ku di dalam mulutnya. Aku tak dapat bertahan lagi. Akhirnya, air mani ku terus meledak memancut di dalam mulut kak Iza.

Kak Iza menghentikan hisapannya. Dia membiarkan aku menikmati sensasi kenikmatan memuntahkan air mani ku sedas dua di dalam mulutnya sambil lidahnya menguli seolah menyaluti dan mencampur adukkan air mani ku dan air liurnya ke konek ku yang terendam separuh di mulutnya. Kemudian dengan pantas dia keluarkan konek ku dan di lancapkan konek ku, membuatkan pancutan air mani ku yang semakin lemah (namun masih banyak) menyimbah wajahnya yang aku berahikan selama ini. Aku layan stim dengan menikmati konek ku yang sedang rancak terpancut itu dilancapkan oleh kakak ipar ku yang mana wajahnya yang aku gilakan itu telah dicemari oleh air mani adik iparnya, suami adiknya sendiri. Dapat ku lihat, wajah kak Iza yang ku gilakan atau lebih best aku sebut, yang aku stim gila selama ini berselaput dengan air mani ku yang berlendir pekat. Kelihatan juga matanya yang berkaca dan sekaligus genangan air matanya berciciran ke pipinya. Tangannya terus melancapkan konek ku bagai ingin memastikan tiada lagi air mani yang tertinggal untuknya.

Itulah kali pertama hubungan sulit oral antara aku dengan kakak iparku, kak Iza. Ianya berlanjutan hingga kini walau pun sekarang sudah tiada lagi hutangnya dengan bank. Walau bagaimana pun, aku tidak pernah walau sekali pun menyetubuhinya. Malah dia juga tidak pernah meminta untuk disetubuhi. Hanya oral seks yang mana dahulunya hanya menjadi cagaran bayaran hutangnya, kini ianya menjadi kemestian kepada kami apabila ada peluang.

Aku akui, bahawa kami memang sudah ketagih. Samada ketagihannya menghisap konek ku yang memancut di dalam mulutnya atau ketagihan ku memancutkan air mani memenuhi mulutnya, ianya sama saja. Aku tak kisah korang nak kata kami ni gila atau apa sekali pun, yang penting kami enjoy dengan cara kami, asalkan tak kantoi sudah lah. Kami bebas melakukannya di mana sahaja yang kami suka, asalkan line clear. Tak kira, dalam kereta, di dapur, di pejabat bengkel ku mahu pun di ruang tamu rumahnya ketika suaminya melayan anak-anaknya bermain di luar rumah. Namun advantage keuntungan adalah lebih kepadanya kerana, aku hanya menikmatinya tanpa had sahaja, tetapi kak Iza pula, dia menikmati konek dan air mani ku tanpa had dan selain itu, RM250 aku beri setiap bulan sebagai elaun dia menyundalkan mulut dan mukanya untuk ku. Ohh kak Iza� Kau lah pelacur oral seks ku, kau lah kakak ipar ku� Sekian�
"
Pandangan ahli

readmore>> »»  

Ros - Ipar ku yg berahi

Kisah ini terjadi pada minggu lepas hari khamis. Aku pegi kerumah adik iparku untuk menjemput dia datang ke rumahku kerana di bercuti pada hari jumaat sampai isnin. Adik iparku tinggal dengan sepupunya di sebuah rumah sewa. Mereka menyewa sebuah rumah di taman perumahan di utara semenanjung. Cuma mereka berdua saja yang menyewa rumah itu. Adik iparku bernama Zarina sementara sepupunya pula bernama Rosnah. Aku cuma memanggil adik iparku ina saja. Sepupunya pula kupanggil Ros. Adik iparku bekerja sebagai kerani di sebuah bank yang agak terkenal di utara. Sementara Ros bekerja kilang. Adik iparku cuma dua berdik saja. Isteriku yang sulong dan dia yang bongsu. jadi dia adalah anak kesayangan keluarga. Bila hari cuti dia banyak menghabiskan masa bersama keluarga kami.

Sementara sepupunya Rosnah pula berasal dari negeri pahang. Ros berhijrah kesini untuk bekerja .Ros mempunyai kulit yang agak putih. Badan Ros rendah saja. Lebih kurang 5 kaki je. bentuk badah cantik juga. Aku mengangap Ros seperti adik aku sendiri. Rosnah juga seorang yang lemah lembut. Semasa Ros baru datang ke sini dia tinggal dengan aku. Kerana belum mendapat rumah sewa. Dia tinggal dengan aku lebih kurang 5 bulan. Aku cuma tinggal bertiga saja . Adik iparku pula sering tinggal dengan kami kerana dia selalu bermain dengan anak saudaranya.

Adik iparku pula sangat manja dengan aku sebab aku adalah keluarga lelaki tunggal dalam keluarganya . Sebab mereka cuma dua beradik sahaja. Jadi aku menjaganya seperti adik aku sendiri. Ros juga seronok tinggal dengan aku kerana aku selalu membawa mereka pergi berkelah apabila ada hari cuti. Aku selalu membawa mereka berkelah di kawasan air terjun. boleh mandi sambil makan makan. Aku sampai dirumah Ros lebih kurang pukul 12.30 tengahari. Sampai saja kat kawasan rumah . Aku pun memanjat tangga ketingkat empat. kerana rumah mereka terletak di tinggat empat .Sampai saja dimuka pintu rumah aku pun memberi salam. Ros menjawab salam dari dalam rumah. Kemudian Ros membuka pintu rumah. aku pun masuk kedalam. Aku bertanya Ros sudah makan ke belum. Dia memjawab belum makan. Aku mengajak dia keluar makan dikedai berhampiran. Ros setuju saja pelawaan aku. Aku membawa Ros makan di kedai nasi kandar KK dekat sini. selesai makan Ros mengajak aku balik kerumah . Ros bekerja shif petang .

Sampai saja kat rumah Ros dan aku bersembang seketika sambil menonton tv. Aku berbaring di ruang tamu saja kerana rumah Ros belum ada sofa lagi. Sambil aku menonton tv ,Ros pula sibuk mengemas pakaian kerjanya. Dia berada dalam biliknya. Lebih kuran pukul 2.00 petang dia memberitahu aku bahawa dia hendak mandi sekejap. Bas menjemput
Ros pukul 2.30 petang. Selepas mandi Ros terus masuk kebiliknya untuk bersiap. Aku lihat Ros masuk bilik tanpa menutup pintu biliknya pun. Ros pula sudah tidak malu lagi dengan aku. Dia sudah biasa dengan aku. Dulu pun dia tinggal dengan aku gak. Aku dapat menghidu bau bedak yang dia pakai.

Seketika kemudian Ros keluar dari biliknya dengan berpakaian baju kurung moden dan berkain belah belakang. Wangian perfum yang Ros pakai menusuk kedalam lubang hidungku. Hari ini aku tengok Ros terlalu cantik dengan pakaian itu. "Amboi cantinya Ros hari ni" tegurku. "Ye ke ?" tanya Ros "Baju ke ? Ros yang cantik" guraunya lagi
"Baju tu memang cantik!!" "Tapi bila Ros pakai lagi cantik" gurauku lagi Kemudian Ros memusingkan badannya supaya aku dapat melihat kesemua bahagian tubuhnya. Kemudian Ros berjalan kedepan sambil memusing kembali kehadapan aku. Aku masih berbaring lagi. Kemudian Ros terus pergi kedapur. Aku dapat mendengar Ros membuat minuman kepada aku. Seketika kemudian Ros datang kedepan dengan air teh seta sedikit biskut. "Jemput le minum" pelawa Ros. Aku mengalihkan kedudukan aku. Aku bersila dilantai untuk menikmati minuman yang Ros buat istimewa untukku. Aku bersandar kedinding sambil menonton tv lagi . Aku juga dapat melihat Ros sedang bersolek didalam biliknya. Sambil duduk di meja solek Ros dapat melihat aku dengan jelas melalui cermin soleknya. Aku dapat lihat Ros menyapu bedak keseluruh mukanya. Aku lihat Ros mengambil lipstik kemudian menyapu kebibirnya. warna lipstik yang Ros pakai itu mebuat aku begitu asyik melihat gelagat Ros. Ros memakai lipstik berwarna pink. Aku memang suka melihat wanita yang berlipstik pink. Aku terus memerhati gelagat Ros. Ros dari tadi asyik bersolek perasan yang aku melihatnya. Kemudian Ros berpaling kearah ku sambil melemparkan senyuman yang paling manis. Aku pun membalas kembali senyumannya. kemudian Ros mengambil bedak sambil menyapu keseluruh mukanya dan meratakan. bau bedak itu yang membuat aku tak tahan. Bedak kegemaran aku .Bedak safi. selasai bersolek Ros bangun mengambil kain tudungnya kemudian meletakkan keatas kepalanya.

Ros membetulkan tudungnya itu. Aku nampak Ros bertudung kepala yang sedondon dengan bajunya. Ros mengenakan baju biru. Nampak lebih ayu Ros hari ini.Apabila selesai segalanya Ros pun keluar keruang tamu dan duduk di sebelah aku. Aku pun memberi ruang untuk Ros. Aku lihat ditangan Ros ada sebotol krim pelembab. Ros membuka tudung botol itu sambil memicitkan pelembab itu ke tapak tangannya. Kemudian Ros menggosok krim ke bahagian sikunya. Ros terus menggosok krim kebahagian kakinya pula. Aku cuma melihat gelagat Ros. Semasa itu aku tak ingat untuk bersetubuh dengan Ros lagi. Aku sudah biasa dengan Ros. Ros pula tidak ada perasaan malu lagi . Selesai saja Ros bangun untuk menyimpan kembali krimnya itu.

Ros duduk kembali ketempanya.sambil berborak. Aku bertanya Ros "Bas datang pukul berapa" "Pukul 2.30 petang" jawabnya Jam menunjukkan pukul 2.25 petang. "Kenapa tak turun lagi"tanya ku lagi "Ok lah abang Zam Ros pergi dulu" "Kirim salam kak ani ye" Sambung Ros. Kemudia Ros bangun dan aku pun bangun bersama Ros untuk menghantarnya kemuka pintu. Seperti biasa Ros menghulurkan tanganya untuk bersalaman dengan aku. Aku pun menghulur tangan aku. Kelembutan tangan Ros dan wangian perfum yang Ros pakai membuatkan nafsu aku
bergelora. Tapi aku buat biasa saja . Aku tak mahu Ros mengetahuinya. Lagi pun aku malu dengan Ros. Kerana aku mengangap Ros seperti adik aku gak. Selepas bersalaman dengan Ros. Tiba-tiba Ros mencium pipi aku. Aku pun membalas ciumannya kembali. Aku mencium pipi Ros yang gebu itu sambil menyedutnya dalam-dalam. Kemudian aku mencium sebelah lagi pipi Ros. Ros terdiam seketika sambil matanya memejam. Mungkin untuk menghayati cuiman aku itu. Kemudian Ros membalas lagi ciumannya. Dia mencium aku dengan kuat sekali. Pipiku kini dipenuhi
bekas lipstik Ros. Aku pun terus menghisap lidah Ros. Aku memeluk Ros dengan kuat sekali. "EEeeemmmm" Ros mengengeluh. Ros membalas hisapan lidah aku.

Kemudian aku mencium mata Ros sambil menghisap. Ros membiar sahaja perlakuanku itu. Aku meneruskan lagi perananku mencium pipi Ros sambil berkata dengan suara yang paling romantik "EEeeemmmmmmm wanginya saaayaang Ros" Ros cuma tersenyum. Kemudian aku pun bersuara " Bas nak sampai dah" "Kejap lagi Ros turun le"
"Abang jangan risau" balas Ros "Kalau lambat abang tolong le hantarkan Ros pergi keje" sambung Ros lagi "Boleh Ros punya pasal abang sanggup lakukan apa saja" jawabku Kemudian aku melepaskan pelukkan aku.

Aku lihat Ros gembira sangat. Dia tersenyum seorang diri. "Abaang....."Ros tunduk melihat lantai "Kenapa Ros" aku kehairanan Sambil mengangkat muka Ros. Aku merenung kedalam mata Ros. "Ros sayang abang" terkeluar suara tersekat dari mulut Ros "Tapi abang sudah menjadi kepunyaan orang" sambungya lagi" "Abang dah jadi hak kak ani"
"Bila pertama kali Ros lihat abang Ros dah jatuh cinta dengan abang" "Lebih lebih lagi sikap abang yang mengambil berat terhadap diri Ros" sambung Ros lagi "Abang pun sayangkan Ros" balasku

Ros kemudian membalas ciuman kedalam mulut aku. Aku pun menghisap lidah Ros sambil menyedut-nyedutnya. Sambil memeluk aku mencium dahi Ros. Kemudian aku mencium pipi Ros sambil menghisap. Ros memejamkan
matanya sambil menghayati perlakuanku ini. Aku terus memeluk Ros sambil menghisap lidah Ros. Sementara tangan aku meraba-raba kain tudung yang Ros pakai. Aku pun membuka kain tudung Ros. aku menanggalkan klip yang menjadi penghalang itu. kini tudung Ros telah pun tertanggal. Aku mengusap-usap kepala Ros sambil bermain rambut
Ros yang panjang itu. Panjang rambut Ros sampai ke pinggangnya. Sambil itu aku terus menghisap leher Ros yang gebu itu. Ros membiarkan saja perlakuan ku itu.

Aku memusingkan badan Ros supaya dia mengadap kedepan sambil aku memeluknya dari belakang. Aku mencium leher Ros dari belakang sambil itu tanganku mula merayap-rayap mencari-cari buah dada Ros yang tengah mekar itu. kini aku meramas-ramas gunung kebanggaan Ros. Ros mengeluh "Aaaaahhhhhh aaabangggg" Tanganku terus meramas-ramas buah dada Ros dari luar bajunya. sambil mulutku tak henti memuji Ros. Aku mencuim tengkok Ros
"Eeemmmm wanginya" Aku mengusap rambut Ros yang panjang mengurai itu. Tanganku pula terus meramas-ramas buah dada Ros. Kemudian aku memeluk perus Ros sambil meraba-raba perutnya. Terasa kelembutan badan Ros dan kewangianya itu tak dapat ku tahan lagi .Batang kemaluanku yang sedang mengeras terasa macam hendak terkeluar dari dalam seluar. Aku meramas lagi buah dada Ros dan meniup telinga Ros sambil menggigitnya. "Aaaawwwwww abang geliiiii " Ros merengek Ros menolak mukaku. Aku meneruskan lagi penerokaanku. Tanganku merayap disekitar pinggang Ros dan mencari butang kain Ros . Aku membuka butang kain Ros dan melondehkan kain Ros. Ros membiarkan saja perlakuanku itu. Kini Ros cuma memakai baju sahaja. Aku masih berseluar panjang dan berbaju T.
Aku memasukkan tanganku kedalam baju Ros melalui bawah. Aku meraba-raba sekitar perut Ros kemudian naik keatas lagi mencari gunung kebanggan Ros. Tangan aku berjumpa dengan gunung kebanggaan Ros yang sedang mekar itu. Aku memasukkan tanganku kedalam coli Ros. Kini tanganku sudah dapat meneroka keseluruh gunung kebanggaan Ros itu. Aku menggentel puting buah dada Ros yang kenyal itu. Aaaaaaahhhhhh......keluh Ros "Abanggggg...eeeemmmmm" keluh Ros lagi Mulutku pula tak henti "Eeeeeeemmmmm wanginya Ros" "Eeeeeeemmmmmmm lembutnya buah dada sayang" "Eeeeeeemmmmm lembutnya pipi sayang" "Aaaaaaahhhhhh sedapnya" bibir ku sentiasa memuji kecantikan Ros Aku buat demikian supaya dapat menguasai jiwa Ros. "Aaabangggg" balas Ros

Aku mengakat Ros supaya duduk dibawah. Aku besandar kedinding. Ros pula aku angkat dia supaya duduk diatas aku. Aku melunjurkan kaki. Kini Ros bersedia memberi ruang untuk aku menerokai tubuhnya yang belum pernah di sentuh oleh lelaki . Aku meneruskan kerja aku untuk memuaskan nafsu gelora yang paling menghairahkan itu. Ros memejamkan matanya untuk menghayati kenikmatan bersetubuh. Aku memasukkan kembali tanganku kedalam coli Ros sambil meramas-ramas buah dada Ros. Aku lihat muka Ros kemerahan menahan kenikmatan ramasan tanganku yang agak kasar itu. Aku dan Ros meneruskan menonton tv sambil beromen. Aku bercumbu rayu dengan Ros dalam keadaan cuaca yang amat terang. Aku menolak Ros ketepi sambil aku berdiri untuk membuang seluarku. Aku dah rasa batang kemaluan macam nak pecah kerana seluarku ketat sangat. Kini aku cuma bebaju saja sementara Ros pun berbaju juga.
Kain yang Ros pakai tadi berselerakkan diatas lantai. Aku mengutip kain Ros dan seluar aku .Aku letakkan ketepi dinding rumah Ros. Aku memasukkan tanganku kedalam baju Ros dam meramas gunung Ros. Ros mengeliat kegelian. Tangan kananku merayap kebelakang badan Ros untuk mencari kancing coli Ros. Aku mencari agak lama juga tapi tak jumpa. "Kat depan ni le sayang" Ros dapat tahu apa yang aku nak buat. "Oooooo kat depan ke ?" jawabku Aku memeluk Ros sambil membuka butang coli Ros. Ros juga membantu aku untuk membogelnya. Ros memberi penuh komitmentnya. Coli Ros aku ambil dan menciumnya "Eeeeeeemmmmm wanginya coli sayang" Ros hanya tersenyum dengan gelagat aku. Aku kini terus meramas-ramas buah dada Ros yang sudah mengeras itu. Aku mengentel puting buah dada Ros.

Aku tak dapat menahan nafsu sex aku. Aku cuba membuka baju kurung yang Ros pakai. Tapi dihalang oleh Ros
"Tak nak le abang" rayu Ros "Ros malu le" sambung Ros lagi "Ok abang buka baju dulu" suaraku "Buka le baju tu" gesa Ros Aku bangun lagi dan mebuka baju ku . Aku juga tanggalkan seluar dalamku. Maka tersembulah batang kemaluan ku yang sederhana besar itu. "Wwwooooawww" terpacul perkataan itu dari mulut Ros. Sambil berdiri aku memegang kemaluanku itu sambil menghalakan kearah Ros. Aku membiarkan Ros menikmati tubuh seorang lelaki. Batang kemaluan aku tidaklah sebesar mana saiz biasa saja. Saiz orang asia. Tak lah macam orang lain yang selalu kita baca kisah mereka .Batang kemaluan sampai lapan inci besar botol kicap pula. Tapi batang kemaluanku sedang saja. Aku tengok Ros seperti tak puas menatap batang kemaluan aku "Ros pernah tengok ke?" tanya ku "Ini baru pertama kali tengok" balas Ros "Besar ye" sambung Ros lagi" "Takut le" sambung Ros "Nak takut apa bukan besi " balasku pula

Aku duduk disebelah Ros dam mengambil tangan Ros untuk memegang kemaluanku. Ros menurut saja . Ros memegang kemaluan sambil memicit-micitnya. Aku mengeraskan batang kemaluanku itu. kemudian aku menyelak baju kurung Ros. Kini Ros dah tiada perasaan malu lagi. Ros membiarkan saja aku membukakan bajunya. Wwooww ternampaklah seluar dalam yang Ros pakai. Aku terlalu ghairah sangat apabila ternampak saja seluar dalam Ros yang bewarna merah itu. Aku memang pantang tengok underware merah nafsu aku bergelora. Isteriku kalau dia nak buat sex dengan aku mesti pakai coli merah dan seluar dalam merah. Dia tak payah bagitau nak sex. Aku terus meraba-raba buah dada Ros sambil itu menurunkan tanganku kedaerah perut Ros. Aku memusingkan tapak tanganku keatas perut Ros. Aku meneroka lagi tangan ku mencari seluar dalam Ros. Aku menarik seluar dalam Ros untuk membukanya. Ros pula membaringkan badannya serta mengangkatkan punggungnya untuk memudahkan aku melucutkan seluar dalamnya. Kini aku dan Ros bergogel tanpa seurat benang pun. Aku bangun mengambil dua biji bantal untuk melapik kepala Ros. Ros berbaring sambil membiarkan aku terus meneroka kesemua daerah laranganya.

Aku pun berbaring ditepi Ros sambil mencium muka Ros . Aku menghisap lidah Ros sambil tanganku pula terus meramas-ramas buah dada Ros. Aku gunakan kedua tanganku itu untuk memuaskan nafsu Ros yang semakin memuncak itu. Aku mencium leher Ros sambil menghisapnya. Kemudian aku mengigit telinga Ros. Ros menggelengkan kepalanya kerana terlalu geli. "Sabar sayang eeeemmmmm..."pujuk ku Ros terpaksa menahan kegelian itu. Aku terus memamah telinga Ros. Aku dapat lihat bulu roma Ros meremang. "Aaaaaawwwww" Ros ghairah
"Hhhhaaaaaaaaaa...." Ros melepaskan suaranya Aku meneruskan lagi kerja aku . Aku menjilat dada Ros dan menghisap
buah dada mengkal Ros itu. Jilatan demi jilatan aku lakukan. Ros mengangkat kat dadanya kerana terlalu stim menerima rangsangan aku . Aku meramas-ramas buah dada Ros berselang seli dengan hisapan dan nyonyotan. Aku cuba memberi yang terbaik untuk Ros. Ros pula mengangkatkan dadanya untuk memberi peluang kepadaku. Tiba-tiba badan Ros menggeletar menahan ghairah dari ransanganku. Ros melentikkan bandanya "Aaabbbngggggg....."
"Hhhhhaaaaaaaaa......" Aku dapat melihat Ros sudah mencapai orgasma yang pertamanya. Orgasma buah dada yang baru Ros rasakan itu membuatkan aku tersenyum bangga. Ros merasa lega selepas beralakunya orgasma yang pertama tadi.

Aku menerus kan penerokaan aku lagi. aku menghisap perus Ros yang putih lagi gebu itu. Aku memandang kecelah kangkang Ros .Ternampaklah lurah keramat Ros yang dipenuhi bulu kehitaman itu. Bulu cipap Ros tak berapa banyak sangat. Aku meneroka kebawah lagi dengan lidahku ini. Sampai saja kekawasan lurah cipap Ros aku terus saja mencium cipap Ros dengan kuat sekali. "Eeeemmmm wanginya " aku menjerit agak kuat "Eeeeeemmmmmm lembutnyaaaaa.." "Eeeeeemmmmmmm cantiknya cipap sayang" suaraku lagi Aku sengaja buat begitu supaya Ros dapat merasakan bahawa aku sayang kepadanya. Aku menjilat paha Ros yang gebu itu. Aku menjilat paha kiri Ros kemudian menuruni kelututnya. Aku terus menjilat betis Ros sambil mengigit lembut. Ros menjadi tak tentu arah. Aku meneruskan lagi tugasku memenuhi ghairah Ros. Aku mencium tapak kaki kiri Ros dan menghisap jari kaki Ros. Aku menjilat telapak kaki Ros yang putih kemerahan. Ros diam tanpa berkata apa-apa. Aku menghisap ibu jari kaki Ros sambil tanganku menggosok betis Ros. Kemudian aku mengubah posisi. Kali ini kaki kanan Ros pula menjadi serangan rangsangan ku. Aku menjilat betis kakan Ros dan menaikkan mulutku sampai kepahanya. Aku mengigit paha kanan Ros yang gebu itu dengan perlahan sambil menghisapnya.

Kini giliran aku memuaskan dan merangsangkan cipap gebu Ros pula. Aku lihat air mazi Ros telah keluar dengan banyaknya. Aku mengusap-usap cipap Ros dengan tanganku sambil mencari biji kelentitnya. Ros mengepitkan pahanya kerana terlalu stim dengan rangsananku. Aku mencium cipap Ros. Bau air mazi Ros membuatkan Aku tak dapat menahan untuk memasukkan batang kemaluanku kedalam cipapnya. Batang kemaluan ku pula berdenyut-denyut meminta untuk dimasukkan kedalam cipap Ros yang masih dara itu. Aku mengeselkan jariku dengan biji kelentit Ros. Ros mengankat punggunya menahan perlakuanku itu. Aku memasukkan mukaku kecelah kangkang Ros. Aku menjilat-jilat cipapnya. Aku mengunakan lidahku untuk menjilat biji kelentit Ros. Ros mengapitkan kepalaku dengan kuat. Aku hampir lemas dengan perlakuan Ros itu. Aku terus menjilat cipap Ros. Aku menjilat biji kelentit Ros. Ros mengangkat
punggungnya. Aku melipatkan kaki Ros dan menolak supaya luas kangkang Ros. Kini senanglah aku untuk menjilat cipap Ros. Aku jilat lagi. Ros mengepitkan lagi kepalaku. Aku jilat lagi , Ros menarik rambutku. Aku jilat lagi , Ros mengangkat bontotnya. Aku jilat lagi biji kelentit Ros. Ros mengerang keghairahan Ros mengepitkan kepalaku sambil menarik kuat rambutku dan mengangkatkan bontotnya. Badan Ros mengeletar kuat menahan getaran orgasma. Cipap Ros mengemut-ngemut dan air mazi Ros terus keluar melimpahi celah kangkangnya. Lidahku masih menjilat biji kelentit Ros. Badan Ros menjadi kejang seketika. Kini Ros sudah mencapai orgasma yang kedua.

Aku membiarkan Ros menikmati getaran orgasma itu seketika. Ros perlahan-lahan membetulkan kakinya. Ros mengusapkan kepalaku. Aku mula menjilat perut Ros sambil itu tanganku pula terus meramas-ramas buah dada Ros. Aku mengigit lembut perut Ros. Aku menjilat perut terus naik keatas. Aku membuat serangan keatas dua gunung kesayangannya. Aku terus mengentelkan puting buah dada Ros. Ros kini asyik menikmati kelazatan itu. Aku terus pula menghisap leher Ros yang gebu itu. Ros bertindak membalas hisapan leherku pula. Aku membiarkan Ros menghisap
leherku. Ros menghisap agak kuat juga. mungkin dia telalu geram. Aku memegang tangan Ros . Aku menggenggam degan kuat tangan Ros sambil meramas-ramas tanganya. Aku ambil tangan Ros dan meletakkan kecelah kangkang aku. Ros memegang kemaluanku dan mengusap kepala kemaluanku. Aku mencium pipi Ros dan terus menghisap mulut Ros. Kami saling hisap menghisapi lidah masing - masing. Tangan Ros pula tak henti-henti memicit dan mengusap batang kemaluanku . Aku membiarkan Ros merasakan batang kemaluanku yang tegang itu. Kini Ros mengacukan batang kemaluanku kearah cipapnya. Aku mengambil alih tugas Ros pula. aku memegang batang kemaluanku dan menggosok keatas biji kelentit Ros. Mulutku pula terus bertaut dengan mulut Ros. Aku mengeselkan kepala kemaluanku dengan biji kelentit Ros. Aku mengeselkan agak lama juga. Ros menghisap mulutku dengan kuat sekali. Terasa lemas diperlakukan oleh Ros yang sangat ghairah ketika itu.

Aku terus menggeselkan kepala kemaluanku dengan biji kelentit Ros. Apabila cipap Ros mengemut-ngemut minta dimasukkan batangku. Aku dengan perlahan menikam batang kemaluanku itu. kepala kemaluanku yang dah basah oleh air mazi Ros memudahkan kemaluanku membenam kedalan lubang cipap Ros. Aku tekan batang kemaluanku perlahan masuk kedalam cipapnya. Cipap Ros menerima jolokan batang kemaluanku dengan senang sekali. "Aaaawwwwww..." Ros menjerit Tak kala aku cuba memecah daranya. Aku berenti seketika batang kemaluanku dalam cipapnya. Aku cuba menekan lagi batang kemaluanku untuk masuk lebih dalam lagi. Aku dapat merasakan koyakan dara Ros. Aku menikam sampai rapat kedasar cipapnya. Aku merendam seketika batang kemaluanku dalam cipap Ros. Kesakitan yang baru Ros rasakan itu semakin hilang apabila aku membiarkan Ros menghisap lidahku. Ros mula menunjukkan semangat untuk meneruskan persetubuhan ini. Aku mula mendayung . Aku menekan batang kemaluanku kemudian menarik keluar. Aku lakukan acara sorong tarik dengan perlahan. aku cuba meneruskan memantat cipap Ros. Tapi aku dihalang oleh lututku . Aku terasa lututku sangat sakit kerana meniarap atas simen lantai rumah Ros. "Jom sayang kita masuk bilik" aku bersuara Ros mengangukkan kepalanya dan meminta aku mendukungnya. Aku mengangkat Ros dan membawa kedalam biliknya dan meletakkan diatas tilamnya. Dalam bilik Ros belum ada katil lagi.

Aku memasukkan batang kemaluanku kedalam lubang cipap Ros dengan senang sekali kerana batang kemaluanku sudah dibasahi oleh air mazi dan darah dara Ros. Aku memasukkan dengan perlahan-lahan. Aku menekan batang kemaluanku masuk sampai kepangkal lubang cipap Ros. Ros memejamkan matanya sambil menikmati nikmat kemasukan batang kemaluanku yang keras itu. Aku menarik kembali batang kemaluanku. Ros mengeluh. Aku menyorong tarik batang kemaluanku sedikit laju. Ros mengikut irama rekaan aku. Ros mengemut-ngemut cipapnya dan menyedut-ngedut batang kemaluanku. Aku terasa sangat nikmat ketika itu. Lubang cipap Ros sangat ketat dan sangat nikmat apabila aku melakukan acara sorong tarik. Ros pula membuka kakinya dengan luas sekali tanpa aku menyuruhnya. Sementara itu mulut kami terus bertaut rapat dan lidah kami saling berperang dengan kenikmatan . Aku terus menyorongkan batang kemaluanku kedalam lubang cipapnya. Aku melakukan aksi dayung sepuluh. Aku mendayung sepuluh kali , kemudian berhenti seketika. Aku menyorong batang kemaluanku dan menariknya dengan laju sebanyak sembilan kali kemudian menikamnya dengan kuat sampai kepala kemaluanku bertemu dengan batu meroyan yang berada didasar cipap Ros serta mengeraskan batang kemaluan dan mengayakkan punggungku kekiri dan kanan. Ros mengerang keghairahan apabila aku perlakukan dayungan sepuluh itu. Ros mengerang Aku buat lagi dayungan itu. Ros mengerang lagi Aku sambung lagi dayungan itu. Semakin kuat Ros mengerang Sambil dia mengangkatkan punggungnya meminta aku melakukan lagi aksi dayungan sepuluh itu.

Lebih kurang lima belas kali aku melakukan dayungan sepuluh itu aku pun mencabut batang kemaluanku dari dalam lubang cipap Ros yang masih meminta untuk disetubuhi. "Kenapa abang berhenti" Ros bertanya kehairanan. "Cukup le" jawab ku ringkas "Aaahaa nak lagi" Ros merengek manja "Dah le abang dah puas" Aku menjawab serius "Nak laaaa" Ros membalas lagi dengan wajah yang sangat stim ketika itu. Aku sengaja buat begitu hanya untuk mengetahui adakah Ros tahu tentang persetubuhan. Ternyata Ros langsung tidak pernah dirangsang ataupun merangsang. "Ok lah sayang nak lagi ke" Aku bertanya Ros "Eehem" ringkas jawapan dari Ros sambil menganggukkan kepalanya. Aku melipat kaki Ros sampai lututnya bertemu buah dadanya. Aku berlutut sambil memasukkan batang kemaluanku yang masih lagi keras itu kedalam lubang cipapnya. Aku tanpa membuang masa terus saja aku menghunuskan batang kemaluanku
kedalam lubang cipap Ros. Aku mendayung dengan laju sekali. Tangan ku pula memegang kaki Ros supaya sentiasa berada dalam posisi itu saja. Sesekali aku meramas - ramas buah dada Ros yang sangat kencang serta bermain-main dengan puting buah dadanya. Mulut Ros tak henti mengerang keghairahan. Aku terus saja mendayung tanpa menghiraukan rengekan yang terkeluar dari mulut Ros. Ros tetap mengemut cipapnya dan membalas aksi aku itu. Aku terasa hendak saja memuntahkan air mani aku itu . Tapi aku cuba menahanya. Apabila terasa air maniku hendak keluar aku cepat-cepat menarik batang kemaluanku keluar dari dalam lubang nikmat kepunyaan Ros. Aku berehat seketika.

Apabila keadaan kembali pulih. Aku menyuruh Ros menukarkan posisinya. "Sayang pusing badan sayang" suaraku
"Macam mana ?" tanya Ros "Sayang merangkak le" balasku lagi Aku terus merodokkan batang kemaluanku dengan laju sekali. Ros mengemut cipapnya takkala aku menikankan batangku itu. Aku melajukan lagi henjutan batang kemaluanku kedalam lubang cipap Ros. Ros melentikkan badannya menahan jolokan demi jolokan dan tikaman demi tikaman dari batang kemaluanku ini. Kemudian aku berhenti seketika kerana aku dapat merasakan bahawa air mani akan keluar kiranya aku terus melakukan jolokan batang kemaluanku. Aku merendamkan seketika batangku sambil itu
tanganku terus merayap keatas buah dada Ros. Aku menghisap serta menjilat leher Ros dari belakang. Ros pula mengemut cipapnya tanpa henti. Aku mula menghisap telinga Ros. Ros terus mengemut cipapnya. Tangan kananku terus menggentel puting buah dada Ros . Tangan kiriku pula sedang mencari biji kelentitnya. Aku terus mengeselkan biji kelentit Ros dengan jariku. Cipap Ros mengemut lagi dan menyedut batangku. Aku memeluk Ros dan terus
merangsangnya . Jari tak henti-henti mengeselkan biji kelentitnya. Ros mengayakkan punggungnya meminta aku terus mendayung batang kemaluanku . Aku diam saja tanpa mengikut kehendaknya. Ros melentikkan badannya sambil memeluk bantal didadanya. Aku dapat rasakan bahawa Ros akan mencapai lagi orgasma. kali ini orgasma yang ketiga. Ros mengayakkan punggungnya dengan laju meminta aku melakukan tugasku. aku melepaskan dakapan dari tubuh Ros. aku memegang pinggangnya dan menarik-narik pinggang Ros. Kini aku dapat menghayunkan batang kemaluanku kedalam cipap Ros tanpa halangan. Ros terus mengerang keghairahan Sambil menggenglengkan kepalanya. Aku teruskan lagi tikaman batangku. Aku lajukan lagi henjutan batangku. Ros terus meracau. aku terus lajukkan lagi henjutan aku . Aku lihat punggung Ros menggeletar menahan nikmat itu. Diikuti dengan getaran tubuh Ros. Cipapnya mengemut-ngemut batang kemaluanku. Tubuh Ros mengeletar seketika. Nafas Ros tercungap-cungap. Aku membiarkan cipap Ros menikmati orgasma itu.

Nafsu Ros kembali reda .Aku masih membiarkan lagi batang kemaluanku merendam dalam cipapnya. Ros memusingkan kepalanya melihat mukaku. Aku terus saja mencium mulutnya dan menghisap lidahnya lagi. "Sayang hebat sekali" pujiku lagi. Ros hanya tersenyum. Manis sungguh senyuman Ros ketika itu. Mungkin lahir dari kepuasan yang dia rasakan tadi. Aku mengeluarkan batang kemaluanku dari dalam cipap Ros. Aku berbaring diatas tilam kepunyaan Ros. Aku membuka kakiku seluas mungkin. Aku memanggil Ros untuk naik keatas badan ku. Ros pun mula mendaki badanku. Ros naik keatas badan ku dan terus saja dia mencium mulutku. aku membalas ciumannya. Kami
menghisap lidah masing-masing seketika. Ros memegang batang kemaluanku yang sedikit lembik itu. Batangku masih terpacak lagi. Ros mengeselkan kepala batang kemaluanku dengan biji kelentitnya. Aku cuma membiarkan saja perlakuan Ros itu. Ros perlahan-lahan memasukkan batang kemaluanku kedalam cipapnya. Senang saja batangku masuk kerana sudah biasa dengan cipap Ros yang licin itu. Ros melakukan gerakan henjutan masuk keluar. Aku cuma perlu mengeraskan saja batang kemaluanku saja. Ros terus menghenjutkan cipapnya. Sesekali Ros membenamkan
batangku hingga kepala kemaluanku kena keatas batu meroyannya. Ketika itu aku terasa sangat geli. Tanganku pula terus memain peranan menggentel buah dadanya. Ros terus menggeselkan kepala kemaluanku dengan batu meroyannya.Aku turut sama membantu Ros menjalankan kerjanya. Aku mengangkatkan punggungku mengikut irama ciptaan Ros itu. Ros meniarap keatas dadaku sambil melajukkan lagi henjutannya. Aku terus membantu Ros dengan melajukan juga henjutan batang kemaluanku. kemudian Ros menghisap lidahku sambil terus menghenjutkan cipapnya. Tak lama kemudian badan Ros serta cipapnya menggeletar lagi. Kali ini lebih lama dari yang tadi . Aku membiarkan Ros manikmati lagi sekali orgasma yang telah melanda tubuhnya. Ros menekan sampai habis keseluruhan batang kemaluanku kedalam lubang cipapnya. Sambil menggesel dasar cipapnya dengan kepala kemaluanku. Kini Ros sudah mencapai orgasma kali keempat. Orgasma yang lebih hebat dari tadi. Aku dapat rasakan cipap Ros menyedut-nyedut batang kemaluanku seolah mahu terus menelannya. Sedutan yang amat kuat itu seakan meminta aku mengemburkan saja air maniku ini. Tapi aku cuba menahannya. Aku seolah mendapat satu semangat baru sehingga dapat menahan air maniku dari keluar. Ini mungkin pertama kali berzina. Atau iblis telah menguasai aku.

Apabila perasaan Ros kembali reda. Dia mengeluarkan batang kemaluanku dari dalam lubang cipapnya. Aku pula memdapat banyak lagi tenaga untuk meneruskan persetubuhan ini kerana aku sudah berehat semasa Ros berada di posisi atas. Aku meminta Ros berbaring dan membuka kakinya seluas yang boleh. Ros membuka kakinya dan memegang kemaluanku. Ros mengambil kemaluanku dan memasukkan kedalam lubang cipapnya. Aku terus
saja menghenjutkan batangku itu. Aku mengorong tarik dengan laju sekali. Muka Ros menjadi kemerahan menahan henjutan demi henjutan yang diterimanya. Aku terus merodokkan batangku kedalam lubang cipapnya. aku tidak memperdulikan Ros lagi. kali ini matlamat aku ialah untuk memuaskan nafsuku pula. Aku menikam sampai kepangkal
cipapnya. Cipap Ros terus mengemut-ngemut. aku pula menghisap lidah Ros. Ros membalas hisapan lidahku. aku menghisap hidung Ros. Aku menyedut pernafasan Ros . Mata Ros menjadi seakan juling menahan kenikmatan itu. Aku dapat rasakan getaran kenikmatan telah melanda jiwaku .Badan Ros juga menerima reaksi yang sama. Getaran dari tubuh badanku itu telah membuat badan Ros mengeletar. Kaki Ros mengejang tangan Ros memelukku dengan lebih kuat. Mulut Ros menghisap kuat lidahku.

Aku melepaskan segera mulut kami yang sedang bertaut itu. Aku memegang pinggang Ros dengan kedua tanganku. Aku terus melajukkan lagi henjutan keluar masuk batangku. Getaran kenikmatan dari tubuh Ros membuatkan aku hendah memuntahkan air maniku masuk kedam rahim Ros. Serentak dengan itu batang kemaluanku memuntahkan air maniku . Terasa memancut-mancut masuk kedalam rahimnya. Cipap Ros pula membalas dengan menyedut-nyedut serta mengemut-ngemut batang kemaluanku. Cipap Ros terasa panas oleh ledakan kancutan air mani aku yang sangat kuat
itu. Badan Ros tersentap setiap kali pancutan itu mengenai pangkal rahimnya. Ros memelukku dengan kuat sekali. Aku pula menikan batang kemaluanku rapat kedalam cipapnya. Getaran nikmat yang Ros rasakan tadi amat kuat sekali. Aku juga belum pernah merasakan begitu nikmat sekali. Ros telah mencapai klimax yang amat kuat sekali. kemaluanku masih berdengut-dengut dalam cipap Ros. Manakala cipap Ros kembali longgar. sesekali Ros membalas kemutan dari dalam lubang cipapnya. Kemaluanku masih keras mamacak. Kami terus berdakapan dan berpelukan. Aku membiarkan Ros merasakan kehangatan tubuhku. Ros pula terasa sangat senang dengan perlakuanku .Apabila keadaan kembali reda aku cuba untuk mencabut keluar kemaluanku tetapi dihalang Ros . Ros memegang punggungku agar aku terus merendam batang kemaluanku didalam cipapnya lama lagi. Aku cuba menyorong dan tarik lagi batang kemaluanku. Ros membiarkan saja perbuatanku itu. Aku melajukan lagi dayungan batang kemaluanku. tak sampai seminit melakukan dayungan yang amat laju . Ros tiba-tiba mengerang kehgairahan lagi. Kali ini amat kuat sekali. Cipap Ros mengemut kuat. Ros menjadi tak tentu arah menahan henjutan demi henjutan tikaman demi tikaman di batangku yang aku gagahi untuk mengerasnya. Kini Ros telah mencapai klimax yang kelima. Cipap Ros pula menyembur mengeluarkan maninya. Aku terkejut dengan keadaan itu. Diikuti dengan getaran tubuh nya. Cipap Ros mengemut kuat batang kemaluanku hingga aku terasa seperti dipicit dengan tangannya. Ros memelukku dengan kuat sekali hingga aku tak dapat bernyawa dengan sempurna. Aku membiarkan lagi batang kemaluanku dalam cipapnya. Agak lama selepas itu aku cuba untuk mengeluarkan lagi sekali batangku. Aku mencabut batangku dari dalam lubang cipap Rosnah.

Aku berbaring sebelah kiri badan Ros. Aku teruskan fasa "after play". Aku memeluk Ros sambil memuji kepandaian dia melayan nafsu gelora kami. Sambil berpelukan kami rehat seketika. Lebih kurang sepuluh minit berpelukan . Rosnah hampir tertidur. Aku mengejutkan Ros bangun untuk mandi hadas besar. Ros bangun sambil bersuara
"Abang dukung Ros" "Ros tak larat nak bangun" pinta Ros Aku terus mengangkat Ros menuju bilik air. Aku kembali kebilik Ros untuk mengmbil tuala.

Kedengaran pancuran air dari dalam bilik air menandakan Ros sudah pun mandi. Aku membuka pintu bilik air yang tidak dikunci oleh Ros. Aku masuk dan memeluk Ros dari belakang . Badan Ros yang sudah dibasahi air menjadikannya licin serta sejuk. Kami mandi bersama sambil aku mengabunkan badan Ros. Selepas itu Ros pula mengosokan sabun keseluruh tubuh badanku. Kimi mandi sampai kesejukan. Aku segera mengambil tuala kemudian mengelap seluruh badan Ros yang amat gebu selepas mandi. Aku mengelap cipap Ros yang telah berjaya menunaikan
hajat aku. Aku kucup mulut Ros tanda terima kasih untuknya. Selesai mandi kami masuk kebilik Ros dan memakai kembali baju. Aku memakai bajuku sementara Ros pula memakai kain batik bersama t-shirt saja. Kami menunggu adik iparku balik dari kerja. Kami menonton tv bersama- sama sambil berpelukan. Aku membiarkan Ros duduk dalam dakapan aku dan merasakan kebahagian selepas sama-sama bersetubuh.

readmore>> »»  

Kak Hanim Ipar Aku (2)

Setelah lebih sejam kami bergomol dalam sesi pertama tadi, ku lihat Kak Hanim lesu keletihan. Sesi sulung itu memang terasa sangat meletihkan. Memang letih. Lebih-lebih lagi aku� Aku sendiri keletihan benar. Maklumlah, petang tadi dengan Kak Limah tiga sesi. Dengan Kak Hanim pulak adalah satu sesi yang panjang. Maklumlah, Kak Hanim dah lama dahagakan kasih sayang dan permainan cinta. Aku faham. Aku anak jantan; Kak Hanim baru sekali ini merasa ditunggangi �kuda jantan� bujang terlanajak. Kepalang garangnya. Lepas
aku dengan Kak Hanim �main�, aku yang telentang. Satu badan terasa macam kejang!! Kami tertidor. Lena. Kak Hanim terlena disisiku sambil memeluk ku. Kami terlena betul�.. Sungguh. Tiba-tiba aku tersentak. Aku rasa Kak Hanim bergerak. Aku terjaga. Ku lihat Kak Hanim mengacah hendak bangun. Ku capai tangannya. Belum sempat aku bertanya, dia bercakap �Kak Hanim nak ke bilik air kejap�,
katanya. �Mad baringlah�.!� Sambungnya. Sambil ku rangkul tubuh Kak Hanim yang telentang hendak bangun itu, aku tekup celah kangkangnya. Aku tengok dia seperti malu-malu. Konek ku sedang menegang. Aku malu memandang muka Kak Hanim. Kan dia kakak
iparku. Isteri abang angkat ku. Antara aku dengan abang angkat ku Cuma dia dua tua tahun aja. Aku memang anak kelahiran ibu bapa ku. Batang aku memang spesel. Maklumlah aku adalah warisan penangan Melayu original. Kak Hanim memang cantik dan lawang orangnya. Darah keturunan campuran dalam tubuhnya adalah dari datuk-neneknya. Ibunya darah campuran Pakistan dan datuknya darah campuran Cina dan Belanda. Percampuran keturunan inilah memberi �blend� yang istimewa. Semua darah zuriat itu menjadikan Kak Hanim seorang yang berfizik tinggi lampai, berhidung mancung, berperawakan lembut ketimuran, dan berkulit cerah dan licin gabungan Cina dan Belanda. Matanya ayu dan bibirnya nipis dan menggiurkan. Satu keistimewaannya, sekali pandang Kak Hanim seolah-olah sentiasa tersenyum � suatu rautan bibirnya semulajadi. Dia sentiasa tenang dan sukar menunjukkan perasaan dari hatinya. Inilah yang membuatkan aku
sering berkhayal keterampilannya. Memang pandai abang ku memilih seorang wanita anggun.Tetapi, ketika ini, Kak Hanim yang menjadi khayalan ku itu berada dalam pelukan ku. Dia seolah-olah menyerahkan seluruh kecantikan tubuh dan jiwa raganya untuk ku. Aku memilikinya waktu ini. Ia berada dalam pelukan ku dalam keadaan bertelanjang bogel, tanpa seurat benang. Dia bukan dalam keadaan terpaksa atau dipaksa. Mungkin, jika dia berdua-duaan bersama abangku, Kak Hanim merasa terpaksa. Tetapi bersama ku, waktu ini, tidak. Dia rela. Dia mengharapkan kasih sayang dariku. Oh ya. Bila ku buka mataku sedikit, aku tengok Kak Hanim senyum saja seolah-olah dia mengerti runtunan hati ku. Kak Hanim duduk ditepi katil. Dia dalam keadaan separa telanjang. Buah dadanya terdedah. Kain selimut menutup perut dan punggungnya. Akuu sambut buah dadanya yang kental dan meramas-ramasnya. Kak Hanim kegelian. �Mad..nantilah� Hanim nak ke bilik air nih..sayangg� katanya manja. Tangannya ku capai dan meletakkan ke konek ku yang sedang menegang. Dia senyum. Senyumannya yang meruntun hati sesiapa yang memandangnya. �Ahhh�nantilah.. Hanim nak ke bilik air� katanya lagi. Aku
mengangguk seolah-olah membenarkan. Kak Hanim terus beredar ke bilik air sambil melepaskan tangan ku dengan sentuhan sayang. Lama juga dia dibilik air. Terdengar air toilet dipam. Mungkin Kak Hanim bersuci setelah buang air kecil, fikir ku dalam hati. Terbayang
di mata ku bagaimana dia mencangkung, membasuh nonoknya, mengulit liang farajnya yang baru saja ku jolok dengan batang ku. Mungkin air mani ku dilihatnya mengalir keluar dengan banyaknya. Di dalam aku berangan-agan itu, debaran jantung ku kian mengencang.
Sekali gus �konek� ku menegang membayangkan tubuh putih itu sedang mencelibik liang kemaluannya. Mungkin dia sedang melihat kesan terjahan konek ku yang besar dan panjang, menggodak lubang sempit di dalam farajnya. Warna apa agaknya Mungkin masih terpongah lagi�. Uhhhh�. tidak dapat dibayangkannnn�.enak, terangsang� merangsangkan sangat-sangat�! Tiba-tiba pintu bilik air terbuka semula. Debaran jantung ku mengencang. Kak Hanim berjalan ke katil. Dia memakai pijama towel mandi warna putih, lalu ia duduk di tepi katil. Dipangkunya kepala ku semula sambil mengusap-dahi dan rambut ku. Belaiannya yang matang itu betul-betul memanja ku sangat. Sejuk rasa tapak tangannya. Ku cium tapaknya. Wangi berbau lotian kulit. Aku rasa cukup terhibur. Kemanjaan dari seorang wanita itu
menjadikan diri ku terasa dihargai. Terasa disayangi. Aku membalikkan badan ku. Konek ku mengangkat kain selimut. Kain itu membumbung seperti khemah orang Red Indian, berbucu dipuncak. Ku peluk pinggang Kak Hanim dan ku huraikan towel di sebelah atas.
Terdedah dua pasang buah dadanya yang muntuk. Ku raba dengan telapak tangan ku dan ku pusar-pusarkan acah tak acah saja. Walaupun Kak Hanim membiarkan aku berbuat begitu, tetapi tangannya cuba memegang tangan. Seolah-olah ia tidak tahan menahan kegelian yang menyelinap ke tubuhnya. Untuk melengkapkan agenda itu, sebelah tangan ku melekat ke perutnya. Tangan ku mulai menakal-nakal semula. Dia membiarkan saja. Mukanya tunduk. Ku usap-usap pusatnya dengan perlahan. Ku sentuh. Nafas Kak Hanim turun naik dengan tersentak-sentak. Aku mengerti apa sebenarnya ada dalam perasaannya. Keseronokan dan nikmat yang kami lakukan tadi memang berkesan. Mungkin dengan abang ku Kak Hanim tidak mendapat kepuasan seperti kami lakukan tadi. Mungkin. Dalam berkhayalan begitu, tiba-tiba terasa tangan Kak Hanim sudah masuk ke celah selimut dan memegang konek ku yang sedang menegang. Kak Hanim mengusap-usapnya perlahan-lahan dari dalam selimut gelembong itu. Aku membiarkan saja. Terasa sangat enak usapannya. Ku rasa tangan Kak Hanim mengusap-ngusap dengan lebih mantap. Dalam keadaan begitu tangan ku yang ganas tadi sudah mulai menjelajah ke bahagaian atas tubuhnya. Kocokan tangannya kian mengencang. Begitu juga tangan ku. Kini Kak Hanim ku peluk erat. Mulutnya ku kucup. Lidahnya ku hisap dan kulum. Permainan lidah kami menambah ransangan syahwat kami semula. Kini tangan ku sudah menyelinap kedepan menyentuh payudaranya, meramas-ramas dan menggentel puting dadanya. Kemudian turun ke pusat dan ke liang farajnya. Ku gentel kelentitnya. Aku dengar dia mengerang. Pehanya dirapatkan. Makin jari ku memperhebat gentelan dipusar-pusar
kelentitnya. Ku rasanya hujung jari ku basah berlendiri. Ku teruskan gentelan itu dan mencuit seluruh daerah berlendir
didalam farajnya. Kak Hanim mengulum lidah ku. Aku berkesempatan memainkan langit-langit dalam mulutnya yang terbuka. Nafasnya berbau wangi. Uhhhh�. Nikmatnya. Kemudian ku rangkul kepalanya. Kami berkucupan, berkuluman lidah lebih hebat lagi. Bertukar-tukar nafas. Lama. Kak Hanim menghisap lidah ku kuat. Lelehan air liurnya ku jilat. Dan Kak Hanim juga begitu. Aku rasa jari ku sudah basah. Berlendir. Pekat. Aku dah tahu Kak Hanim mula naik syahwat!! Kami tidak bersuara apa-apa. Kami hanya menikmati keadaan yang kami lakukan dan alami itu. Mungkin Kak Hanim juga begitu. Berbeda denganku, sebelum ini aku tidak semewah itu mencuit tubuh seorang wanita selama hiudupk u kecuali tadi siang dengan Kak Limah. Tapi Kak Hanim sudah pun mengalami kehidupan bersuami. Dia tentu lebih terangsang. Aku.. sebagai orang bujang yang tidak pernah mengalami runtutan seksuil secara praktikal merasa apa yang kami lakukan seolah-olah seperti mimpi. Kak Hanim pula seolah-olah tidak pernah merasa permainan asmara yang begitu mengasyikkan. Terfikir juga di kepala ku, bagaimana agaknya abang ku melakukannya kepada Kak Hanim Andainya seperti yang kami lakukan, pasti Kak Hanim tidak melakukannya dengan ku! Cemburu ku berganti dengan perasaan seorang �hero�. Makin berani hati ku, lalu mendongakkan kepala memandang wajahnya. Dia seakan menuntup mata dan menggertapkan gigi terkancing. Mengikut firasat ku, dia mungkin sungguh menikmati ulitan tangan ku oleh yang lembut itu di payudaranya. Ku jongkokkan muka ku lalu mulut ku menghisap payudaranya. Dia bagai tersentak dan membuka mata. Direnungnya muka ku tanpa senyum. Matanya bagai tidak terbuka. Tangan ku masih mengusap-usap puting dadanya. Dia tidak bersuara. Kemudian dia bergerak bagai hendak bangun. Aku mengangkat kepala, dibantu oleh tangannya. Dia sudah berdiri dan membuka kain towel. Melihat keadaan begitu, Kak Hanim terus menarik selimut ku. Apabila dia menoleh berhadapan dengan ku, ohhh��darah ku tersirap. Tubuh muntuk yang putih itu terdampar berdiri dihadapan ku�. Susuk tubuh Kak Hanim
tinggi 5� 5 �� itu memang cantik. Dengan payudayanya yang montok, pusat, perut yang licin, celah kangkang yang berbulu lembut itu, tubuh
Kak Hanim memberi suatu pemandangan yang sangat indah dan meransangakan nafsu syahwat. Kak Hanim terbeliak mata melihat ketegangan konek ku yang kini sudah kemerah-merah kepalanya. Dia membaringkan tubuhnya kesebelah ku. Tangannya menangkap konekku dan nemengusap-usap perlahan-lahan. Matanya kelihatan terpejam. Dengan riaksi begitu ku peluk Kak Hanim dan mengusap-usap belakangnya. Mulut ku mengisap dan menjilat putting susunya. Ku dengar nafasnya turun naik. Kencang sekali. Tangannya masih
lagi mengusap-usap konek ku. Kami saling menikmati keadaan yang amat mengasyikkan itu. Kini Kak Hanim memelukku dengan erat. Perlahan-lahan tubuhnya mendakapan ku. Seolah-olah dia menyatakan supaya aku tidak harus malu-malu lagi. Suasana itu adalah untuk kami. Kami berdua. Kak Hanim nakkkk lagi keee.. tanya ku dalam suara memanjakan. Dia mengangguk. Digesel-geselnya kepalanya kedada ku. Dia tidak memandang ke muka ku. Bagaikan dia malu. Aku pipis kain towel dengan sebelah tangan. Dia menggesel-geselkan kepalanya kedada ku. Sesudah selimut ku terbuka, dipeluknya aku erat-erat. Amat erat sekali. Aku bangun dan duduk berdepan dengannya. Tangan Kak Hanim masih memegang konek ku�� Aku makin berani. Tangan ku menjalar kedadanya semula, kali ini
dengan ramasan yang agak keras. Hebat. Kak Hanim tertunduk menahan desakan hatinya. Ku angkat dagunya perlahan-lahan hingga ia mendongak memandang ku. Matanya kini separuh terbuka. Bibirnya mekarnya. Terbuka. Ku kucup perlahan-lahan dan mengeluarkan lidah ku mencari sasaran � pusaran lidahnya. Kak Hanim membuka mulutnya semacam mengizinkan.Kucupan kami amat mesra sekali dan tindak balas kami amat terangsang. Terasa suatu gelombang seakan memukul dada ku. Kak Hanim � panggil ku. Dia hanya bersuara halus menyahut.. hhhhmmmm� Kak Hanim baringgg� perlahan-lahan suara ku. Lalu ku baringkan dia dengan berbantalkan lengan ku. Aku renung mukanya puas-puas. Aku tatapi kejelitaannya yang sungguh mengkhayalkan ku. Kali ini baru aku dapat menatap wajahnya yang sedemikian indah. Kejelitaannya waktu rambutnya mengerbang sebegitu menambah seksinya. Puas-puas. Dalam keadaan rela dan dalam suasana yang amat berbeda. Kami seakan-akan berada dalam suatu alam yang sangat asing. Kak Hanim nak Mad buat macam ini Aku bertanya kepadanya. Dia hanya menjawab dengan rengekan panjang yang lemah. Aku usap dadanya dan aku kucup lidahnya perlahan-lahan. Dia membiarkan dan bertindak seolah menunjukkan riaksi yang mengizinkan. Tenang. Aku terus mengusap buah dadanya dan memusar-musarkan puting susunya. Tangan Kak Hanim masih mengusap-ngusap batang ku yang kini sudah menunjur panjang dan membesar. Memang batang ku ini panjang hampir 612 inci dengan kepala nya besar dan warna kemerah-merahan. Ku teruskan menjelajahi leher dan dadanya. Aku terhenti di putting susunya. Aku kucup dan dan usap-usap dengan lidahku sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya yang lagi satu. Mengkal dan kental. Aku terasa smakin berani. Kami mengikut desakan nauliri seks yang memang ternyata aku punya daya yang amat kuat. Aku dah tak peduli samada Kak Hanim adalah kakak ipar ku dan isteri abang ku. Malah, perasaan ia milik abang ku itu menjadikan aku sangat berahi dan bernafsu� kerana berjaya menundukkan seorang wanita anggun kepunyaan abang ku. Kedewasaannya itu yang menjadikan aku lagi terangsang!�.Aku dapat merasakan kemuntukan payudaranya yang pejal dan kental itu. Selama ini aku hanya dapat mengkhayalkan saja. Dalam angan-angan. Kalau tengok pun, cuma diluar baju. Kini, aku dapat meramas-ramas dan mengulitnya dengan ganas. Lama aku menikmati rasa ganjil yang menyerap kedalam darah ku itu. Suatu perasaan menjalar kedalam tubuh ku. Aku merasakan bahawa itu adalah penyerahan yang tulus. Ikhlas. Murni. Dalam kepalaku bersarang
dengan 1000 tandatnya, bagaimana abangku menguliti tubuh seindah ini. Kononnya mereka tidak bersesuaian hidup kerana tidak peduli dengan tuntutan nafkah batin seorang isteri. Perasaan itu menjadikan aku berhati-hati, berlembut dan berlunak-lunak, penuh perasaan. Ternyata, kami seakan-akan terbuai kedalam alam lain. Aku tengok Kak Hanim mengeliat. Aku biarkan dia menikmati apa yang
aku lakukan itu. Kalau itu mampu memberi dia suatu nikmat, biarlah aku lakukan untuknya. Kami tidak lagi bercakap apa-apa. Dia juga begitu. Aku dengar suara halusnya mengerang. Aku biarkan dia begitu seolah memberi ia kebebasan menikmati runtutan rasa yang sedang dinikmatinya itu. Sambil itu aku dengar dia memanggil nama ku perlahan-lahan. Angin penghawa dingin di bilik itu berhembus menyegarkan. Maddd� panggil nama akak�.. Hanimm saja, yaaaaa! ujarnya bagai tersekat-sekat. Tangannya mengerapai mahu memegang ku. Sayanglah pada Anim.. Maddd�.. sambungnya. Waktu aku merasa diri ku seakan-akan diberinya tauliah. Suatu
penyerahan. Suatu hakikat yang benar, aku berusia lebih tua darinya. Aku sudah tiga pulugan. Kak Hanim hanya 25 tahun. Tetapi aku harus memanggilnya �kakak� kerana dia adalah isteri abang ku. Ku jawab dengan selamba, Sayanggg, Mad sayang pada Anim��.!!� Jawab ku dengan nada memanjakan. Dipegangnya rambut ku. Di wajahnya terserlah suatu keceriaan. Suatu kelegahan. Suatu penyerahan kasih dan sayang. Suatu harapan. Kami sama-sama faham. Tidak ada lagi keraguan. Aku mulai menggerakkan muka ku kearah perutnya yang putih melepak itu. Aku usap-usap dengan lidah ku. Dia makin merangkulku. Kak Hanim membiarkan. Merelakan. Sebaliknya, dia menyambut dengan rengekan gembira. Geli mungkinnya. Aku rapatkan mulutku ketelinganya. Perlahan-lahan ku bisikkan ke telinganya, Animm� Mad buka ya� sambil mengusik selimutnya. Dia hanya memeluk ku, kemudian melepaskannya. Aku usap perutnya yang tegang dan licin itu. Aku lihat dia kegelian. Aku balikkan dia menungkup ke perutnya. Perlahan-lahan. Dia menurutnya dengan lembut dan perlahan bagaikan malas. Tubuhnya kian melemah. Ku balikkan tubuhnya menoarap. Aku cium belakangnya, bermula dari tengkuknya hingga ke pinggang. Ku singkap seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya yang melepak itu terdedah. Bertelanjang bulat.
Kemudian aku usap pepejal punggungnya yang putih melepak itu. Aku ramas-ramas. Perlahan aku buka kangkangnya. Perlahan-lahan hingga terbuka luas. Aku usap-usap pepejal punggunya sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya perlahan-lahan. Dia membiarkan saja. Aku telentangkan ia semula. Oh�..demi terpandang saja bahagian yang paling sulit ditubuhnya itu, debaran dada ku kian mengencang semula. Hebat. Keras sekali degupan jantung ku. Kak Hanim tidak bergerak lagi. Matanya tertutup. Aku usap-usap bahagian yang paling sulit dalam tubuh Kak Hanim. Ku uliti. Ku lihat bulu kemaluannya. Agak tebal juga dalam bentuk segi tiga. Di bawah bulu itu terdampar rekahan nonoknya yang tembam. Memang tembam. Indah. Menggiurkan. Nampaknya macam berlendir basah. Dia membiarkan aku melihat dan mengamatinya. Kak Hanim tidak malu lagi. Betul-betul dia tidak merasa malu lagi. Bermakna penyerahannya sudah
sampai ke tahap menyerahkan segala-galanya. Tidak seperti mula-mula tadi. Ku lihat bahagian sulitnya amat bersih di bawah cahaya lampu yang separa muram itu. Aku terpaku. Terpegun bagai tidak tahu apa yang aku lihat. Aku tatap muka Kak Hanim. Kemudian, bagai tidak sabar, aku tekapkan muka ku kebagaian sulitnya itu. Ku pusarkan hidung ku ke ruang liang kemaluannya. Berlendir dan berbau. Baunya amat merangsangkan. Bau cecair dari tubuh sulit wanita. Bersih dan merangsangkan. Terasa bau syahdu yang khas. Merangsang syahwat. Kak Hanim menolak kepala ku. Seolah-olah dia tidak membiarkan aku menciumi bahahagian kemaluannya yang sudah terdampar dimuka ku. Tapi aku terus memegang pinggangnya dan memaksakan hidungku bermain-main dicelah rekahan yang sedang mengeluarkan madu. Ku cium dengan nafas panjang. Aku cium puas-puas. Aku dapat merasakan suatu perasaan yang amat indah suci dan bersih. Aku bukakan kedua-dua pehanya. Dia seakan-akan membantu ku dengan membukanya lebih luas lagi. Aku angkat kedua-dua lututnya berdiri. Ku tolak ke dadanya. Kini bahagian sulitnya terangkat. Terdedah. Luas. Makin nampak rekahan nonoknya. Betul-betul jelas. Nyata. Aku cium puas-puas bahagian kemaluannya. Suatu rasa meransang menyerap keseluruh tubuh ku. Aku menekapkan mukaku disitu. Lama juga. Bernafas dan menghembuskan nafas di bahagian itu. Ku sungguh-sungguh menikmati bau yang sesuci itu. Tangan ku mengusap rambut-rambut halus dibahagian atasnya. Aku usap-usap. Perlahan-lahan. Bagaikan mengerti, aku keluarkan lidah ku dan mencecap ruang rekahan yang ku selak dengan kedua jari ku. Ku lihat lendirnya banyak disitu. Dibahagian atasnya tersentil ketulan daging yang berwarna
kemerah-merahan. Kelopak dalam kemaluan Kak Hanim berwarna merah jambu mawar kepucat-pucatan. Demi terselak begitu aroma nonok Kak Hanim kian menerkam hidung ku. Dengan tidak terfikir apa-apa lagi, ku jelirkan lidah ku, lalu ku usap dengan hujung lidah - bagai mahu merasa sesuatu yang nikmat dengan sentuhan panca indera rasa. Aku lekatkan lidah ku ke celah retakan itu dengan berhati-hati. Lidah ku menembusi liang yang bagai tertutup itu. Kini lidah ku menjelajah seluruh daerah pendalaman liang itu. Liang ghairah itu adalah kepunyaan abang ku. Tetapi kini aku sedang menawannya. Malam ini aku punya. Sentuhan hujun lidahku ke daging kenyal lembut membuatkan Kak Hanim tersentak bagai orang tersedan. Lalu ku mainkan lidah ku. Mantap dan perlahan-lahan. Waktu itu aku rasa tidak ada apa yang menjemukan. Segala-galanya bersih. Suci. Kak Hanim menggeliat . Aku dengar dia mengerang berkali kali dan terus mengerang. Suatu tanda nikmat kepadanya. Aku biarkan supaya dia menikamatinya beberapa lama. Aku mahu dia menikmati perasaan itu setelah lama dia tidak bersenggama dengan abang ku. Kalau itu boleh memberi ia suatu nikmat, aku lakukan. Lama aku lakukan begitu. Ku lentuk-liukkan hujung lidah ku bagai anak kucing menjilat susu. Tidak tahu berapa lama. Sepanjang aku melakukannya, Kak Hanim bagaikan terpukau. Aku juga. Bila aku bertindak, dia memberi riaksi. Kami saling memahami riaksi itu. Sebagai petanda. Sebentar kemudian aku bangun. Berdiri diatas lutut ku. Aku lunjurkan lututnya lulus bagai tidur. Aku susun beberpa biji bantal di kepala
katil. Aku angkat perlahan-lahan tubuhnya yang gebu-montok itu. Ku rasa ia berpeluh. Sekujur tubuh Kak Hanim lemah. Kaku. Aku sandarkan dia dengan kemas dibantal yang tersusun itu. Dia membantu ku dengan bersadar kemas sambil matanya terpejam. Nafasnya turun naik kencang. Kini Kak Hanim ku sandarkan di birai katil. Bersandar dengan keadaan tubuhnya yang selesa. Kedua-dua belah tangannya aku letakkan di kepalanya dalam keadaan berpanca, ku jadikan sebagai bantal untuknya. Animm�. dah tempted tanyaku. Mhhhhhhh.. dia mengerang panjang. Tubuh Kak Hanim bersandar dengan keadaan cukup teransang. Kedua-dua belah tangannya ku letakkan dikepala dan keadaannya berpanca, ku jadikan sebagai bantal. Posisi ini melentikkan dadanya. Lututnya yang berlunjur rapat itu aku tegakkan perlahan kearah dada. Kepalanya mengiring ke kiri kearah cahaya lambu suram ditepi katil model �Classic� bersalun warna tembaga itu. Cahaya lampu itu memancarkan sinar yang meransang seri wajahnya. Wajah Kak Hanim seakan menyala kemerah-merahan. Matanya tertutup rapat. Nafasnya tenang tapi kencang. Kak Hanim tidak bergerak. Cuma aku yang mengatur segala-galanya dan dia memberi riaksi yang merelakan saja. Perlahan-lahan aku angkat lututnya yang lurus berlunjur itu mendakap dadanya. Rapat. Aku kucup mulutnya berulang-ulang kali - puas-puas. Aku terus meramas buah dadanya. Dia membiarkan saja. Kak Hanim betul-betul dalam keadaan merelakan. Malah jelas dari wajahnya, bukan saja ia merelakan malah menikmati keadaan yang berlaku. Waktu itu, apa yang aku
lakukan itu amat merangsangnya. Ia tidak langsung membantah, malah lebih banyak membiarkan. Merelakan. Ku buka lututnya perlahan-lahan dan mendakapnya kemas-kemas. Aku teruskan mengucup lidahnya. Aku berbisik ditelinganya, perkataan �Sayanggggg�Anim rela�� untuk kesekian kali. Aku kucup lehernya, menjelajahi antara dua buah dadanya; berhenti disitu - menghisap putting susunya. Ku jelajahi perutnya, memusarkan pusatnya dengan lidahku. Dengan hati yang paling ghairah, aku terus mencium bahagian tundun �kemaluannya�. Kak Hanim bagai kaku. Dia tidak bergerak lagi. Pun tidak melarang ku. Melihat riaksinya begitu, seolah-olah dia menyerahkannya
segala-galanya untuk ku nikmati. Ia memberi ku suatu nikmat yang paling tinggi. Dia juga memerlukan itu. Bagi kami segala-nya bersih waktu itu. Anggota fisikal dan perasaan kami. Bersih bagi ku waktu itu. Aku cium, dan cium dengan penuh ghairah dan nikmat. Lidah ku bagaikan otomatis, tahu berbuat sesuatu yang dinikamti oleh Kak Hanim. Ku usap belahan pantatnya yang kini sedang digenangi air �nikmatnya�. Kini, Kak Hanim bagaikan terkulai layu. Seluruh tubuhnya sudah bertelanjang bulat dan juga aku. Hanya nafasnya saja yang Nampak berombak deras. Herangan dan rengekannya kian terdengar seakan-akan memanggil ku. Aku rasa kepala ku diusap-usap-usapnya, rambut ku disisirnya. Sebelah tangannya sedang memegang birai katil bereka bentuk �Classic� itu. Erat sekali. Terdengar dia bagai orang dalam kepedihan, suara nikmat yang amat tinggi. Ssssttt�.sssssstttt ..uuuhhh�..Mad, Maddd�.. Aniimmm�. Kak Hanim
mengerang panjang. Mengetahui ia sedang merasa tingkat nikmat yang tinggi seperti itu, penuh dan sangat-sangat mengkhayalkan begitu � aku teruskan mengusap dan menjelajahi bahagian rahsia dalaman yang sentiasa tersembunyi itu dengan lebih garang lagi. Ku pentikkan lidah ku dan aku tenyehkan lidah ku kebahagian daging tersentil itu. Kelentitnya. Aku rasa dengan lidah ku daging itu kian mengeras. Aku usap-usap dengan hujung lidah ku. Amat mengasyikkan. Lama sekali aku lakukan. Untuk memberikan ia nikmat sepenuhnya, aku jelejahi keseluruhan �dalaman� itu, dari atas kebawah, dari bawah keatas. Berulang-ulang kali. Farajnya makin berlendir banyak. Bau aroma kemaluan seorang wanita makin meransang ku. Sebentar, aku berhenti di ketulan daging yang kian mengeras di situ.
Aku dapat rasakan seluruh tubuh nya bagai menggeletar, menggelepar dan kegelian. Kak Hanim menggeliat. Tangan ku kian kuat memaut punggangnya, sambil itu jari-jari ku menggentel puting payudaranya. Nikmat. Aku tumpukan perjhatianku mengusap dan menggentel
kelentitnya untuk beberapa ketika. Kian lama aku lihat Kak Hanim bagaikan kegelian yang teramat sangat. Aku mengerti sekarang, klentit Kak Hanim adalah pusat syahwatnya � suatu punca nikmat kepadanya. Aku terus mengusapnya. Biarlah dia merasakan suatu tingkat nikmat yang tertinggi dan terangsang disitu. Aku terus lakukan begitu. Kemudian terdengar Kak Hanim menyeru nama ku ��.Maaddd�.. sambil itu kepalanya bergolek kekkiri- kekanan. Animm nak puaaassssss, Madddd�� katanya dengan nafas mengencang. Makin itu makin aku menjilat dan memainkan kelentitnya dengan gigi ku. Ah�..mhhhh�.Maddd��. Madddd�..Maddd!! Kak Hanim menggelapar. Makin aku pegang pinggangnya dalam pelukan ku dan menjilat dengan rakus. Peha Kak Hanim seperti berhempas pulas. Mengejang. Kakinya menerjang ke kiri ke kanan. Tangan ku pula kian mengganas; meramas-ramas buah dada Kak Hanim yang makin mengkal menegang. Makin lama makin rengekkan Kak Hanim kian kuat memanggil nama ku. Rambutku digenggamnya erat sekali. Sekejap digenggamnya rambutku kuat-kuat; dan sekejap dilepaskannya. Aku rasa tangannya terjatuh ke tilam. Ia tidak berdaya lagi. Ia bagaikan letih, lemah dan seakan tidak memberi rangsangan kepada ku lagi. Hanya aku yang cukup-cukup terangsang. Terangsang hebat. Ku lakukan olahan begitu sehingga dia seakan reda dari menggeliat. Melihat keadaanya yang tidak terkawal itu, aku bangkit dan
mendakapnya. Aku peluk Kak Hanim kemas-kemas. Aku rapatkan muka ku ketelinganya. Aku berbisik ke telinganya perlahan-lahan dengan suara yang terketar-ketar, Animm endak Mad buat sekarangggg� Pertanyaan ku untuk kesekian kali. Kak Hanim hanya diam. Aku ulang dengan nada yang spontan paling romantis dan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Sambil itu aku usap-usap lengannya. Aku lihat dia seakan-akan hendak membuka matanya, tetapi kemudian tertutup semula. Aku jadikan itu sebagai sebagai pertanda bahawa ia telah memberi keizinan. Dia hanya mengerang menyebut nama ku panjang-panjang. Perlahan-lahan. Maddd�..sayang Anim�sayang kat Animm�Maddd�!! rengeknya. Melihat itu, segera aku melucutkan seluruh kain yang melekat ditubuh kami. Kini, kami bagai dalam keadan seperti waktu lahir kedunia dulu. Kami berdua. Aku pegang tangannya. Aku sentuhkan tangannya �ke senjata rahsia� ku - seolah-olah memberi alamat kepadanya bahawa aku juga merelakan Kak Hanim memegang dan menyentuh seluruh tubuh ku hingga kebahagian sulit ku ini. Aku mahu dia merasakan bahawa aku juga adalah merelakan diri ku. Untuk miliknya. Sebagai haknya. Aku unjukkan tangannya kearah senjata ku. Dia mememangnya. Digenggamnya, tapi tidak menggerakkan tangannya. Aku kucup buah dadanya semula. Aku usap-usap pangkal lengannya hingga kepinggang dan terus kebawah - dan terus kecelah belahan rahsianya itu. Aku gentel-gentel
dengan lembut dan bersahaja. Aku lihat Kak Hanim bagai tidak sedarkan diri. Terlena. Lemah. Aku teruskan begitu. Tangannya masih memegang �senjata� ku. Erat sekali. Melihat pertanda terakhir itu, perlahan-lahan aku dakap dia kemas-kemas. Aku selak beberapa helai rambutnya yang terhurai menutupi dahinya. Kini mukanya dapat ku lihat dengan sepenuhnya. Mukanya menghala ke arah ku. Kami seakan-akan berpadangan walaupun matanya hanya antara terbuka dengan tidak. Aku terus mengucup mulutnya, menghisap lidahnya seolah-olah itu lah ciuman terakhir bagi kami. Lama sekali. Dia membalas bagaikan tidak mahu melepskan kucupan kami. Aku letakkan tangannya semula kebelakang kepala nya. Terkulai semula. Ku lihat Kak Hanim sudah sedemikian lemah. Aku peluk dia. Erat-erat.
Aku masukkan kedua-belah tangan ku melalui bawah pangkal ketiak lengannya yang terkulai dan tidak bermaya lagi itu. Aku rangkul
bahunya. Aku bisikkan kepadanya hasarat ku � Dia tidak menjawab lagi. Tidak ada riaksi lagi. Dia tiak menjawap. Kak Hanim semacam hilang dari alam ini. Dalam keadaan sekujur tubuhnya bagaikan terdampar dalam keadaan bersandar itu; aku dapat melihat suatu keindahan bentuk anggota sebuah tubuh seorang insan yang sangat jelita. Mukanya tenang bagai tidur,
tangannya terkulai, pehanya terbuka luas - terbentang bagai menyatakan keindahan semulajadi yang teranugerah kepadanya. Tidak dapat ku baying kejelitaannya waktu itu. Kulitnya amat bersih. Licin. Termenung aku sejenak menikmati keindahan yang mempesonakan itu. Terpegun. Bagaikan terpukau. Adakah aku ini bermimpi Bagaimana aku dapat melihat sebuah tubuh yang begini indah Bagaikan aku terhayun kesebuah alam yang amat indah, permai, tenang, mengasyikkandan; penuh ghairah. Tidak puas aku memerhatikan setiap bahagian tubuhnya yang begitu indah dan sempurna. Sempurna sesempurna-purnanya. Dan tubuh ini adalah sebatang tubuh yang merelakan. Merelakan aku berbuat sekehendak ku. Walaupun aku boleh berbuat begitu, tetapi perasaan ku bukan segelojoh itu. Aku harus melakukan sesuatu dengan rasa pertimbangan kasih� sayang.. dan saling menikmati ujar ku dalam hati yang amat mengasihi. Dalam aku
terlalai itu, aku usap-usap bahagian sulit ku kecelah lipatan rahsia Kak Hanim yang kini sudah terdedah. Basah kuyup hingga kerambut
nonoknya. Kak Hanim sudah hilang malunya, bertelanjang bulat dihadapan ku; adik iparnya. Dunia kami bagai memukau. Perlahan-lahan ku temukan anggota rahsia kami di situ. Kalau itulah keindahan terakhir dalam segerap permainan fore-play diawal-awal
tadi�.maka kini ini adalah peringkat terakhir dalam babak ini. Kami seakan-akan sedang menuntut suatu kebahagian dan nikmat sebenar, suatu kemuncak kasih, sayang, paduan perasaan ��. Biarlah aku lakukan dengan berhati-hati kerana Kak Hanim adalah seorang yang sangat lemah lembut. Ia seorang wanita dan aku seorang jejaka. Ku gesel-geselkan kepala batangku ke celah nonoknya; hingga
membasahi bahagian yang ku sentuh-menyentuh itu. Aku lihat Kak Hanim sudah cukup-cukup terlena. Terpesona. Dengan suatu pergerakan yang sangat berhati-hati, aku cium nonoknya. Ku sedut kali terakhir. Kemudan aku merangkak ke celah antara dua
pehanya. Aku tekan senjata ku perlahan-lahan ketempat yang sangat di jagainya selama ini. Liang farajnya dibasahi lendiri. Bahagian yang
tidak pernah disentuh oleh sesiapa kecuali suaminya, abang ku. Kini abang ku tidak ada dalam ingatannya. Aku berhasrat semoga aku akan dapat menggantikan abang ku untuk memberi kepuasan kepada kakak ipar ku.. kekasih ku. Kini bahagian sulit kami bersentuhan semula. Sekali lagi. Tapi, kami adalah dalam suasana yang amat berbeda. Suasana rela merelakan. Dengan perasaan terhubung dan jujur, bersih. Sambil itu aku pandang mukanya. Aku nikmati keindahan dan kejelitaan wajah, riaksinya sewaktu batangkan masuk menyelinap ke liang sanggamanya. Memang Kak Hanim sedemikian murni dan jelita itu. Malah lebih jelita dari hari-hari semasa ia bersama ku. Berperjalanan kemana-mana. Tekanan kepala �batang� ku yang besar itu ku lakukan dengan amat berhati-hati sekali, hingga agak sulit memasukkan liang anggota setubuh Kak Hanim walaupun kali kedua. Ku lihat matanya bagai menahan pedih. Lalu ku geselkan biar licin dengan lendir diruang cipap Kak Hanim. Kemudian aku tujukan semula. Terasa masuk sedikit kepala batang ku. Ku unjulkan perlahan-lahan hingga masuk sebahagian kepala batang ku. Spontan itu, diikuti pula dengan tenaga yang sungguh luar biasa dari dalam diri ku. Sedikit demi sedikit tenaga itu menguat. Dan Kak Hanim seakan-akan tidak merasai sesuatu yang tidak mengizinkan aku berbuat
begitu. Ia tidak membantah. Merelakan. Aku tekan lagi kedalam sambil merangkul tubuhnya agak kuat sedikit. Kini batang ku sudah masuk hingga celus kepalanya. Kemudian aku tekan lagi ke dalam. Ku tarik perlahan-lahan keluar. Cuma anggaran dua inci sahaja � takut ia akan memberi ketidakselesaan kepad Kak Hanim. Aku terus merangkul dada Kak Hanim kedada ku . Ku kucup mulutnya dan ku hisap lidahnya. Dia membiarkan sambil memberi tindak balas yang memberansangkan. Aku mulai menghenjut-henjutkan punggung ku menyorong
tarikh konek ku yang tegang bagaikna kayu keras. Aku lihat Kak Hanim menggeliat. Dia menarik nafas dan menghembuskankan. Pendek-pendek dan pantas. Aku sudah dapat merasakan suatu riaksi yang menjelaskan nikmat kepada nya. Ku rangkul bahunya lebih kuat dan erat lagi. Aku rapatkan tubuh ku ketubuhnya. Aku padukan tubuh kami. Aku tekan lebih dalam lagi. Aku diamkan sebentar. Ku lihat ia membuka matanya agak luas memandang ku. Seolah-ia mahu mempastikan bahawa seungguhnya �aku� lah yang memeluknya. Di renungnya aku. Mulutnya agak terbuka. Lalu dengan pantas ku kucup bibir yang mekar itu, terus lidah kami berhisap-hiapan. Aku kulum dengan lahap. Aduhhh�kejelitaan Kak Hanim sebagai Paragawati tercantik amat mempesonakan. Mukanya kini kemerah-merah. Memang dia seorang yang sangat jelita lebih-lebih lagi dalam keadaan begitu. Animm�..ini Madd�sayangggg� bisik ku. Perlahan-lahan bagi member kepastian kepadanya. Dia menjawab�Mmhhhh�.. saja. Memanjang bunyi rengekannya; hingga lenyap. Aku tekan batang ku perlahan-lahan kedalam� Kak Hanim membals dengan rengekan yang halus, memanggi nama ku. Suara lunaknya menjadikan kami kian merasa terpadu. Setelah batang yang lebih 6 inci itu terbenam ke dalam lubang nonoknya, mulai aku menyorong-tarik batang ku perlahan-lahan. Tindak balas darinya memberi aku rangsangan yang amat menghairahkan. Kak Hanim menggeliat. Rengekannya makin kuat. Kini kami betul-betul sedang melayan keadaan yang sama dan satu hala. Kami seakan-akan duduk dalam suatu alam yang sangat indah.
Berlayar dalan satu bahtera. Kami mengharungi sebuah lautan yang sangat permai, dihembus angin sepoi yang amat nyaman dan mengasyikkan. Kocakan perasaan yang kami nikmati sungguh-sungguh jauh berbeda. Walaupun kami pernah berdua-dua di mana, tapi perasaan kali ini cukup indah. Aku berhasrat mahu memberi kepuasan tertinggi untuknya. Kerana itu aku perlu menahan pancutan air maniku supaya jangan keluar terlalu cepat. Ku perlahankan hayunan ku. Aku angkat tubuh Kak Hanim lalu ku balikkan menungkup. Aku atur dia supaya menungging. Doggy-sytle. Dia menurut dengan lembut dan perlahan bagaikan malas. Tubuhnya kian melemah. Aku cium belakangnya bermula dari tengkuknya hingga kepinggang. Kemudian aku usap pepejal punggungnya yang putih melepak itu. Aku ramas-ramas. Sesekali ku cium dan gigit-gigit. Aku usap-usap pepejal punggunya sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya. Dia membiarkan saja. Kak Hanim dalam keadaan menungging. Punggungnya yang lebar dan pejal itu menyerah. Tangannya memegang birai katil. Perutnya ku sendal dengan bantal. Oh�.. demi terpandang saja bahagian sulitnya, hati ku makin berdebar. Ku lihat, duburnya � anggota yang paling sulit ditubuhnya itu, ku ulas-ulas dengan jari. Dia merengek dan mengelinjang kegelian. Debaran dada ku kian mengencang. Hebat. Keras sekali degupan jantung ku. Kak Hanim tidak bergerak lagi. Aku usap-usap bahagian itu. Aku terpaku. Terpegun bagai tidak tahu apa yang aku lihat. Aku tatap muka. Kemudian, bagai tidak sabar, aku tekapkan muka ku kebagaian itu. Aku cium duburnya. Ku jelirkan lidah ku. Aku jilat duburnya. Lumat. Kak Hanim mengerang. Aku lorotkan lidahku hingga ke libang vaginanya yang basaj. Ku ulit silih berganti antara dubur dan lubang kemaluannya. Kak Hanim pasrah. Aku cium puas-puas. Aku dapat merasakan suatu
perasaan yang amat indah dan bersih. Aku bukakan kedua-dua pehanya. Dia seakan-akan membantu ku dengan membukanya. Lebih luas lagi. Ku gigit-gigit daging punggungnya. Ku ramas-ramas. Sambil itu tangan ku memainkan kedua-dua buah dadanya. Ku gentel putingnya. Kak Hanim mengikut saja apa yang aku buat. Dia seperti anak patung yang tidak bernyawa. Pasrah. Nafsu syahwat sudah menguasai kami. Perlahan-lahan aku angkat lututnya menjongkok berdiri. Kini bahagian larangan itu betul-betul jelas. Nyata. Aku cium puas-puas. Suatu rasa aroma meransang menyerap keseluruh tubuh ku. Aku menekapkan muka ku di situ. Bernafas dan menghembuskan nafas di bahagian itu. Tangan ku mengusap rambut-rambut halus di bahagian atasnya. Aku usap-usap. Perlahan-lahan. Bagikan mengerti, aku usap dengan lidah ku - bagai mahu mersai sesuatu yang nikmat dengan sentuhan. Aku lekatkan kepala konek ku kecelah retakan itu. Berhati-hati. Ku gesel-geselkan. Kak Hanim menggeliat . Aku dengar dia mengerang berkali kali dan terus mengerang. Suatu tanda nikmat kepadanya. Aku biarkan supaya dia menikamati nya beberapa lama. Aku mahu dia menikmati nya. Kalau itu boleh memberi ia suatu nikmat, aku lakukan. Lama aku lakukan itu. Tidak tahu berapa lama. Sepanjang aku melakukannya, �Ntie Yam bagaikan terpukau. Aku
juga. Tapi akan bertindak, dan dia memberi riaksi. Kami saling memahami riaksi itu sebagai petanda. Sebentar kemudian aku bangun. Berdiri diatas lutut ku. Kedua-dua belah tangan memegang pinggangnya. Kuat Posisi ini melentikkan punggungnya. Menyerah. Matanya
tertutup rapat. Nafasnya tenang tapi kencang. Dia tidak bergerak. Cuma aku yang mengatur segala-galanya dan dia memberi riaksi yang merelakan saja. Perlahan-lahan dalam keadaan menungging itu, ku tancapkan kepala konek ku ke liang kemaluannya. Ku rasa seperti tersepit. Ku gesel-geselkan biar belendir. Setelah itu ku tekan. �Pllloooss�� kepala konek sudah masuk sekerat. Perlahan-lahan ku lorot masuk ke dalam lubang vaginanya yang ketat. Ku mula masukkan lagi. Kemudian tarik. Ku sorong dan tarik. Dengan kekencangan yang yang seimbang, taip-tiap pergerakan kami adalah disusuli dengan rasa nikmat. Nikmat itu meningkat dari satu gerak ke satu gerak. Kian meningkat, kian itu pula kami saling bertindak-balas. Dalam setiap tindakbalas itu, kami makin ghairah dan merangsangkan. Beberapa ketika berlalu. Pada mulanya kami berlayar dengan penuh tenang, teratur dan saling faham-memahami dan penuh timbang rasa. Kadangkala bertemu dengan ombak-ombak kecil. Kami terus berkucup-kucupan. Kucupan ku menjelajah ke dada, menyusuli puting susunya yang montok, menyentuh kulit perutnya yang licin itu. Aku teruskan menggomol seluruh tubuh Kak Hanim. Buah dada, puting
susu, celah ketiak, tengkuk, lubang telinga, semua! Makin ku rangkul tubuhnya makin aku merasai nikmat yang meningkat dengan perlakuan begitu. Makin rata-rata tubuhnya ku sentuh, raba, usap dan kucup. Sekali sekala aku gentel kelentitnya. Macam terpijak api, Kak Hanim menggelintin. Terlonjak. Dia mengerang. Aku lihat dia makin memberi riaksi. Makin kuat goyangan tubuhnya. Ia bagai menggeliat-geliat. Makin itu aku perkukuhkan pelukan ku. Aku rangkul sekujur tubuhnya. Dia juga begitu. Makin erat pelukan ku. Dia juga begitu. Kami saling berpaut. Memang kami menjadi semacam satu tubuh. Makin garang gerak-geriku makin itu pula kuatnya Kak Hanim menyambut gerak-geri ku kencang. Ia membalas. Seolah-olah waktu itu segala nikmat yang kami rasai adalah untuk kami berdua. Waktu itu terasa wujud suatu perhubungan rasa dan perasaan yang mendalam. Aku terus menghenjut dengan penuh nafsu; tetapi sangat berhati. Persetubuhan kami penuh dengan rasa kasih sayang dan cinta. Tidak ada gesaan atau paksaan. Segala-galanya adalah atas
kerelaan semata-mata. Nikmat yang kami rasa itu sungguh membahagiakan. Kini sebahagian konek ku yang lebih 6 panjang dan sebesar lengan anak baru lahir susuknya itu sudah terbenam diruang nonok Kak Hanim. Kali ini cara menungging. Belum lagi keseluruhannya. Tidak ada sesuatu yang ganjil bagi kami. Kami merasa bahawa kami ingin berkongsi untuk memiliki sesatu yang kami ada. Kami merasa ingin memiliki sesuatu keindahan. Keindahan itu kian terhampir. Tindakbalas antara kami kian kencang. Bagi ku, segala-gala yang ada
ditubuh Kak Hanim, setiap inci dan bahagian tubuhnya adalah untuk ku, untuk aku miliki. Begitu jua dia. Perasaan ini sangat murni. Kami
saling seru-menyerukan dan memanggil-manggil nama masing-masing semasa sendiri. Kucupan kami kian erat. Pergerakan ku kian kencang. Aku bagai hilang pertimbangan. Kak Hanim menyambut henjutan punggung ku dengan reaksi yang merelakan. Malah disambutnya dengan gerakan yang lebih memanaskan. Pantas� pantas bagai kuda perjuangan sedang berlari kencang. Bagi
memacu kehadapan. Ke satu hala, destinasi yang sama ingin ditujui. Ahhhhh�. arggggghhh�.. ffffffffff� uuuuhhhh�. MMaddd�!! Animm� tak tahan Maadddd� Animm�� nnnnnaaakkkkkkk �.. pppppuuuuuuuaaaaassss�.. MMMaadddd�!! Kak Hanim mengerang dengan suara yang panjang. Ku biarkan dia melayani perasaan itu. Sambil itu aku henjut lagi. Henjutan ku kian mengencang dengan konek ku yang kian keras. Ku tonjol ke kiri ke kanan dengan menggoyangkan penggul ku. Ku lihat Kak Hanim juga berbuat begitu. Ku rasa air lendir mengalir ke buah pelir ku. Aku dapat rasakan, Kak Hanim sedang menikmati penyerahan nya yang sangat-sangat ikhlas. Kami layani perasaan itu dengan penuh nikmat. Bagi kami tidak ada lagi sebarang rintangan yang enghalang. Tidak ada. Segala-galanya adalah
untuk kami. Kami berdua saja. Tiba-tiba aku rasa Kak Hanim seakan-akan merangkul birai katil dengan kuat. Mula-mula tidak sekuat itu, tetapi makin perlayaran kian menongkah arus deras, Kak Hanim makin kuat merangkul. Nafasnya kian pantas. Pantas benar. Rengekannya sudah meninggi. Dia memanggil-manggil nama ku dengan lebih kuat lagi bagai mau meminta suatu pertolongan yang tidak dinyatakan maksudnya. Aku panggil dia. Aku seru dengan nada panjang. Kak Hanim Tidak putus-putus menyeru nama ku Maadd�. sayanggg� Puaskan Aniimm�. Maddd� Animm nak puassss�.. MMMaadd..!! Dia bagai mengharapkan sesuatu dari ku. Suatu pemberian dari seorang jejaka sejati. Imbauannya menjadikan aku merasa bahawa aku sudah jadi seorang lelaki yang sebenar. Bertenanga. Sekan-akan terbit kelelakian ku. Sifat ku sebenar. Seorang lelaki yang berupaya memberi ia nikmat yang diingininya. Seorang lelaki perkasa. Aku merasa bahawa akulah seorang lelaki gagah. Aku berdaya, berupaya. Tenaga ku diperlukan. Aku seorang jaguh. Aku seorang wira. Suatu yang anih, berbeda dari sebelum ini. Tapi aku tidak dapat mengawal perasaan itu. Seakan-akan perasaan ku sudah bertukar menjadi seorang pelindung sejati. Suatu dorongan dalam rohani ku menunda-nunda ku supaya mengadaptasi karekter yang lebih bersifat �kejantanan�. Aku mesti mengusai keadaan ini. Aku seorang seorang wira. Seorang jaguh. Bagi waktu Kak Hanim memerlukan aku supaya bersifat begitu. Seorang �jantan�. Secara spontan, aku kencangkan gerakan aku lagi. Aku rangkul tubuhnya dengan lebih teguh, erat, padat. Seakan-akan ia tidak mampu bergerak. Aku pula bagai tidak peduli. Aku rasa itu lah yang memberi ia nikmat bagi ku, dan dia. Aku lihat Kak Hanim kian menggelepar. Terkapai-kapai. Nafasnya kian kencang. Makin ku pantaskan henjutan ku, makin itu pula Kak Hanim terkapai-kapai. Aku terus menerus menghenjut dengan pantas. Seolah-olah aku sedang mengemudikan sebuah bahtera yang dialun ombak besar setinggi gunung. Angin kencang pula dengan ganas menggoncang layar yang kini sedang terumbang ambing menahan hembusan
angin yang tidak lagi bertiup lunak. Kak Hanim kian kuat mengimbau nama ku. Memanjang saja nadanya�. Aku tidak lagi mampu menjawabnya. Seluruh tenaga ku, impian ku dan perasaan ku�� Ku pejamkan mata ku. Terbayang keseluruhan susuk tubuhnya yang
jelita, indah. Aku anggap dia sebagai sebuah �keindahan� yang sangat murni. Dan dia mahu aku menikmati keindahan itu. Buah dadanya bergoyang. Ku gentel puting susunya. Nafasnya kian mengencang. Begitu juga aku. Ku lihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya; kekanan - kekiri. Aku teruskan �henjutan� tubuh ku yang amat mengasyikkan itu. Aku teruskan� teruskan� menusuk. Keluar masuk. Kian
lama kian kencang� kencang�.. Aku rasa aku juga sudah merasa hampir ke puncak gunung yang sudah sebegitu lama ku daki. Aku perlu menggunakan suatu tenaga yang paling perkasa untuk sampai kepuncak itu. Nampak kepada ku, dan aku juga merasa suatu yang berbeda�. Bahawa kami sedang bergerak pantas menuju ke destinasi yang kami tuju itu. Kian hampir. Makin itu makin aku bertenaga dan bergerak lebih pantas. Bagaikan orang yang akan sampai kegarisan penamat, aku gunakan seluruh tenaga yang ada pada ku. Peluh ku menyimbah keluar. Dan aku lihat Kak Hanim sudah cukup-cukup tidak bermaya� longlai. Dan�. dan.. dalam suasana yang amat mengkhayalkan itulah� ku rangkul kedua-dua bahunya. Sekali gus aku henjut dengan sekuat tenaga ku. Ohhh�. Animm� Animm�. arrrggghhhhhh��! air mani ku terpancut. Aku rasa sekujur tubuh ku bergelombang!! Mengombah-ngombah. Argghhhhh�. sayang ohhh�!!�. Aku mengeluh. Kepala ku, ku sandarkan di celah tengukkan Kak Hanim�. Ku lihat dia bagai terdampar dan mulutnya terngaga. Dia membiarkan aku melakukan itu semua. Haargggghhhhh�.ahargg�haargggg�!! Kak Hanim bagai tercungap-cungap.
Nafasnya tersekat-sekat.. Aku terpancut dengan tiba-tiba. Aku tekan habis-habis seluruh batang ku ke dalam. Ku tarik batang ku semula. Ku henjut masuk dengan kuat memacu menembusi liang yang sempit itu. Tipa-tiap kali aku henjut masuk ke dalam, tiap kali itu pula air mani ku memancut..! Dan tiap kali pula Kak Hanim berdengus. Aaaargggggghh�arrghhhhh�.!! Kaakkkk�hakkkk�! Kak Hanim tersenggut-sengut. Tekaknya bagai tertekan-tekan. Aku tidak sedar apa yang aku sebutkan. Aku lupa diri. Kak Hanim pun begitu juga. Dia menyerahkan seluruh tubuhnya tanpa berahsia lagi. Kami tidak peduli apa yang kami lakukan, kami berebut-rebut menerima dan memberi. Sekali dalam keadaan rasa yang sangat tergian�aku henjutkan punggung ku dengan kuat. Aargggghhhhhhhhhhhhh�. pancutan ku yang terakhir itu sangat memberi kepuasan kepada ku. Mukanya memiring ke kana. Nampak kepada ku mata Kak Hanim terpejam. Nafasnya tersentak-sentak. Kami seakan-akan menyambutnya dengan penuh menghargai. Pemberian yang terakhir dari ku - dan penerimaan yang terakhir buatnya �. aku lihat Kak Hanim menggelepar. Tangannnya memegang birai katil erat-rat. Aku terus berulang kali bagai berbuai-buai menggeluti tubuh jelita. Walaupun aku bersikap keras, tetapi dengan 1001 penyerahan yang wujud di lubuk hati, Kak Hanim ku lihat sangat puas. Kami saling serah menyerahkan dengan keadaan yang sungguh mengasyikkan. Kali ini amat luar biasa. Kali ini berbeda dari yang pertama tadi. Amat luar biasa perkongsian kami. Amat nikmati bagi kuyang memberi dan jelas juga - amat nikmat baginya sebagai yang menerima. Nikmat kami berdua. Untuk kami. Dalam aku mendakapnya erat-erat itu, tanpa ku sedar. Aku meletakkan
muka ku ke bahu tengkuknya. Seakan-akan ia tidak mahu melepaskan dia. Kak Hanim menggigit mengigit bantal. Waktu itu, kami seumpama sudah sebati. Kami terdampar!! Lesu..lesu. Tidak lagi bermaya lagi. Kini kami longlai. Kami terus berpelukan. Erat-erat� Perlahan-lahan, bagai angin kencang, suasana kembali reda. Aku masih mendakap Kak Hanim. Ku balikkan tubuh Kak Hanim telentang.
Kami berpaut antara satu sama lain. Kami ingin sama-sama kembali ke dunia kami yang penuh sadar. Kami mahu sedar bersama. Kami mau seiringan kembali kedunia sebenar. Seiringan dalam dakapan yang penuh nikmat dan satu rasa. Batang ku masih lagi dalam nonoknya. Aku seakan-dalam keadaan terlena. Begitu juga dia. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan begitu. Umpama satu perjuangan, kami sama-sama seperjuangan. Kami sudah memenangi pertarungan itu. Sama-sama menang. Berjaya. Terhasil. Berhasil menikmati suatu keindahan yang tidak mungkin dapat diceritakan. Kami terlena dalam dakapan itu��. berpelukan. Kami masih telanjang.
Terkapai..terlena dan tertidur. Sebelum terlena, aku terfikir, bagaimana Abang angkat ku melakukan hubungan asamaranya dengan Kak Hanim hingga dia tidak ada perasaan langsung terhadapnya Ada Kak Hanim dipergunakan cuma sebagai alat pemuas nafsunya saja, atau cuma untuk melampaiaskan keinginan yang didorong nafsunya seorang saja Aku tak taulah� Tapi Kak Hanim nampak cukup puas bersetubuh dengan ku! Ia mencapai klimaks orgasma bertalu-talu. Kami benar-benar bersatu�.!! Jam di dinding menunjukkan pukul 3.25 pagi. Bermakna lebih satu setengah kami berperanan. Itu adalah kali kedua untuk malam itu. Bagimana pula hari-hari mendatang�

readmore>> »»