Tampilkan postingan dengan label Pengikatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengikatan. Tampilkan semua postingan

Pelampiasan Nafsu Dan Dendam

Perjalanan hidupku memang penuh dengan duri dan duka.Tak pernah terlintas dalam benakku akan mengalami nasib yang sangat menyedihkan .Aku terlahir dari keluarga yang sangat miskin sekali.Bapak ibuku hanya seorang buruh tani .Kehidupan kami jauh dari kebahagian.Hidup yang pas-pasan inilah yang akhirnya mendorongku untuk merantau jauh meninggalkan desaku,walau hanya dengan modal nekat.

Oh ya,,,,namaku Gilang�.nama yang diberikan oleh orang tuaku dengan harapan kelak masa depanku gemilang.Namun semua harapan itu hanya tinggal harapan.Tak pernah terwujud dan tak akan terwujud. Aku meninggalkan desa sewaktu aku berusia 25 tahun.Pergi merantau kekota dengan modal nekat.Sampai aku dikota ,,aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.Karena tak punya sanak saudara ,aku hidup sebagai gelandangan yang tak punya tempat tinggal,keadaan ini berlangsung sangat lama sekali.

Hingga suatu hari,,,,mungkin inilah hari yang merubah seluruh garis hidupku.Ketika itu aku melihat seorang gadis kecil yang ditodong oleh segerombolan preman yang akan merampok .Dengan perasaan ingin menolong ,Aku coba selamatkan gadis kecil ijtu dari kawanan perampok tersebut.Akhirnya terjadilah perkelahian yang sangat sengit sekali,mereka menyerangku dengan menggunakan senjata tajam.Dan,,,,salah seorang temannya tertusuk dengan senjata tersebut.Mereka kabur dan tinggallah aku dengan perampok dengan pisau yang terhunus didadanya.Perampok itu mati seketika.Beberapa saat ,,polisi datang dan menangkapku,,,hingga akhirnya aku dijebloskan dipenjara dengan hukuman 10 tahun.

Masa-masa yang panjang itu kulalui dibalik tembok yang sangat mengerikan sekali.Entah bagaimana keadaan diluar sana.Keadaan kedua orang tuaku,,,aku tak tahu.Semua terasa sangat menyiksaku. Hari-hari yang panjang kulalui dengan bermacam ragam manusia yang menghuni penjara ini.Hingga tibalah saat hari pembebasanku.Siang itu aku dipanggil menemui kepala penjara .Disana beliau memberikan surat pembebasanku dan berharap agar aku tidak kembali lagi ketempat ini.

Siang itu,,,akhirnya aku kembali menghirup udara kebebasan setelah sekian lama terkurung dalam tembok penjara.Namun,,,,ada secuil kegundahan dalam dadaku, kemankah langkah kaki akan kuarahkan,,,kekampung halaman,,sesuatu hal yang sangat memalukan,,,kemana,,,akupun bingung. Hingga aku teringat dengan teman lamaku yang dulu pernah sepenjara denganku.Ia pernah menawarkan bantuaanya padaku untuk mencarikan aku pekerjaan sekeluarnya aku dari sel.Kutemui dia dan kuutarakan niat hatiku padanya.dan ,,,,,ternyata nasib berpihak padaku,,aku ditawakan pekerjaan walau hanya menjadi jongos disebuah keluarga kaya.

Keesokan harinya aku dibawa ketempat aku bekerja dan diperkenalkan keorang yang bakal jadi majikan aku.Mereka adalah pasangan suami istri yang masih muda, belum dikarunia seorang anak.Tedy,,,,nama majikan laki-laki ,,seorang pengusaha muda yang cukup sukses,,,,berusia 35 tahun,,,,dan istrinya ,,,Silvia berusia 28 tahun.Wajahnya sangat cantik sekali,,mirip dengan salah satu artis di tanah air kita.Kulitnya halus ,,bodynya sangat sexy sekali ,,apalagi,,ukuran payudaranya itu yang sangat menggiurkan,,membuat batang kejantananku berdenyut .mungkin karena lama tak melihat wanita cantik membuat aku sangat bergairah.apalagi diusiaku yang sudah berkepala tiga,,,belum juga merasakan kelembutan seorang wanita,,membuat aku sangat mudah sekali terangsang.

Pertama aku bekerja dirumah ini,,terasa suasananya sangat sepi sekali.Maklum,,,,dirumah ini hanya dihuni oleh sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak.sang suami seorang pengusaha muda yang sibuk dengan bisnisnya,sementara sang istri mempunyai setumpuk kegiatan yang sangat menyita waktunya,,,entah apa nama kegiatannya.Paling mereka bertemu hanya diwaktu malam harinya.Sementara disiang harinya,,,rumah mewah ini hanya dihuni oleh pembantu dan aku yang baru beberapa hari bekerja disini.

Kesan pertama yang dapat kutangkap dari penampilan nyonya majikanku adalah orangnya terkesan angkuh dan sombong.Mungkin karena terlahir dari keluarga yang berada ,,sehingga kepada para pembantunya bersikap seenaknya saja tanpa memperhatikan rasa hormatnya kepada yang lebih tua darinya.

Pernah ,,,suatu ketika ,,Lastri dimaki habis-habisab oleh nyonya silvia hanya karena terlambat menyiapkan makanan siang.Mungkin karena lelah,lastri telat menyiapkan hidangan dan menyebabkan sang majikan naik pitam.semua kata-kata yang tak enak untuk didengar keluar dari mulutnya yang mungil itu. Rupanya hal yang sama terjadi padaku.Siang itu aku baru saja membersihkan seluruh pekarangan.Karena kelelahan ,,,aku tertidur dibawah pohon pinang yang ada dipekarangan samping.Aku tak mendengar klakson mobil sang nyonya .Untunglah lastri membangunkanku dan aku bergegas membuka pintu gerbang .Dia masuk dan membuka kaca mobilnya .saat itulah keluar ocehan dan makian yang membuat hatiku panas .namun apa dayaku.aku hanya seorang jongos yang harus menerima semua ocehan dari orang yang seharusnya menghormatiku ,,,karena usiaku lebih tua darinya.yang tersimpan hanyalah seberkas dendam yang akn kulampiaskan agar ia bertekuk lutut dihadapanku.
tapi bagaimanakah caranya???.

Masalahku ini akhirnya menemukan jawaban.caranya aku harus pakai kekuatan magic.Dan kebetulan aku punya temen yang bersedia membantu aku.Melalui ritual yang aku lakukan ,,,akhirnya aku dapat menguasai ilmu yang aku kehendaki dan cita-citaku bakal terwujud. Kini tibalah saatnya aku melaksanakan keiniginanku,,,untuk menyetubuhi majikanku yang cantik tapi sombong

.Malam itu tepatnya malam jum�at kliwon.suasana dirumah sangat sepi sekali.Tedy sang suami lagi keluar kota ,sementara pembantu telah pulang kerumah.Siang sebelum berangkat ,,tedy sempat menyetubuhi istrinya walau hanya sebentar.Namun dari permaianan asmara itu ,,,silvia kurang merasa puas membuat dirinya uring uringan.sehabis makan malam kuperhatikan dia duduk melamun diruang tengah sambil menyaksikan acara televisi yang kurang menarik. Aku masuk kedalam kamar pribadiku dam mulai melakukan ritual pemanggilan nyonya majikanku. Kubaca mantra -mantra yang telah kuhapal dan kukuasai.beberapa saat kemudian kurasakan kalau silvia mulai beranjak dari tempat duduknya dan perlahan menuju kebelakang ketempat aku tinggal.dan benar rupanya.,,,tak lama kemudian aku mendengar pintu rumahku diketuk dari luar.

Aku bangkit dari persemedianku dan kedepan membuka pintu rumah.Dibalik pintu telah berdiri seraut wajah cantik yang selalu menjadi impianku sekaligus dendamku karena kesombongannya.
�malam gilang,,,,boleh masuk�katanya padaku.
�malam nyonya,,,mari silahkan.
Ia masuk dan aku segera menutup pintu.Kuperhatikan dengan seksama tubuh majikanku ini dari ujung rambut sampai ujaung kaki.sangat-sangat sempurna sekali.perlahan sesuatu bergerak dari balik selangkanganku.denyut-denyut gairah mulai merambat dalam tubuhku.namun kutahan untuk sementara demi menjaga privasiku.

�gilang,,kamu belum kawin juga ya,,,,�katanya padaku.
�belum lagi nyonya,,,,mungkin nggak ada yang mau sama saya,,,khan saya hanya seorang pembantu�kataku padanya.
�jangan panggil nyonya deh,,,panggil aja silvia�
�tapi ,,nyonya nggak marah khan,,,,�
�nggak lagi�,,,,,,kan kamu umurnya lebih tua dari aku,,,jadi buat apa aku marah�

�maaf nih,,,mas tedy lagi kemana nih,,,ntar nyariin silvia lagi�
�tedy lagi keluar kota ,,katanya ada urusan kantor,,,�
�oooo,pantesan saya nggak liat dari tadi�jawabku padanya.

nampaknya silvia mulai agak ramah.Mungkin karena pengaruh dari ilmu magic yang kumiliki membuat kesombongannya hilang dihadapanku.dan peluang ini mesti aku mamfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Perlahan aku mendekatinya,,,dan sedikit kubaca ajian penakluk yang kupelajari. kupeluk silvia dari belakang.Kucium rambutnya yang halus dan wangi .Nampak sedikit reaksi dari silvia .ia menikmati kecupan lembut di lehernya.
�silvia,,,,aku menyukaimu,,,�kubisikkan kata-kata manis ditelinganya.

Sementara itu tanganku begerilya disekitar selangkangannya.Kumasukkan jari tanganku kedalam celana dalamnya dan terasalah lembah hangat diselangkanagnya.Ia menggeliat merasakan ujung jariku mempermainkan daging kecil dalam lembah kenikmatannya.Silvia mendesah lemah merasakan rangsangan yang semakin kuat.

Aku membawanya kekursi panjang yang ada diruang tamu tersebut.Kududukan ia disana .kubuka seluruh pakaian yang menempel ditubuhnya.Kini silvia tak mengenakan sehelai benangpun.Tubuhnya sangat sempurna sekali.Dua bukit kembar menjulang didadanya .dan selangkanagnnya ditumbuhi bulu hitam yang cukup lebat dan terawat rapi.

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini.dengan segera kujilat memek yamg terkembang dihadapanku.Kupermainkan lidah ku didaerah yang sangat sensitif itu.Kupermainkan lidahku didaerah klitoris nya.ia memdorong kemaluannya kedepan sehingga aku dapat menghirup aroma vaginanya yang khas itu.
Dan dalam waktu yang tak lama akhirnya silvia mencapai orgasme.

Akupun bangkit dan membuka selurah pakaianku.Begitu celana dalamku terbuka ,menyembullah batang kejantananku yang telah berdiri tegak mengacung kearah wajah silvia.Ia terkejut melihat bentuk kejantananku yang besar dan panjangTak seperti punya suaminya.Memang ukuran senjataku lumayan besar dan ditambah dengan jenis kulitku yang hitam ,membuat batang kejantananku nampak seram namun sangat menggairahkan.

Kini tibalah saatnya bagi silvia untuk memuaskan hasratku.Kuarahkan batang kejanjanaku kemulutnya.Dan,,,,dengan cepat ia menangkap penisku dan mengocok dengan mulutnya.Dimaju mundurkan batang kejantanaku didalam mulutnya membuat ukuranya semakin membesar dan penuh terisi dalam mulutnya.Ujung kepala penisku sampe menyentuh pangkal tenggorokannya.Terasa hangat sekali kuluman mulutnya.Silvia begitu bernafsu sekali mengulum batang kejantannaku yang besar dan panjang.Nampak urat-urat yang melingkar disekitarnya menambah keganasan penis yang kumiliki.

Kini tibalah saatnya aku menembakan senjataku kelubang vaginanya silvia.Perlahan kugendong dia dengan posisi tanganku ada dikedua bokongnya yang padat.pelan-pelan kumasukkan penisku kedalam memeknya yang lembab.�wah,,,,sempit banget nih memek kamu sil,,,,�kataku padanya.
Perlahan kepala penisku mulai masuk dan sedikit kutekan.Saat kutekan kuat ,,,silvia terpekik�ohhhhhhhhhh,,,,,shhhhh,,,,,sakit nih sayang,,,pelan-pelan dong,,,�desahnya.

Kutahan sebentar kepala penisku dalam vaginanya.Beberapa saat kemudian kucoba lagi menekan dan,,,,,,bless,,,penisku amblas dalam vagina silvia yang seret itu.Setelah terasa tak sakit lagi,,kumulai menggerakkan penisku naik turun.�ohhhhhhhh,,,,ahhhhhhhh,,,sayang,,,,,nikmat banget,,,�Silvia merintih kenikmatan�sayang,,,,aku mau keluar nih�
kupercepat gerakanku dan blrss,,,,terasa cairah hangat membasahi penisku .

Kucabut kembali penisku yang terbenam dalam vagina silvia.Kusodorkan kemulutnya dan dia menjilat sisa sisa cairan yang menempel dibatang kejantananku.Setelah itu aku memintanya untuk berganti posisi.Kali ini aku ingin pake gaya doggy style.Kubalikkan badannya menunggingi aku.Kubelai memeknya yang merah merekah itu.Kuusapkan ujung kepala penisku pada bibir vaginanya.Dan ,,,,bless,,,kutekan penisku hingga amblas dalam vaginanya.Kudiamkan sesaat ,,,dan aku kembali mendorong maju mundur.Kuraih dua buah dadanya yang menggantung indah.kuremas-remas sambil kupercepat hentakan penisku didalam vaginanya silvia.Beberapa saat kemudian ,silvia pun mencapai puncak orgasme.Penisku dibanjiri oleh cairan memeknya yang hangat.Dan sepertinya akupun sudah tak tahan lagi.Dan akhirnya,,,,croottt,,,,croottt,,,,spermaku membasahi lubang memeknya silvia.

Aku mencabut batang kejantananku dari dalam vaginanya silvia.Kulihat ia sangat kelelahan melayani hasrat seksualku yang telah dirasuki nafsu iblis.Namun dibalik kelelahannya itu ,tersimpan kepuasan dalam dirinya.

Silvia bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali.Sebelum kembali kekamarnya ,dia membisikkan sesuatu ketelingaku�thank say,,,,aku sangat menikmati permainanmu,,,kamu memang lelaki yang perkasa�,,,,�kapan-kapan kita nikmati lagi ya say,,,,�

Ia pergi meninggalkanku.Nampaknya malam ini adalah malam kemenanganku yang telah dapat menikmati tubuh seksi milik majikanku,sekaligus dapat menundukkan kesombongannya padaku.Dan mulai saat itu ,sikapnya benar-benar berubah,,tak lagi seperti yang dahulu.Dan kehidupankupun juga turut berubah.Tak jarang Silvia melebihkan gajiku beberapa kali lipat.Disamping itu ,,,tak jarang,,bahkan hampir setiap hari aku dapat menikmati kehangatan tubuhnya.Bahkan ia tak menghiraukan lagi gairah yang diberikan oleh suaminya yang tak ada bandingnya dengan permainan sex yang kuberikan padanya.Benar-benar gila,,,,dan kamipun menikmati kegilaan ini.

readmore>> »»  

Kenikmatan Perampokan Bank

ebuah perampokan di bank membawa pengalaman baru bagi istri seorang pengusaha. Suaminya menganggap itu kejadian musibah biasa, tapi sang istri menyimpan itu sebagai suatu rahasia. Diikat menjadi satu dengan Satpam bank akhirnya membawa sensasi luar biasa.

Chapter 1: Pandangan Suami

Perampokan bersenjata di bank siang itu membawa pengalaman traumatik bagi Aris Hendrawan (35), seorang pengusaha mutiara. Siang itu ia bersama istrinya Kristin (30) berada dalam bank tersebut untuk sebuah transaksi keuangan perusahaan mereka.

Suasana bank cukup ramai, bersama para nasabah lainnya Aris dan Kristin mengantri menunggu layanan kasir. Tiga kasir bank sibuk melayani nasabah, satu persatu.

Lima orang lelaki perbusana serba hitam ditutup jaket kulit hitam tiba-tiba masuk ke ruang tunggu dan langsung mengeluarkan senjata api jenis pistol dan sebuah laras panjang.

�Jangan ada yang bergerak.. semuanya diam, jangan membuat tindakan ceroboh atau kepala kalian akan pecah,� teriak seorang lelaki yang memimpin.

Ini perampokan, pikir Aris. Suasana sempat kacau penuh teriakan dan para nasabah berhamburan, Aris mengikuti beberapa nasabah yang lari ke lantai dua.

Kawanan rampok itu kemudian menyebar, dua orang masuk ke sisi kasir, sedangkan tiga lainnya sibuk mengacungkan senjata ke nasabah. Seorang lainnya mengejar nasabah yang lari ke lantai dua.

Aris dan enam nasabah dilantai dua tak berkutik ditodong senjata, mulit mereka ditempel lakban, sementara para nasabah di lantai dasar juga sudah sepi tak berani bersuara.

Kawanan rampok mengikat para nasabah. Ada yang tiga menjadi satu, ada yang dua menjadi satu, dan semua mulut mereka ditempel lakban.

Dari balkon dalam lantai dua, bisa melihat semua di lantai satu, tapi ia mendadak khawatir karena tidak melihat Kristin istrinya.

Seorang perampok menjaga di pintu, satpam yang berjaga di meja dalam juga tidak terlihat, hanya pakaiannya tergeletak di lantai, mungkin ia ditelanjangi rampok.

Dua kawanan rampok naik ke lantai dua untuk memeriksa letak brangkas diantar seorang wanita kasir yang ditodong pistol.

Aris mencoba bergeser ke ujung balkon, ia mencari Kritin.Aris lega, ternyata Kristin berada di sebuah lorong sempit menuju toilet. Aris meihatnya terikat menjadi satu dengan seorang lelaki tegap, ia pasti satpam bank, karena hanya mengenakan celana kolor dan kaos dalam.

Tubuh Kristin dan satpam itu terikat menyatu berhadapan dilakban melingkar dibagian pinggang dan dada. Tangan mereka juga diikat lakban ke belakang. Keduanya berbaring dilorong menyamping berhadapan, mulut masing-masing juga tertutup lakban.

Dalam suasana tegang itu, Aris melihat satpam dan Kristin terus berusaha melepas ikatan mereka dengan cara bergerak terus bersamaan untuk melonggarkan lilitan lakban.

Perampokan berjalan hampir satu jam, sampai akhirnya kawanan rampok berhasil kabur membawa jarahannya. Aris bersyukur, Kristin dan satpam bank akhirnya terlepas dari ikatan. Si satpam kemudian membantu nasabah lainnya sementara Kristin membuak ikatan Aris.

�Untung kita nggak diapa-apakan ya ma..,� kata Aris merangkul istrinya. Mereka kemudian pulang.

Chapter 2: Kasaksian Istri

Bagi Kristin, perampokan di bank itu menimbulkan trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak pernah ia bayangkan.

Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan lelaki lain membuat Kristin risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan rampok bersenjata itu.

Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti itu, Kristin melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di mulutnya setelah beruang keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.

�Tenang bu.. saya Partodi satpam di bank ini. Maaf pakaian saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sedang membongkar brangkas dan tak mungkin kembali ke mari, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini bersama ya..,� kata satpam Partodi. Kristin mengangguk saja dan berharap upaya mereka berhasil.

Partodi kemudian melepaskan lakban di mulut Kristin dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya. Kristin sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tapi kemudian berusaha tenang.

�Terus bagaimana caranya,� tanya Kristin menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di tubuh. Sepertinya sulit karena masing-masing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan.

Partodi lalu menjelaskan pada Kristin bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis.

�Kita masih punya kaki yang bebas bu. Saya akan membalik badan dan ibu harus berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki ibu bisa menjejak lantai mendorong ke arah atas tubuh saya� mungkin akan berhasil,� kata Partodi. Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih, Kristin berada di atas. Ini dilakukan Partodi agar Kristis tidak merasa berat jika Partodi yang berada di atas, sebab bobot Partodi yang tinggi besar tentu akan menyesah Kristin bila tertindih.

Posisi Kristin sudah di atas tubuh Partodi. Ia menuruti perintah Partodi dan mulai menggerakan badannya ke arah atas tubuh Partodi dengan menjejakkan kaki di lantai. Tapi rok span yang dikenakannya menghalangi usaha Kristin menjejakkan kaki secara maksimal mekantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan kakinya agar bisa melewati kaki Partodi di bawah kakinya.

Kristin terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar, akibat gesekan tubuh mereka, rok Kristin naik sampai bongkahan pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Kristin, demi usahanya menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Partodi tak mungkin melihat pantatnya karena ia berada di bawah Kristin.

�Terus goyang bu.. sudah mulai longgar ikatannya,� Partodi berbisik pada Kristin. Entah mengapa kata-kata �goyang� yang dibisikan Partodi membuat Kristin risih. Ia baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan yang erotis.



Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudara 36Dnya terus menggerus dada Partodi, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Kristin.

�Astaga.., bang Partodi. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong bang, abang nggak boleh terangsang.. ini dalam perampokan..,� Kristin berbisik balik ke Partodi saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat terasa di bawah pusar Kristin. Penis Partodi rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh Kristin.

�Oh.. ehh.. maaf bu.. saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu mengalahkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tapi saya pikir ini alami bagi lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas ikatan ini bu.. sebelum perampok itu kembali ke mari,� Partodi agak gugup dan malu menyadari Kristin mengetahui penisnya mulai bangun.

�Ya sudah.. nggak apa-apa, asal bang Partodi jangan macam-macam ya..,� kata Kristin. Ia sadar tak bisa menyalahkan Partodi. Dan lagi benar apa Partodi bahwa itu sangat alami dan Kristin juga merasakan hal yang sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek ia lakukan.

Pikirnya, perampokan bank yang menyebabkan mereka berdua berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama kompak melepaskan ikatan tersebut.

Kristin kembali memusatkan pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya menggesek tubuh Partodi dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban mulai longgar elastis.

Bagian perut Kristin sudah bisa menjangkau perut Partodi bagian atas, Kristin berusaha terus menjejak lantai agar tubuhnya terdorong naik lebih jauh.

�Ehmm bu.. coba lagi ke bawah.. terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,� suara Partodi semakin parau. Tubuh Kristin yang terdorong ke atas membuat penis Partodi kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Kristin kini sudah diatas melewati ujung penisnya.

Kristin setuju dengan Partodi, mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas sehingga ikatan lakban makin molor elastis.

Tapi gerakan ke bawah yang dilakukan Kristin justru membuat keadaan mereka berdua berubah. Pikiran masing-masing milau terpecah antara kenikmatan yang mulai dirasakan atau upaya melepas lakban.

�Enghhh..,� Kristin melenguh kecil. Ia merasakan ujung penis Partodi menyentuh CD yang dipakainya. Panis Partodi yang sudah sangat tegang terdoring keluar dari balik celana kolornya, lantaran gesekan membuat kolornya melorot. Kini, setiap gerakan Krsitin membuat koneksi ujung penis Partodi kian terasa mendorong-dorong CD Kristin. Rasa nikmat kekenyalan itu terasa semakin sering di bibir vagina Kristin yang terhalang CD.

Kristin terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konssntrasi beregerak demi melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan terjadi membuah gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia merasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari bawah Partodi juga terus bergerak berusaha melepaskan ikatan lakban ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme tersendiri dirasakan Kristin.

�Enghh.. ahhss..,� Kristin mendesah dan menghentikan gerakannya. Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat. Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Partodi mengakses bibir vaginanya lewat sisi kiri CD-nya. Kristin merasakan kepala penis Partodi sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan sudah tidak terhalang CD yang kini melenceng ke samping.

�Hmm.. bu, kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih..,� Partodi terus bergerak berusaha melepas ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan penisnya sudah menyentuh kulit vagina Kristin secara langsung, karena sisi CD kristin yang membasah tergeser ke samping.

Kristin berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis Partodi. Namun upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu, Kristin tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu naik lagi setelah ikatan melonggar kembali.

Kristin mulai putus asa. Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis Partodi mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Partodi, dalam keadaan terpaksa begitu.

Konsentrasi Kristin gagal. Gerakan Partodi dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Kristin.

�Ough..,� Partodi tak kuasa menahan desah kenikmatan merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Kristin. Ia terus bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh, tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Kristin.

Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Kristin, ia masih berusaha diam diatas tubuh Partodi sampai ada kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Partodi. Kristin akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis Partodi.

�Enghhsshh.. ahh.., bang jangan gerak duluhh.. ini nggak boleh terjadi bang, saya wanita bersuami dan abang pasti sudah beristri kan?.� kata Kristin, wajahnya bersemu merah. Tubuh dan wajah Kristin serta kulitnya yang putih mirip dengan artis Mona Ratuliu.

�Iya bu.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi, posisi kita sulit berubah selama ikatan ini..,� jawab Partodi, ia juga menjadi serba salah dengan posisi itu.

�Oke bang.. sekarang gini aja.. saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu abang bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,� kata Kristin dengan nafas berat.

�Iya.. iya. Terserah ibu. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke atasan saya apalagi polisi bu. Kalau kontol saya masuk ke pepek ibu.. nanti saya dibilang memperkosa,� Partodi polos ketakutan.

�Hnnggaak bang.. ini kan karena perampokan sialan itu, jadi bukan salah saya atau abang.. kita sama-sama berusaha keluar dari masalah ini kok.. sekarang abang diam ya.. saya akan berusaha. Ehmm� enghhmmmpp� ahssstt banngghh� ahhhkksss,� Kristin mengerakan tubuhnya bergeser ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis Partodi menelan setengah penis itu.

Partodi agak hitam kulitnya, tapi wajahnya manis seperti artis Anjasmara, dan badannya kekar. Penis Partodi dirasakan Kristin lebih besar dan padat dari penis Aris suaminya. Kristin merasakan sensasi nikmat saat kepala penis Partodi terbenam di vaginanya.

�Ayo bu.. dorong lagi ke atas biar lepas,� Partodi khawatir karena kini penisnya sudah mulai menyetubuhi Kristin.

�Iya bang.. hmmmpphh aahhss� banghhsss.. emmpphh.. ahssss,� Kristin berusaha menjejak kaki ke lantai agar tuuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Kristin tak mungkin menaikkan tubuhnya.

�Akhhss.. bangghh.. gimana inihh.. ahsss..,� Kristin kembali diam tak bergerak, separuh penis Partodi yang dirasanya mebuat nafasnya semakin berat.

�Oke.. sekarang ibu diam saya biar tidak semakin masuk kontol saya. Saya akan berusaha melepas ikatan tangan saya bu.. engghhh,� Partodi mengangkat pinggulnya dan pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya.

Partodi melakukan itu beberapa kali. Pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Kristin. Kristin sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis Partodi yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan pinggul Partodi.

�Akhhss bangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk� enghhhmm,� Kristin semakin mendesah, kini pinggul Kristin melayani gerakan Partodi, ia malah berusaha agar penis Partodi terasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Partodi sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas. Tapi libido yang sudah tinggi membuat Partodi bukannya melepaskan ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuak kancing-kancing baju Kristin dan meremasi payudara Kristin.

�Emmphhh� banghhsss emmphhhhsss,� Kristin semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu, kini bibirnya menyambut bibir Partodi, mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama.

Partodi meloloskan susu Kristin dari Bra-nya dan mulai menghisapi payudara Kristin, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah dan mengamit sisi CD Kristin agar penisnya mengakses jauh vagina Kristin. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Kristin, tangannya menekan dan meremasi pantan Kristin membuat Kristin semakin mendesis.

�Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya sudah lepas.. kita bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,� Partodi bertanya sambil menahan kenikmatan digenjot Kristin. Ya pinggul Kristin sudah cukup lama menggenjot Partodi membuat penis Partodi bebas keluar masuk ke vagina Kristin.

�Akhh banghh� sshh.. terserah abanghhh sekaranghhh.. ouhss..,� Kristin sudah sangat melayang merasakan kenikmatan penis Partodi, apalagi rangsangan Partodi secara liar di payudaranya membuatnya semakin hilang kendali.

�Baik buhh.. akhh.. kalau begituhh kita tuntaskan duluh.. ouhsss..,� Partodi kemudian melepaskan ikatan tangan Kristin tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap seperti semula.

�Iyaahh banghh.. terusinnn duluhh� akhhsss.. ouhh�,� tangan Kristin yang sudah bebas langsung merangkul leher Partodi dan keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Kristin semakin liar.

Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Partodi membalik tubuh Kristin sehingga kini Kristin ditindihnya. Ia lalu menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Kristin secara utuh. Cairan vagina Kristin menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali berbenturan dengan pangkal penis Partodi.

Kristin merasakan gerakan Partodi makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Partodi dengan menggoyang pinggulnya.

�Oughh.. banghhhss� akhhsss.. sayaahhh banhgg� akhhhsss say..ah.. sampaaiiihhh bangghhsss� ouhhhggg�,� Kristin merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Partodi yang terus menerus menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan puncak.

�Aghh� ahhh� yehh� buhhh� akhhsss uhhh�mmmpphhh..,� Partodi membenamkan seluruh penisnya ke vagina Kristin dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Kristin sambil bibirnya langsung melumat bibir Kristin. Tubuh keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual.

Beberapa saat setelah itu, Partodi lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan pingang mereka. Mereka berdua lalu merapihkan busana masing-masing. Perampokan baru saja usai, dan kawanan perampok sudah meninggalkan bank dengan barang jarahannya.

�Emm.. bu.. maafkan atas yang bausn terjadi bu. Saya hilaf� engg..,�

�Sudah.. sudah bang. Lupakan saja ya.. saya juga hilaf..,� Kristin memotong pembicaraan Partodi. Keduanya lalu berkenalan lebih jauh dan berjanji untuk sama-sama menyimpan kejadian itu hanya di antara mereka berdua.

Keduanya lalu berpisah, Partodi menolong membebaskan nasabah bank di ruang tunggu, sementara Kristin mencari Aris suaminya yang terikat di lantai dua. Kristin menjaga rahasia bahwa apa yang dilihat Aris dari lantai dua tak seperti yang sesungguhnya terjadi dan dinikmati olehnya.()

readmore>> »»  

Faraku sayang

Cerita ini bermula ketika aku berumur 18 tahun. aku mula berkenalan dengan seorang gadis yang sebaya dengan umurku. Namanya Fara, tinggi lebih kurang 160cm dengan berat mungkin tidak lebih dari 40kg. Setelah hampir setahun kami bersama, hubungan kami semakin rapat. Sehinggakan ciuman di bibir menjadi satu perkara biasa. Bermula di dalam kereta aku pada suatu hari, kami ketika itu dalam perjalanan pulang balik dari makan malam di sebuah restoran di Damansara. Seperti biasa ketika aku sedang memandu, Fara akan melentokkan badanya kepadaku. Tangan kanan memegang stereng manakala sebalah lagi memeluk pinggang Fara. Malam itu aku begitu terangsang melihat Fara yang memakai T-shirt ketat yang menampakkan bahagian atas dadanya yg putih itu. Dengan perlahan tangan aku yang dari mulanya di pinggang Fara naik ke atas perlahan-lahan sambil mengusap. Dari pinggang ke lengan, naik ke bahu, kemudian jari jemariku bermain pada tali bra fara. Aku sempat menjeling ke arah Fara, dia hanya memejamkan mata sambil tersenyum. Mungkin Fara sedang menikmati belaian jari jemariku pada tubuhnya. Aku cuba memberanikan diri dengan mengusap di cup bra pula. Dengan lembut jari jemariku bermain di situ. Kadang kala aku meramas lembut. Aku melihat Fara masih lagi memejamkan mata dan tidak melarang aku. Aku menjadi semakin berani dan mula mencium dahinya sambil aku memasukkan tangan kiri ku ke dalam bajunya. Jariku mula memasuki bra dan kemudianya mencari puntingnya. Aku usap perlahan-lahan sambil meramas lembut. Fara mula membuka mata sambil tersenyum dan mencium bibirku dengan lembut. Melihat reaksi Fara itu, aku semakin berani dan membuka butang seluar jeansnya. Jari ku menarik zip sluarnya dengan perlahan. Selepas itu jari jemariku masuk kedalam panties Fara. Aku mainkan jariku pada bulu cipap Fara yang nipis itu. Ku turunkan jariku melewati bulu-bulu halus dan singgah di atas alur cipap Fara. Fara mula merengek dan menggerakkan tubuhnya lebih rapat kepadaku. Aku mula mengusap lurah cipap Fara dari atas ke bawah berkali-kali. Kadang kala jariku singgah di biji kelentitnya dan mengkuis-kuis sehingga Fara memdesus kesedapan. Aku mainkan biji kelentit Fara sehingga aku dapat rasakan lurah cipapnya sudah basah dengan air nikmatnya. Aku melakukan aktiviti tersebut sehingga sampai ke rumahnya. Seperti biasa, aku akan singgah di rumahnya, dan kali ini keluarga Fara tiada di rumah. Satu nota ditinggalkan dia atas meja memberitahu bahawa mereka semua akan balik lewat pada malam ini. Aku dan Fara pandang sesama sendiri. Kami teruskan aktiviti kami di dalam kereta tadi di bilik tidur Fara. Sampai di biliknya, aku terus memeluk Fara dari belakang sambil mencium tengkuknya. Sambil aku mencium tengkuknya aku mainkan dengan lidahku sekali. Tangan aku pula sibuk meramas payudara Fara dari luar baju. Sekali sekala tanganku meramas lembut pada cipap Fara. Fara yang sudah tidak keruan lagi berpaling kearahku dan mencium bibirku. Bibir kami bertaut dan adegan hisap menghisap berlaku. Sambil bercium aku menanggalkan baju Fara. Fara membantu aku dengan mengagkatkan kedua belah tanganya. Kemudian aku membuka butang seluar jeansnya. Kini Fara hanya memakai bra dan panties di hadapanku. Bra dan panties Triumph bewarna hitam yang cukup menawan. Pemandangan yang cukup indah sekali kerana kulitnya yang putih dan licin sekali. Kami menyambung semula adegan cium tetapi dengan lebih rakus. Aku mencium bibirnya dengan rakus. Dari bibir turun ke leher aku jilat dengan lidahku. Aku turun lagi ke pangkal payudaranya. Aku cium dan hidu sepuasnya. Memang wangi. Apetah lagi dengan kulit yang putih dan licin macam Fara ni. Aku hidu sepuasnya. Aku cium dan jilat pangkal payudaranya sambil jariku membuka hook bra Fara. Bila dah terbuka aku lemparkan branya ke lantai. Kelihatan Fara malu dan menutup dengan kedua belah tanganya. Katanya ini pertama kali lelaki melihat payudaranya. Dengan lembut aku membuka kedua belah tanganya sambil mencium bibirnya. Payudara Fara tidaklah sebesar mana. Mungkin bagi aku cuma saiz 36. Tapi cukup untuk memukau mana-mana lelaki. Dengan kulit yang licin dan putih serta putingnya yang coklat merah jambu. Aku terus menjelirkan lidahku ke puting susunya. Fara mula mengerang apabila aku memainkan puting susunya dengan lidahku. Aku kemudianya memasukkan puting susunya kedalam mulutku. Sambil aku menyedut perlahan aku mainkan lidahku pada puting susunya. Erangan Fara semakin kuat bila aku menyedut-nyedut puting susunya. Sedang mulut dan lidahku sibuk menjilat dan menyedut kedua-dua payudara Fara, tanganku mula membuka pantiesnya. Dengan bantuan Fara senang saja aku menangkankannya. Aku mula membaring kan Fara di atas katil. Aku melihat sekujur tubuh yang masih segar lagi. Kulit yang putih dan licin. Dengan payudara yang montok dan di bawah bulu-bulu halus di cipapnya. Aku membaringkan badanku di sebelah Fara. Aku sambung kembali menyedut puting susunya yang coklat merah jambu itu. Sambil itu jari-jariku bermain pada bulu-bulu halus cipap Fara. Erangan Fara semakin kuat. Nafas sudah tidak keruan lagi. Aku membesarkan lagi kangkangan Fara dengan tanganku. Sambil mengerjakan puting susunya, aku mainkan jariku di lurah cipapnya. Sudah basah lencun ku rasakan. Aku mainkan jariku di lurahnya dari atas ke bawah berkali-kali. Kemudian aku mencari biji kelentitnya. Aku usap dan kuis manja. Fara semakin tidak keruan dengan menggeliatkan tubuhnya. Sensasi yang dirasakan cukup nikmat buat dirinya. Dari puting susunya aku jilat ke perut, turun lagi ke bulu-bulu cipapnya. Aku hidu sepuasnya. Aku teruskan dengan lidahku singgah pada atas lurah cipapnya. Pada ketika itu, kepalaku berada di tengah-tengah kangkangan Fara. Aku kangkangkan kaki Fara luas-luas. Dengan cipap yang tidak terlalu tembam dihadapanku dengan sedikit bulu-bulu halus di atasnya. Aku diam seketika untuk menikmati pemandangan yang indah. Cipapnya yang putih kemerahan, bibir cipapnya yang masih tidak berkedut lagi. Aku yakin Fara masih Dara. Aku mulakan dengan menjilat cipapnya. Aku mula menjilat dari bawah cipapnya ke atas. Aku lakukan berkali-kali dengan perlahan. Erangan Fara semakin kuat. Tanganya meramas kepalaku. Sesekali bila aku mainkan lidahku di cipapnya, lidahku singgah pada lubang cipapnya. Aku jelirkan lidahku kedalam lubang nikmat itu dan aku mainkan dengan lidahku. melentok-lentok tubuh Fara bila aku buat begitu. Kemudian aku mula menjilat pada biji kelentitnya. Jilatan pertamaku disambut dengan erangan yg cukup manja dari bibir Fara. Aku pasti Fara sudah hanyut dengan sensasi nikmat yang sedang dia rasakan sekarang. Aku kemudian menyedut-nyedut bijinya dengan lembut. Fara mengerang dengan lebih kuat. Tangannya meramas dan menolak kepala ku mungkin kerana tidak tahan lagi. Namun aku teruskan juga dengan lebih agresif. Aku sedut dan menjilat dengan rakus kelentit Fara sehingga kakinya kejang. Aku berhenti seketika dan melihat reaksi Fara. Matanya terpejam dan dia hanya mengerang kecil. Nikmat yang aku berikan tadi mungkin hebat baginya. Tidak lama kemudia Fara mula membuka matanya dengan perlahan-lahan. Dia tersenyum dan berkata "sedap sangat abang buat tadi. Fara suka abang buat begitu". Aku hanya tersenyum. Kini mata Fara mula menjeling ke arah batangku yang mengeras di dalam seluarku. Aku membuka bajuku sambil Fara membantuku membuka seluarku. Aku lihat Fara agak janggal sekali. Fara memberitahu ini pertama kali dia melihat batang lelaki. Aku menyuruh Fara "blow" batang aku."tapi Fara tak pernah lagi bang... Fara malu la". "takpa sayang...cuba dulu ok?". Fara hanya mengangguk manja. Dia memainkan batangku dengan lidahnya saja pada mulanya. Kemudian mula menjilat di kepala batangku. Sungguh lembut lidah Fara kurasakan. Dari jilatan Fara mula berani memasukkan kepala batangku ke dalam mulutnya."aahhh.." bunyi aku mendesus. Sungguh hangat sekali mulut Fara. Dari kepala batangku, Fara mula memasukkan batangku sedikit demi sedikit sehingga setengah batangku di dalam mulutnya. Dari perlahan hingga ke laju Fara menghisap batang ku. Sekejap saja sudah pandai kata hatiku. Dari tengah batangku Fara menyedut sehingga ke kepala batangku dan kemudian Fara menjelirkan lidahnya menjilat dari telurku naik ke kepala batangku. Cukup lembut dan nikmat sekali permainan lidah Fara. Kagum aku dengan bakatnya. Setelah puas "blow" batang aku, kini tiba adegan yang penting. Aku baringkan Fara sambil aku bertindih di atasnya. Aku cium dahinya turun ke bibirnya. Bertaut seketika lidah kami, kemudian aku cium kedua belah payudaranya. Kini aku sudah memegang batangku di tengah-tengah kangkangan Fara. Aku melihat Fara hanya tersenyum kerelaan dengan muka yang manja sekali. Aku memainkan kepala batangku pada kelentit Fara. Fara mengerang lembut. Aku basahkan kepala batangku dengan air yang keluar dari lubang cipapnya. Aku masukkan dengan perlahan-lahan. Agak sempit juga lubang cipap Fara. Aku tekan lagi dengan perlahan-lahan sehingga seluruh kepala batangku terbenam di dalam cipapnya."ok sayang?" tanyaku kepadanya. Fara hanya mengangguk manja. Aku tekan lagi batangku. Baru saja tekan sedikit tangan Fara mula menahanku."sakit bang.." aku berhenti seketika. Aku mula mencium bibir Fara. Aku perlu mengalihkan rasa sakit Fara supaya batangku dapat pergi lebih dalam. Kami French Kiss seketika. Kemudian aku menjilat dan menyedut-nyedut puting susunya. Fara kembali mengerang nikmat."aaahhh..aahhh..sedap bang..".ketika itu juga aku mula menekan batangku untuk masuk lebih dalam. Aku membisikkan di telinga Fara supaya tahan sikit. Fara hanya mengangguk. Sedikit demi sedikit batangku masuk kedalam lubang nikmat Fara. Terasa sempit dan suam-suam panas rasanya. Memang cukup nikmat sekali. Lebih-lebih lagi cipap yang masih dara seperti Fara. Aku membiarkan seluruh batangku berendam di dalam lubang nikmat Fara. Aku tidak mahu tergesa-gesa kerana ini kali pertama Fara merasai kenikmatan bersetubuh. Aku mencium bibirnya dengan manja."sakit lagi yang?" tanyaku. "dah ok..mula-mula tadi je bang"."memanglah..sebab Fara masih dara lagi kan?" tanyaku lagi. Fara hanya mengangguk manja sambil tersenyum."sekarang ni dara Fara dah jadi milik abang..Fara rela..Fara sayangkan abang dan Fara tak menyesal bang". kata Fara kepadaku. Aku mencium manja matanya dan turun ke bibir. Bibir kami bertaut dan mula bercium dengan manja. Dan ketika itu juga aku mula menyorong batangku keluar masuk dengan perlahan. Hampir lima minit batang aku keluar masuk di dalam lubang nikmat Fara dengan perlahan. aku lihat Fara mula mengerang nikmat. Sakit yang dirasakan permulaan tadi hilang. Hanya rintihan nikmat yang aku dengar dari mulut Fara."aaahhh...aaahhhh...sedap bang..emmmhh.. sedapnya..sayang". Melihat reaksi Fara itu. Aku mula melajukan dayungan batangku. Sambil kedua tanganku memegang kedua belah kakinya supaya kangkangan Fara tetap lebar aku terus mendayung dengan laju. berkocak payudara Fara ku lihat. Sungguh indah sekali permandangan yang aku sedang lihat sekarang. Dengan mata yang tertutup, mulut Fara tidak henti-henti melafaskan ayat-ayat nikmat. Aku lihat tangan Fara mula menarik cadar katil."laju lagi bang...sedap bang.. eemmhh..." erang Fara. Hampir sepuluh minit aku mendayung kemudian aku berhenti seketika. Aku lihat raut wajah Fara penuh nikmat. Akanku berikan kenikmatan yang pasti tidak dapat Fara lupakan malam ini. Aku menyuruh Fara menonggeng pula. Fara hanya mengikut pintaku. Cukup menarik sekali pemandangan kali ini. Punggung Fara yang bulat dan tidak terlalu besar itu menonggeng dihadapanku ditambah pula punggungnya memang melantik semulajadi. Tersembul cipapnya ketika Fara dalam keadaan begitu. Aku yang geram melihat cipap Fara terus membasahkan kepala batangku dengan air liur. Aku kangkangkan sedikit kaki Fara. Dengan perlahan aku memainkan kepala batangku yang basah pada alur cipapnya. Akanku kerjakan lubang nikmat Fara sepuas-puasnya. Perlahan-lahan aku memasukkan batangku. Fara mula mengdengus kenikmatan."eemmhh...". Setelah habis kesemua batangku di dalam lubang nikmat Fara. Aku mula meletakkan kedua tanganku ke atas punggung Fara. Aku mendayung dari perlahan hingga laju. Bunyi hentakan yang cukup nikmat terbit dari punggung Fara bila aku mendayung."sedapnya bang..laju lagi bang... Fara sedap ni..eemmhhh...eemmhh.." erang Fara. Memang sedap sekali lubang nikmat Fara. Terasa kemutan demi kemutan lubang nikmatnya pada bantang aku. Aku terus mendayung dengan lebih laju sambil tanganku meramas-ramas payudaranya. Fara mengerang lebih kuat. Kenikmatan yang dirasakanya tidak disia-siakan oleh Fara. Lebih kurang 15 minit dengan aksi begitu aku berhenti untuk berehat."kenapa abg stop?..Fara tengah sedap..Fara suka abg buat laju-laju tadi". Aku hanya tersenyum. Kemudian Fara menggenggam batangku dan mula menjilat."arrgghhh..". Sungguh sedap sekali Fara menjilat batangku. Dalam aku keadaan baring, Fara naik mencangkung di atasku. Dengan gengaman tanganya pada batangku. Fara mula mengacukan memainkan batangku pada alur nikmatnya. Fara sudah tidak malu lagi dalam mencari kenikmatan yang dia inginkan. Dengan perlahan dia memasukkan batangku sedikit demi sedikit kedalam lubang nikmatnya. Apabila habis semua batangku di dalam. Fara diam seketika sambil memejam mata. Mungkin dia ingin merasakan betapa nikmatnya apabila kesemua batangku di dalam lubang nikmatnya. Dapat kurasakan kemutan demi kemutan yang Fara lakukan. Begitu sedap dan nikmat sekali aku rasakan."sedap syg?. Kata Fara sambil tersenyum nakal. Aku membalas dengan senyuman. Fara mula turun naik dengan laju. Payudaranya berkocak membuatkan aku geram melilatnya. Tanganku meramas-ramas dengan ganas. Puting susunya ku gentel sepuasnya. Fara mengerang nikmat tanpa henti. Sesekali Fara menundukkan kepadanya untuk mencium aku. Fara terus mendayung dan mengemut batangku dengan ganas."sedap bang..Fara nak sampai..sikit lagi bang..". Kata Fara. Fara yang hampir ke puncak nikmat terus mendayung dengan laju sambil aku menyedut puting susunya. Tidak lama Kemudian Fara menghempaskan pungggungnya dan terus mencapai puncak kenikmatan."aahhhhhhh...eemmhhh...eemmhhh.." erangan yang terbit dari mulut Fara. Dapatku rasakan betapa hangat dan banyaknya air nikmat yang keluar dari lubang Fara. Melihat Fara sudah mencapai ke puncak nikmatnya. Kini tiba giliran aku pula untuk mengeluarkan air maniku. Tiba masa aku untuk mengakhiri persetubuhan yang sedap dan nikmat ini. Aku lihat Fara tersenyum manja dengan mata yang layu. Sungguh geram aku melihat raut wajah Fara ketika ini. Ketika aku ingin mengakhiri persetubuhan ini, Fara membisik ke telinga ku dengan nada yang manja."Abang baring je ok?.. biar Fara puas kan abg.Fara tahu abg sukakan Fara kat atas abg kan?"katanya dan kemudian mencium pipiku. Fara mulakan dayungan dari perlahan hingga laju. Raut wajah Fara cukup mempersonakan ketika dia sedang melepaskan geram pada batangku. Payudaranya yang putih dan gebu itu berkocak membuat aku semakin geram. Aku meramas kuat dan menjilat puting susunya yang tidak terlalu besar itu. Aku kemam putingnya dan memainkan dengan lidah di dalam mulutku. "eemmhh...eemmhhhh...sedapnya syg..jilat lagi syg...Fara suka abang sedut kuat-kuat". Erang Fara sambil dia menggoncang laju punggungnya. Dapat kurasakan air nikmatku hampir keluar."syg..abg nak pancut ni". Namun Fara tetap mendayung batangku. Kemudian Fara membisikan dengan nada yang tercungap-cungap kepadaku."abg lepaskan semua..eemmhh.. abang pancut dalam lubang Fara..eemmmhhh...". Aku terkejut apabila mendengar kata-katanya sambil tersenyum. Ketika batangku hendak melepaskan air nikmat, aku memeluk erat pinggang Fara supaya dia menghentikan dayungannya. Dengan memeluk pinggang Fara dengan erat, batangku kini betul-betul berada di kedalaman yang paling maksimum lubang nikmatnya. Dengan satu erangan yang kuat dari aku "aarrghhh...sedapnya syg" maka memancutlah keluar air maniku yang selama ini tersimpan. Pancutan air nikmatku disambut dengan erangan nikmat Fara "eemmmhhh...sedapnya syg..keluarkan semua syg... emmmhh...". Bertalu-talu air mani aku memancut di dalam rahim Fara. Semua air mani yang ada aku tidak sia-siakan. Semuanya kusemai kedalam rahim Fara. Kemutan demi kemutan yang lubang nikmat Fara lakukan untuk memerah saki baki air maniku. Tidak cukup dengan itu, Fara menggelek pungggungnya untuk memberi kenikmatan pada batang aku. Setelah puas lubang nikmatnya menggelek batangku, Fara yang mengcangkung di atasku mula bangun sambil mengemut lubangnya pada batangku hinggalah ke kepala batangku untuk memastikan semua air nikmatku di dalam lubang nikmatnya. Aku mengeluh kepuasan yang teramat sangat. Fara pula baring di sebelahku sambil memelukku dengan erat. Dan kami bangun untuk membersihkan diri. Sekali lagi Fara menjilat dan menghisap sisa-sisa lelehan air nikmat kami. Sambil berjalan ke bilik mandi, dapat ku lihat lelehan air maniku yang bercampur air nikmat Fara dan juga darah daranya meleleh di celah kakinya. Aku tersenyum puas dengan apa yang aku alami tadi. Fara juga tersenyum manja kepadaku dan memeluk pinggang ku menuju ke bilik mandi."lubang Fara ni untuk batang abang saja..air mani abang saja yang boleh pancut kat dalam dan Fara akan sentiasa kemut batang abang sampai semua air keluar tau. Kata Fara dengan manja sambil mencium tangan ku. Selepas hari itu, aku dan Fara selalu mengadakan hubungan seks. Fara sudah pandai dalam pelbagai posisi. Fara cukup pandai untuk memuaskan dan mengemut sehingga semua air maniku keluar. Fara memang suka mengakhiri seks kami dengan air maniku di dalam rahimnya. Katanya itu sebagai pelengkap kepada setiap kali kami melakukan seks. Fara juga mengambil pil cegah hamil supaya tidak mengandung."nanti bila dah kawin Fara nak abang hamilkan Fara cepat-cepat. Hanya air mani abang je yang boleh hamilkan Fara. Katanya kepada aku yang masih lagi aku ingat. Dan sekarang kami telahpun berkahwin. Memang tak sampai setahun berkahwin perut Fara sudah membesar. Kami masih lagi melakukan hubungan seks ketika Fara sedang mengandung. Tapi kali lakukan dengan posisi yang doctor berikan. Ketika mengandung, aku tetap penuhkan rahim Fara dengan air maniku.
Pandangan ahli

readmore>> »»  

Kalau awak tak boleh bayar saya

�Apa!!... kau mahu adik aku buat apa saja...?!! Termasuk tidur
dengan kau?!!�. "Ya... Macam mana? Ada setuju?� �Bangsat!!... ii!!
Kau ingat aku nak bagi� pergi dari sini... pergi!!�. �Ok.. ok.. no
problem. Tapi ingat... saya kasi chance sama awak sampai esok
tengahari saja. Kalau awak tak boleh bayar saya punya hutang... esok
tengahari juga awak mesti keluar dari rumah saya�. Maniam terus
menaiki motosikalnya dan terus beredar. Manakala Rokiah berasa
serba-salah dan terasa kesal kerana memaki Maniam yang sudah banyak
kali menolongnya. Dia buntu memikirkan dari mana hendak mencari
wang.

�Kak�. �Eh� Ani� bila balik dari sekolah?�, Rokiah terkejut apabila
melihat adiknya yang baru berusia lima belas tahun itu muncul dengan
tiba-tiba. �Kak� Ani dah dengar apa yang Maniam mahu. Kak... kita
ikut sajalah apa yang Maniam mahu�. �Apa??!! Ani mahu kita turut
kemahuan dia??�. �Kak� kita ni orang susah. Nak buat macam mana
lagi. Suami kakak dah mati. Saudara mara kita pula tak peduli
langsung nasib kita. Kawan yang sanggup menolong kita pun tak ada.
Kita nak tinggal kat mana lagi Kak. Anak kakak pula baru umur 4
bulan. Takkan kita nak biar dia merempat. Sewa rumah yang paling
murah macam ni pun kita tak mampu nak bayar. Sekurang-kurangnya
Maniam sanggup bagi kita pinjam duit. Sewa rumah pula boleh
tangguh�.

�Malu kakak kalau orang tahu Ani buat begitu. Mana kakak nak letak
muka. Ani juga akan menyesal nanti�. �Kalau kena caranya orang tak
akan tahu. Kalau orang tahu pun, saya tak kesal. Lebih baik dari
kita terus susah�. �Jangan kata macam tu Ani� jangan cakap macam
tu�, Rokiah terus memeluk adiknya. Perasaannya bercampur aduk sama
ada hendak menyerahkan adiknya kepada Maniam atau hidup melarat.
Sebahagian dari dirinya terasa berat hendak menggadaikan adiknya
tetapi sebahagian lagi terasa lega dengan kesanggupan adiknya namun
penuh serba-salah.

Keesokan harinya, seperti yang di janjikan, Maniam muncul lagi.
Manakala Rokiah pula kelihatan menanti kedatangan Maniam dengan
penuh debaran. �Macam mana� Rokiah sudah ada duit?�. �Masuk rumah
saya dulu�, Rokiah terus menjemput Maniam tanpa mempedulikan soalan
Maniam. Lelaki India yang berusia lima puluh tahun itu tidak berkata
apa. Dia terus mengikut saja Rokiah masuk ke dalam rumah sambil
tangannya mengusap perut boroinya yang sedang kekenyangan. Baru
sudah makan tengahari. Sebaik saja melangkah masuk, mata Maniam
memandang ke seluruh bahagian rumah yang sempit itu. Manakala Rokiah
terus memangku anaknya sambil membelakangi Maniam. Kemudian terus
menyusu anaknya.

Mata Maniam melihat sepasang tilam bujang di atas lantai di sebelah
kirinya. Luas sepasang tilam itu saja sudah menghampiri satu
perempat dari keluasan rumah itu. Kemudian pandangannya terus ke
dalam bilik air. Mencari Ani. Tetapi Ani tidak ada disitu. Nampaknya
Rokiah sudah ada wang, fikir Maniam separuh kecewa. �Awak duduk dulu
sekejap, saya nak bagi anak saya minum susu�, arah Rokiah. Maniam
hanya menurut. Beberapa saat saja Maniam melabuhkan punggung, Ani
pula muncul di hadapan pintu dengan pakaian skirt biru dan baju
putih. Maniam melihat Ani yang sedang berbaju sekolah itu. Maniam
sempat melihat buah dada Ani yang agak kecil tapi kelihatan montok.
Apabila menyedari Maniam sedang melihat buah dadanya, segera Ani
masuk ke dalam rumah lalu meletakkan beg sekolahnya. Perasaan Ani
mula berdebar-debar.

Ani dan kakaknya berpandangan mata buat beberapa ketika.
Masing-masing seolah-olah memahami apa yang patut dilakukan. �Ani...
kakak keluar dulu... ya�, Rokiah terus mencium pipi Ani dan berjalan
menuju ke pintu sambil mendukung bayinya. Manakala Maniam mula
mengukir senyuman. Barulah dia tahu Rokiah sememangnya tiada duit.
�Sekejap kak. Kalau kakak keluar nanti, orang di luar fikir apa pula
kalau saya tinggal di dalam rumah dengan Maniam?�. �Betul juga.
Macam mana sekarang? Maniam� kalau saya keluar, nanti orang tahu apa
yang awak dengan adik saya buat. Susah saya. Malulah saya�. Maniam
berfikir seketika. �Tak apa� tak apa, tak ada problem. Rokiah duduk
di dalam rumah juga. Saya dengan Ani tetap buat juga�.

Rokiah dan Ani berpandangan buat beberapa ketika. Kemudian Ani
menggangguk sambil melihat kakaknya seolah-olah meminta kakaknya
menerima sahaja cadangan Maniam. �Kalau Ani setuju� saya ikut saja.
Tapi pintu rumah pun kena buka sikit. Saya tak mahu orang lain syak
apa-apa�. �Wookey� tak ada problem, kalau itu macam semua sudah
setuju, saya mahu telanjang sekarang�, kata Maniam sambil terus
menanggalkan pakaiaannya sendiri di hadapan mereka tanpa segan silu.
Rokiah segera mengalihkan pandangan ke arah lain apabila melihat
Maniam bertelanjang bulat. Ani pula memejamkan matanya. �Ani jangan
malu� tengoklah butuh saya. Saya mahu Ani buka mata... ok�. Ani
membuka mata. Lemah lututnya. Seekor gorilla yang berbulu hampir
seluruh badan sedang menghampirinya. Manakala pelirnya yang separuh
tegang kelihatan terhangguk-hangguk setiap kali Maniam melangkah.
�Macam tulah Ani� jangan malu tengok butuh saya. Ani baring atas
tilam�. Maniam terus menyelak skirt Ani hingga ke pinggangnya
sehingga menampakkan pusat dan seluar dalamnya yang agak lusuh.

�Ani punya seluar dalam pun sudah lama, kalau Ani ikut apa saja saya
suruh saya boleh kasi duit sama Ani. Ani bukan saja boleh beli
seluar dalam tapi macam-macam barang lain lagi boleh beli. Sekarang
Ani buka seluar dalam Ani�. Ani menanggalkan seluar dalamnya dengan
penuh debaran dan rasa malu. �Wah... Ani kecik-kecik sudah ada
banyak bulu. Tak ada bulu lagi bagus. Tapi tak apa� burit Ani tetap
cantik... mmmm seronok juga tengok Ani malu-malu. Sekarang saya mau
kasi Ani lagi tambah malu. Saya mau Ani buka kaki luas-luas�.
Setelah kedua-dua kaki Ani terkangkang luas, Maniam segera berlutut
di antara kedua-dua kaki Ani. Jarinya yang kasar itu terus meraba
kemaluan Ani. Rakus dan gelojoh sekali. �Tolong perlahann Maniam�
sakit�, Ani yang agak lama berdiam diri mula bersuara.

�Sakit mana?�. �Saya punya� sakit. Tolong jangan raba kuat sangat�.
�Mana satu tempat? Awak punya burit pun ada banyak kawasan juga�.
�Semua kawasan sakit... kalau Maniam raba kasar sangat�. �Macam
inilah� mana-mana tempat rasa sakit, Ani cakap Ani rasa sakit�.
�Saya tak faham�. �Ooo� tak faham... tak apa..., nanti Ani faham�.
�Maniam!!� sakit� sakit!!�. �Sekarang apa tempat sakit?�. �Saya
punyalah sakit!!!�, Ani mula meninggikan suara tapi tidak terlalu
kuat. Takut jirannya terdengar. �Saya tahu� tapi cakaplah apa yang
sakit�. �Saya punya... saya punya biji�, jawab Ani dengan suara
perlahan bercampur malu. �Apa� saya tak dengarlah�. �Burit aku
sakitlah!!� Biji kelentit aku sakit!.... jangan gentel biji kelentit
aku dengan cara kasar. Sakit!!! Tahu tak!!!�, Ani menjerkah Maniam.
Rasa malunya tiba-tiba terus hilang.

�Ani� Ani� perlahan sikit suara tu� takut nanti orang dengar�,
Rokiah segera masuk campur apabila terdengar suara Ani yang agak
kuat itu. �Macam itulah Ani. Kadang-kadang saya mahu dengar Ani
mencarut juga. Tapi mencarut perlahan tahu�. Maniam ketawa melihat
Ani yang sedang marah sehingga mencarut-carut. Kemudian dia cuba
membuka lubang burit gadis itu seberapa luas yang boleh. Jarinya
dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam burit gadis dan membuka
buritnya lebih luas lagi seolah-olah ingin melihat sesuatu di dalam
burit gadis itu. �Waahh... Ani, saya boleh nampak awak punya dara.
Saya banyak untung hari ini, ini lubang belum pernah kena jolok
lagi�. Ani terasa hendak menendang muka Maniam.

�Ani� sekarang saya mahu Ani pegang butuh saya. Kemudian gosok
kepala butuh saya pada burit Ani. Ingat� Ani mesti tengok butuh saya
gesel dengan burit Ani�. Walaupun malu bercampur jijik, Ani tetap
memegang pelir Maniam dan terus menggosok kepala pelir Maniam pada
kemaluannya dan terus patuh dengan arahan Maniam menggosok tanpa
berhenti. Manakala matanya melihat pelir Maniam. Kegebuan bahagian
sulit gadis itu memang mengasyikkan Maniam. Ani dapat melihat pelir
Maniam semakin membesar. Ketika itu juga Ani dapat membandingkan
betapa besarnya pelir yang tidak berkhatan itu dengan lubang
buritnya yang masih kecil. Kecut perut Ani melihatkan pelir Maniam
yang luar biasa besarnya walaupun agak pendek. Risau Ani apabila
memikirkan lubangnya akan disumbat dengan benda yang hampir dua kali
lebih besar dari lubangnya buritnya sendiri. Maniam pula meraba-raba
kedua-dua ketul buah dada Ani yang masih berbalut uniform sekolah.
Ani pula masih terus-menerus menggeselkan pelir Maniam ke
kemaluannya.

�Ani� tahu tak� makin keras butuh saya tandanya saya makin seronok.
Ada tahu tak Ani?�. Ani benar-benar meluat mendengar celoteh Maniam.
Begitu juga dengan Rokiah yang turut terdengar celoteh Maniam.
Semakin lama pelir Maniam bergeselan dengan kemaluannya, Ani terasa
semakin geli. Ani terasa kemaluannya secara tidak langsung mula
terangsang. Kemaluannya mula dilimpahi air mazinya sehingga kepala
pelir Maniam mula dibasahi air mazi Ani. Dia berasa takut dan malu
kalau Maniam menyedari yang dia mula terangsang. Ani cuba menahan
kemaluannya dari terus-menerus terangsang. Tetapi agak sukar
baginya. Maniam masih lagi belum menyuruhnya berhenti menggesel.
Lebih-lebih lagi Maniam mahukannya menekan kepala pelirnya lebih
kuat pada kemaluannya. �Banyak pandailah Ani gosok. Lagi� gosok lagi
Ani. Banyak sedap. Ani pun nampak ada seronok. Air burit Ani pun
banyak keluar. Tak apa� jangan malu. Kasi keluar air burit Ani
banyak-banyak. Nanti butuh saya senang sikit masuk dalam burit Ani�.
Ani terasa lemah apabila mendengar Maniam hendak memasukkan pelirnya
yang besar itu ke dalam buritnya.

�Sekarang saya mahu Ani meniarap pula�. Ani membuat saja seperti
yang di suruh. Tidak berminat mengambil tahu apa tujuan Maniam.
Manakala Maniam cuba memperbetulkan tubuh Ani mengikut posisi yang
di ingininya. �Ani pusing-pusing ini macam� ok�. Ani terus saja
membuat seperti yang disuruh Maniam. �Ya� ya bagus itu macam�, puji
Maniam lagi. Rokiah yang dari tadi tidak senang duduk, melihat juga
ke arah Ani dan Maniam. Ingin tahu apa yang sudah berlaku pada
adiknya. Rokiah bagai tidak percaya melihat apa yang berlaku.
Adiknya berada dalam keadaan mengonggeng. Punggung adiknya terangkat
tinggi sambil tertonggek. Manakala skirt biru adiknya tersingkap
hingga ke pinggang. Tonggekannya itu menyebabkan celah punggungnya
terbuka sendiri sehinggakan Rokiah terlihat lubang jubur adiknya.
Punggungnya pula bergoyang-goyang betul-betul berada di hadapan muka
Maniam.

Rokiah terasa sebak melihat keadaan adiknya itu yang terpaksa
melakukan semua itu semata-mata hendak memuaskan nafsu Maniam.
�Maniam... tolong jangan suruh dia buat macam tu lagi. Tolonglah
kesian pada adik saya. Dia pemalu. Janganlah suruh dia buat macam tu
lagi. Tolonglah Maniam�, rayu Rokiah dengan nada perlahan dan sebak.
�Tak boleh, dia mesti buat ini macam baru saya rasa seronok�, jawab
Maniam sambil cuba membuka dan melihat lubang burit Ani. �Tak apalah
kak, Ani tak apa-apa. Kak jangan risau�. Ani cuba memujuk kakaknya
manakala punggungnya tetap terus bergoyang di hadapan muka Maniam.
�Bagus. Itu macamlah saya mahu. Sentiasa kasi saya seronok. Ani
jangan malu. Pusing laju lagi�. Rokiah akur dengan keputusan Ani dan
sedar tak guna memujuk orang yang sedang di kuasai nafsu seperti
Maniam itu.

�Ok� ok cukup cukup. Saya punya butuh sudah tak tahan. Dia sudah
mahu masuk lubang burit Ani. Saya mahu Ani baring semula�. Sebaik
saja Ani berbaring, Maniam terus meletakkan dua biji bantal di bawah
punggung Ani. �Siap� Ani kangkang luas-luas. Saya ingat Ani pun tahu
saya punya butuh banyak besar, lubang burit Ani agak kecil. Jangan
takut punya� butuh saya pernah masuk burit lebih kecil dari burit
Ani. Tak ada problem punya. Tapi... first time punya� Ani tahanlah
sakit�. Ani sendiri tidak tahu sama ada hendak berasa lega dengan
kata-kata Maniam atau sebaliknya. �Sekarang saya letak kepala butuh
saya dekat lubang burit Ani dulu. Saya tekan sikit kepala butuh saya
kasi masuk dalam lubang burit Ani. Tengok sini... tengok butuh saya
masuk dalam burit Ani�. Ani hanya mendiamkan diri. Jantungnya
berdegup kencang. Matanya melihat ke arah pelir yang hitam melegam
itu. Rokiah yang turut mendengar turut berdebar-debar. Mata Rokiah
sempat mencuri lihat, memandang ke arah hujung kepala pelir Maniam
yang mula memasuki mulut burit Ani.

Maniam menolak ke dalam lagi sehinggakan Ani terasa mulut lubang
buritnya terasa ternganga luas dan cekang. Maniam terus berusaha
memasukkan kepala pelirnya. Ani mula terasa tidak selesa. Dengan
satu tujahan juga kepala pelir Maniam terus ke dalam burit Ani. Ani
menjerit kecil kerana terkejut dengan tujahan tersebut kerana
menyangkakan mulut buritnya akan terkoyak. Lubang buritnya terasa
sendat dengan kehadiran kepala pelir Maniam itu. Kini kepala pelir
Maniam berada di antara mulut buritnya dan selaput daranya. Ani
dapat merasakan kehangatan kepala pelir Maniam. Dalam kedudukan itu,
dia terasa kepala pelir Maniam dalam keadaan menolak selaput
daranya. Selaput daranya masih belum pecah. Hanya sedikit jolokan
saja lagi selaput daranya akan pecah. Rasa sakit dan tidak selesa
pada buritnya mula di rasai.

�Ok� ready Ani� saya mau terus jolok masuk banyak kuat dan laju.
Saya mahu Ani kira sampai tiga. Lepas itu baru saya jolok. Ingat!!
Sentiasa tengok butuh saya. Kira sekarang�, kata Maniam sambil
melihat wajah ayu Ani yang mula sebak. �Satu.......�, Ani mula
mengira sambil matanya terbeliak memerhati pelir Maniam penuh debar
�Dua....... Tiga....... Aaarrghhh�Sakiit� Maniam. Tolonglah
Maniam... jangan kasar sangat� sakiiit!!�. Pada mulanya Ani cuba
menahan dari menangis. Tapi rasa tak berdaya. Dia terus merintih dan
menangis. Namun matanya tetap melihat ke arah pelir Maniam yang
sedang memasuki lubang buritnya. Maniam tidak ambil peduli. Dia
terus menjolok dengan kuat, kasar dan sedalam-dalamnya. Sengaja dia
buat begitu. Dia sengaja ingin menambahkan kesakitan Ani. Tangisan
Ani menambahkan lagi keghairahannya.

Jolokan Maniam terhenti apabila kepala pelirnya sampai ke
penghujung. Barulah puas hati Maniam. Ketika itu Ani terasa lubang
buritnya begitu sendat berisi. Kehangatan pelir Maniam terasa
membakar seluruh lubang buritnya. Buritnya pula sakit
berdenyut-denyut. Maniam mula melocok pelirnya. Burit Ani yang
sempit itu menambahkan lagi kenikmatan yang dirasai Maniam.
Kedudukan punggung Ani yang lebih tinggi dari kepalanya sendiri
membolehkan Ani melihat dengan jelas pelir Maniam bergerak keluar
masuk dari lubang buritnya sendiri.

Kira-kira dua minit kemudian Maniam berhenti melocok. Kepala
pelirnya menekan mulut rahim Ani. Dia merangkul erat tubuh Ani. Ani
dapat merasakan seluruh anggota tubuh Maniam berhenti bergerak.
Seluruh tubuh Maniam tiba-tiba saja menjadi kaku. Seketika kemudian
buritnya dapat merasakan pergerakan pelir Maniam. Kali ini Maniam
tidak melocok. Pelirnya terkodek-kodek di dalam burit Ani. Serentak
itu juga burit Ani dapat merasakan cairan hangat berhamburan keluar
dari hujung pelir Maniam. Lubang buritnya yang kecil itu disimbahi
dengan cairan pekat.

Buat beberapa ketika suasana menjadi sunyi. Maniam masih memeluk
Ani. Ani dapat merasakan pelir Maniam mula lembik terutamanya kepala
pelirnya yang mula mengecut. Namun pelir Maniam yang sememangnya
besar itu tetap membuatkan burit Ani terasa sendat. Ani cuba
menyelesakan sedikit buritnya yang sedang kesakitan itu dengan tidak
banyak bergerak. Tetapi masalahnya Maniam pula seringkali bergerak
menyebabkan pelirnya turut bergerak. �Rokiah... banyak sedap
betullah... burit adik awak. Ketat betul burit dia. Saya sangat suka
burit ketat macam ini�, kata Maniam sambil melepaskan tubuh Ani yang
dirangkulnya tadi. Rokiah benar-benar marah mendengar kata-kata
Maniam itu. Terasa hendak menendang muka Maniam. Tetapi dia tetap
cuba bersabar. Dia menoleh ke arah Maniam. Kemudian melihat adiknya
yang sedang terbaring terkangkang. Rokiah juga terpandang pelir
hitam yang sebahagiannya terbenam ke dalam kemaluan adiknya yang
putih kemerahan itu. Memang sah adiknya bukan dara lagi.

Rokiah rasa benar-benar bersalah tapi kerana adiknya nekad hendak
melayan kehendak Maniam, Rokiah yakin adiknya akan dapat melaluinya
dengan tabah. �Maniam bagaimana dengan hutang saya?�. �Hutang kira
selesai tapi rumah punya sewa belum selesai. Saya boleh tolong awak.
Kalau awak tak mahu bayar sewa bila-bila pun tak apa. Tapi bila-bila
masa saya mahu Ani� awak kena bagi�. Rokiah mendiamkan diri
seketika. Dia tak sanggup memberi kata putus. Dia menoleh ke arah
Ani. Ani menganggukkan kepala menandakan dia bersetuju. �Awak tanya
sendiri pada Ani�, kata Rokiah. �Macam mana� Ani setuju� bila-bila
masa saya mau burit Ani�Ani mau bagi tak?�. �Ya��, Ani menjawab
dengan suara yang lemah. �Kalau itu macam baaaguslah� saya
betul-betul seronoklah�, kata Maniam penuh gembira. Buat beberapa
ketika Maniam hanya memandang ke seluruh bahagian tubuh. Dia membuka
butang baju Ani. Kemudian barulah jarinya menggentel-gentel puting
tetek Ani. Sesekali dia turut meramas tetek Ani. Jarinya bergerak
turun perlahan-lahan ke bahagian perut menuju ke pusat. Kemudian
menuju ke tundun Ani.

�Saya mahu tengok lubang kencing Ani pula...�. �Suka hati engkaulah�
ii!!!� maki Ani di dalam hatinya. Dalam keadaan pelirnya yang masih
berada di dalam burit Ani, Maniam cuba mengangakan kemaluan Ani
sambil mencari-cari lubang kencingnya. Sesekali Ani terasa ngilu
pada kemaluannya apabila jari Maniam mengelebek kemaluannya
semata-mata hendak melihat lubang kencingnya. �Saya sudah jumpa...
sudah jumpa lubang kencing Ani�. Beberapa ketika kemudian Ani mula
terasa lubang buritnya yang sedia berada dalam keadaan cekang
menjadi lebih cekang lagi. Rupa-rupanya pelir Maniam sudah kembali
menjadi besar dan keras kembali. �Jaga Ani. Tahan sikit. Saya punya
butuh sudah seronok balik. Ingat mesti selalu tengok butuh saya�.
�Apalah yang bangga sangat dengan butuh tak bersunat tu�, Rokiah
pula merungut di dalam hati.

Maniam mula melocok pelirnya. Air maninya yang bertakung di dalam
burit Ani memudahkam locokannya bergerak dengan lebih lancar lagi.
Maniam terus-menerus menghayunkan pelirnya sambil melihat muka Ani
yang berkerumut menahan kesakitan. Namun dalam keadaan sakit itu Ani
tetap melihat pelir Maniam yang bergerak keluar masuk dari buritnya.
Ani sekadar menaruh harapan agar Maniam cepat puas.
Sekurang-kurangnya seperti tadi. Sudah hampir lima minit, namun
belum ada tanda Maniam akan sampai kemuncak. Ani mula rasa gelisah
dan lemas. Kakinya turut terasa lenguh kerana agak lama terkangkang.
�Saya sudah mau pancut� sudah mau pancut� Ani� saya pancut dalam
burit Ani ya. Boleh tak Ani? Jawablah� Ani. Cepatlah jawab. Boleh
tak Ani?�. �Suka hati awaklah. Saya cuma takut mengandung�. Ani
sekadar bersuara dengan nada yang lemah. Namun lega apabila
mendengar Maniam akan mengakhiri pelayarannya. �Aaaahhhhh...... saya
sudah pancut dalam burit Ani. Sedap betul burit Ani. Ahhh sedap
betul. Ani jangan takut. Nanti saya bagi duit... Ani beli ubat tahan
mengandung ya�.

readmore>> »»  

Akibat Sakit Hati

Siang itu suasana kantor PT. ANGIN RIBUT begitu sepi. Di sebuah ruangan, di lantai dua, sang manajer, Ir Basmir namanya, tengah melamun. Sambil duduk dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja, ia terus saja berpikir. Ya, ia memang sedang kasmaran dengan seorang gadis. Gadis itu tak lain adalah Linda, bawahannya sendiri.
Linda memang cantik dan seksi. Di usianya yang baru mencapai 28 tahun, tubuhnya memang sempurna dan menantang birahi setiap pria yang memandangnya. Terutama dadanya yang terlihat amat membusung indah. Linda ini sudah cukup lama bekerja di kantor itu. Ia kini menjadi Kepala Bagian Pemasaran dan Distribusi yang membawahi 70 orang karyawan. Berkali-kali Basmir mengajak Linda untuk makan malam, tetapi selalu ditolaknya. Berbagai alasan diutarakannya. Capailah, atau alasan lain, mungkin dia sudah punya pacar. Inilah yang membuat Basmir berpikir keras sejak tadi.

"Hmmm... gimana caranya supaya ia bisa takluk di pelukanku..? Nah... aku tahu sekarang... Aku akan menemui orang itu nanti malam..." tiba-tiba Basmir teringat seseorang yang mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan Linda.

Dengan penuh semangat, ia mengemudikan mobilnya menuju sebuah hutan terpencil sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Rupanya, orang yang ia tuju adalah seorang tua yang tidak lain adalah dukun ilmu hitam. Namanya Mbah Za'in. Orang ini terkenal di seantero kota itu sebagai dukun santet yang amat sakti. Apapun keinginan orang yang datang padanya pasti tercapai. Ia belum pernah gagal. Orang yang datang padanya tinggal memberinya upah, baik uang ataupun barang yang lain. Tidak jarang mereka menghadiahkan wanita untuk ditiduri oleh sang dukun. Tua-tua keladi, makin tua nafsunya makin jadi.

Saat Basmir sampai di rumah tua itu, segera saja ia mengetuk pintu.
"Siapa di situ?" terdengar suara Mbah Za'in dari dalam.
"Permisi, Mbah... boleh saya masuk..?" teriak Basmir.
"Ya, silahkan..." jawab Mbah Za'in sambil membuka pintu kayu yang sudah agak reyot itu.
Setelah disuruh masuk, Basmir langsung duduk di ruangan tengah rumah tua itu yang penuh dengan bau kemenyan. Bulu kuduknya terasa mulai berdiri. Diperhatikannya seluruh isi ruangan itu. Memang menyeramkan suasananya. Ada tengkorak, kepala macan, kain-kain bergelantungan yang berwarna hitam dan merah darah, lalu seperti tempat pedupaan yang berada persis di hadapannya.

"Ada perlu apa, Nak Basmir malam-malam kemari..?" tiba-tiba Sang Dukun bertanya.
Basmir tentu saja kaget tidak kepalang. Ia tidak menyangka Mbah Zain mengetahui namanya. Benar-benar sakti.
"Eh... anu Mbah.., saya butuh pertolongan. .. saya suka dengan seorang gadis... Linda namanya, kebetulan bawahan saya sendiri di kantor... tapi saya selalu ditolaknya bila saya mengajaknya keluar makan malam... Nah ini fotonya..." jawab Basmir dengan terbata-bata sambil mengeluarkan dari kantong kemejanya selembar foto close-up seorang gadis berambut panjang sebahu yang amat cantik.
"Oh begitu..." jawab Mbah Za'in sambil memegang foto itu dan kemudian mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang.
"Bisa... bisa... tapi apa upahnya nanti kalo kau berhasil mendapatkan dia, heh..?"
"Jangan kuatir, Mbah... Saya sediakan 100 juta rupiah buat Mbah... dan kalo saya bisa mendapatkan dia malam ini juga, setengahnya saya berikan dalam bentuk cek sekarang juga... Gimana Mbah..?"
"Baiklah..." jawab si dukun, "Kalo begitu buka pakaianmu... kau cukup hanya mengenakan celana dalam saja, lalu duduklah dengan posisi bersila di hadapanku... "

Basmir pun menuruti semua perintah si dukun. Setelah itu, Mbah Za'in kemudian membaca beberapa mantera dan menabur kemenyan di atas pedupaan di depannya. Tidak lama kemudian, terdengar petir menggelegar dan lampu ruangan itu tiba-tiba padam lalu hidup lagi. Basmir pun kemudian memejamkan matanya. Saat itu juga, roh sukma Basmir seperti terlepas dari tubuhnya dan seperti melayang pergi ke luar rumah itu. Roh sukma Basmir yang setengah telanjang itu bergerak menuju rumah Linda yang berjarak sekitar 18 kilometer dari sana.

Di rumahnya, Linda tengah berusaha tidur. Ia mengenakan daster putih yang amat transparan. Di baliknya, ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Payudaranya yang berukuran 38 jelas terlihat, demikian juga dengan bulu-bulu kemaluannya yang menghitam. Setiap malam, ia selalu tidur dengan cara begitu. Ia merasa gerah karena panasnya udara yang terus saja menaungi ruangan kamarnya. Tiba-tiba saat ia ingin terlelap, berhembuslah angin yang terasa menusuk sum-sum tubuh. Ia terbangun. Jendela kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan angin itu masuk. Dan memang angin aneh itu adalah terpaan roh sukma Basmir kiriman sang dukun. Roh sukma Basmir bisa melihat posisi tubuh Linda tapi Linda tidak melihat apa-apa. Ia hanya merasakan terpaan angin aneh itu.

Sekonyong-konyong seperti ada dua tangan kekar merobek baju daster Linda. Linda yang kaget menjadi ketakutan setengah mati. Ia berusaha melawannya. Tapi ia kalah cepat. Daster itu lebih dulu robek. Ia kini telanjang. Dan roh sukma Basmir dengan sengaja mendorong tubuhnya jatuh telentang ke ranjang. Dengan cepat roh Basmir mencium bibir, wajah, leher dan payudara Linda yang besar itu. Linda berusaha melakukan perlawanan. Tapi ia bingung, sebab ia merasakan ciuman-ciuman itu tapi sosok yang menciumnya tidak terlihat. Beberapa menit kemudian, karena putus asa, ia menyerah. Roh Basmir kemudian membuka celana dalamnya. Lalu penisnya yang sudah membesar diarahkan ke mulut Linda.

Karena sudah merasa terangsang oleh ciuman-ciuman itu, Linda pun mulai mengulum penis besar tegak yang tidak kelihatan tapi terasa wujudnya itu. Ia mengulum, menghisap-hisap, dan menjilat penis itu. Kalau ada orang yang melihat Linda saat itu, pastilah orang itu akan mengira bahwa Linda sedang berpantomim dengan memperagakan gerakan oral seks. Tapi Linda memang merasa ada penis besar tegak sedang dihisap dan dijilat-jilatnya. Tanpa membuang waktu lagi, roh sukma Basmir segera membuka kedua kaki Linda. Tampak sekarang liang kewanitaannya yang sudah basah karena terangsang berat. Roh Basmir pun segera mengarahkan penisnya ke liang kemaluan Linda.

Dengan sekali dorongan, "Blesss... jeb... bless..." masuklah penis besar tegak itu ke lubang senggama Linda.

Linda terlihat merem-melek merasakan senjata aneh itu keluar masuk di liang ajaibnya. Darah segar pun mengalir keluar dari vaginanya. Darah perawan, karena memang selama ini Linda belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Karena merasa keenakan, Linda pun mengimbanginya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya ke atas, ke bawah dan berputar-putar. Kemudian roh sukma Basmir pun mengangkat tubuh Linda dan menyuruhnya untuk menungging. Ia lantas menusukkan penisnya dari belakang. Dan penis itu pun masuk tanpa halangan lagi. Linda terlihat menikmati tusukan penis itu.

Dan sejam kemudian, roh sukma Basmir pun seperti akan mencapai puncak orgasmenya dan ia pun menumpahkan maninya ke sekujur tubuh Linda yang saat itu telah tergolek tidak berdaya. Setelah puas, roh itu seolah-olah terbang kembali ke tempat asalnya. Linda yang kemudian tersadar, menjadi bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi kemudian ia sadar bahwa sesosok makhluk tanpa bentuk telah menodainya dan ia tidak tahu siapa sebenarnya makhluk itu. Ia lantas menangis tersedu-sedu. Nasi sudah menjadi bubur. Ya, keperawanannya telah hilang. Entah apa yang akan dikatakannya pada Robert, pacarnya bila akhirnya mereka menikah suatu hari nanti.

Sementara itu di rumah sang dukun, Basmir yang telah berpakaian lengkap kembali, tersenyum puas.

"Terima kasih Mbah... Ini cek senilai 50 juta yang tadi saya janjikan... Saya akan memberikan sisanya bila Mbah mampu membuat Linda menjadi tergila-gila pada saya..." ujarnya dengan senyuman licik di wajahnya.
"Oh... itu gampang.... telan saja telur empedu rusa Kalamujeng ini... dijamin besok pun gadis itu akan kau nikmati lagi kesintalan tubuhnya..." jawab si dukun sambil mengambil sebuah benda mirip telur hijau kecil dari kantong jubah lusuhnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Basmir menelan telur itu.

Keesokan harinya, apa yang dikatakan Mbah Za'in benar-benar terjadi. Saat suasana kantor pagi itu belum terlalu ramai, pintu kantor Basmir diketuk seseorang. Ketika Basmir menanyakan siapa yang mengetuk, suatu suara lembut berujar, "Maaf Pak... saya ingin berbicara sebentar dengan Bapak..."
Mendengar suara itu, bukan main girangnya hati Basmir. Ya, itu suara Linda. Inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Dengan bergegas ia membuka pintu itu, dan ternyata benar. Linda tampak cantik berdiri di sana dengan mengenakan rok mini. Sebuah senyuman genit tampak di wajahnya. Tanpa membuang waktu lagi, Basmir menarik tangan Linda. Ia lalu membawanya ke sofa besar di pojokan ruang kantornya itu. Dengan cepat ia mencium bibir Linda dan Linda pun membalasnya dengan semangat. Tangan Basmir pun segera menggerayangi tubuh mulusnya. Pertama-tama yang dituju adalah tentu saja buah dada besarnya.

Dibukanya kancing kemeja Linda, lalu disingkapkannya BH-nya, dan segera saja payudara itu diremas-remasnya tanpa ampun. Linda tentu saja menggelinjang hebat. Lalu ia dengan inisiatif sendiri membuka semua pakaiannya. Melihat itu, Basmir tak mau kalah. Penisnya sudah tegang seperti siap untuk berperang. Tanpa disuruh lagi, saat keduanya sudah telanjang total, Linda jongkok dan meraih penis itu untuk dikulum, dihisap-hisap lalu dijilatnya sambil membelai-belai kantong zakar Basmir. Basmir merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada taranya. Kepala penisnya dijilat-jilat dengan penuh nafsu oleh Linda. Setelah penis itu benar-benar tegak, kini giliran Basmir yang mencoba membuat Linda terangsang. Diciuminya bulu-bulu kemaluan Linda, lalu lidahnya dengan sengaja dijulurkan ke dalam vagina Linda sambil berusaha menarik-narik keluar klitorisnya.

"Uh... uh... uh... uh... aduh nikmatnya... Terus Bas... terus..." kata Linda dengan tangannya memegang kepala Basmir yang kini sedang bergerilya di pangkal pahanya.
"Masukin sekarang aja, Bas... kumohon, Sayangku..."
Mendengar itu, Basmir segera mengajak Linda bermain di atas meja kantornya yang cukup besar. Basmir rebahan di sana dan Linda langsung naik ke atas pahanya. Posisi mereka berhadapan. Dengan penuh kelembutan, Linda membawa penis Basmir yang sudah tegak dan besar itu ke liang kenikmatannya. Dan ia pun dengan sengaja menurunkan pantatnya

Dan, "Bless... bless... jeb... plouh..." penis itu tak ayal lagi masuk separuhnya ke lubang kemaluan Linda.
Sementara Linda terus saja naik turun di atas pahanya, Basmir segera dengan posisi duduk meraih payudara Linda dan mencium serta menghisapnya seperti seorang bayi yang sedang disusui oleh ibunya. Setengah jam berlalu, tapi permainan birahi mereka belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kemudian Basmir turun dari meja itu, lalu menyuruh Linda menungging dengan tangan berpegangan pada pinggiran meja itu. Penisnya yang kini telah basah oleh cairan vagina Linda kembali diarahkan ke lubang senggama Linda.

Dengan sekali tancap, penis itu masuk.
"Bless... bless... clop... plak... plak..." terdengar bunyi daging paha keduanya bergesekan dengan keras.
Tiba-tiba saja, kedua mata Basmir terbeliak yang berarti ia sebentar lagi akan ejakulasi.
"Di dalam atau di luar, Lin..?" tanyanya di tengah-tengah puncak nafsunya.
"Di dalam aja deh... biar nikmat, Bas..." jawab Linda seenaknya.
Dan benar saja, "Crot... crot... crot... crot..." sebanyak sembilan kali semprot, mani Basmir keluar di dalam liang senggama milik Linda.
Sisa-sisa mani yang ada pada kepala penis Basmir, kemudian dibersihkan oleh Linda dengan lidah dan mulutnya. Bahkan sebagian di antaranya ada yang ditelan olehnya. Keduanya kemudian saling melemparkan senyum puas.

Sejak itu, Basmir dan Linda menjadi sepasang kekasih. Dimana pun mereka memiliki kesempatan, mereka selalu berhubungan seks. Sampai saat itu, Linda tidak pernah tahu bahwa Basmir lah yang pertama memperawaninya melalui roh sukmanya. Memang hebat ilmu hitam si Mbah Za'in..!

readmore>> »»  

Ramuan Penakluk Wanita

Perkenalkan nama saya Heri, umur 35 tahun. Kisah ini terjadi sekitar akhir Desember 2007, dimana aku berhasil menyentuh dan meraba-raba sampai puas tubuh bugil tetanggaku yang lumayan cakep dan mulus. Begini ceritanya, aku mempunyai tetangga depan rumah yang di huni oleh seorang gadis yang lumayan cakep dan seksi, Phida namaya. umurnya berkisar 20 tahun. Setiap pagi aku selalu memperhatikan Phida kalau lagi menjemur pakaian dengan masih mengenakan daster, uh kadang kontolku sampe ngaceng melihat kemulusan body-nya, aku menghayal andaikan aku bisa berbugil ria dengan Phida, oh sungguh nikmatnya dunia.. Tapi sayang, gadis tetanggaku yang bernama Phida ini angkuhnya minta ampun, sama tetangga engga pernah mau ngumpul, jadi agak susah juga untuk ngajak dia jalan.

Hingga suatu hari pada saat saya sedang makan di warteg dekat rumah ada orang setengah baya yang menawarkan pelet kepada saya, tadinya saya tidak tertarik, tapi setelah orang itu menanyakan kepada saya apakah ada cewek yang jadi incarannya saya langsung teringat sama Phida, hmmm mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa mendekati Phida, akan aku bikin telanjang bulat di depanku kalau peletnya memang ampuh. Dan akupun langsung membeli pelet tersebut dan orang itu langsung memberi tahu aku caranya, ( bagaimana caranya pelet ini bekerja tidak aku ceritakan di sini, karena rahasia ).

Singkat cerita, ternyata aku berhasil memelet Phida, yang secara tiba-tiba menelpon aku ke rumah, yang kebetulan aku sendiri yang angkat teleponnya. Phida minta aku untuk mengajaknya jalan, dan aku langsung setuju aja, karena kapan lagi bisa jalan sama cewek cakep kaya Phida. Aku pun persiapkan diri setelah mandi aku langsung keluarkan motorku dan langsung menuju perapatan di , dimana Phida sudah menunggu aku di situ. dengan mengenakan tshirt merah menyala dan celana jeans yang super ketat, sehingga tubuh seksinya benar-benar terlihat nyata. Phida pun tersenyum kepadaku dan langsung naik ke motorku, dan tanpa aku suruh dia langsung memeluk badanku sehingga tonjolan dadanya terasa banget di punggung, uhuuuuy peletku berhasil, aku bersorak dalam hati..

Mula-mula aku mengajak Phida makan di sebuah restoran padang, sambil menikmati makan, aku membuka percakapan :

�Memang Phida mau jalan2 ke mana sih�. aku bertanya.

�Kemana aja Mas, yang penting aku bisa deket-deket sama Mas Heri�.

�Gimana kalo ke puncak kita nginep semalam mau engga..?�,

�Mau banget Mas, tapi aku telepon mama dulu ya, bilang aja nginep ke rumah temen, mama pasti percaya�,

�OK deh�. jawabku dengan perasaan gembira, ga terasa kontolku jadi ngaceng membayangkan peristiwa nanti malam yang aku rasakan.

Pukul 17.30, akhirnya sampailah kita di puncak, dengan menyewa villa type standar, saya dan Phida langsung masuk ke dalam ruangan melihat fasilitas yang ada, aku langsung menyalakan AC sedangkan Phida langsung menuju menyalakan televisi dan langsung duduk di lantai yang beralaskan karpet. Aku langsung menghampiri phida sambil membawa makanan dan minuman, dan kemudian duduk di samping Phida. Aku langsung membuka minuman fanta kemudian aku tuang ke gelas, kemudian aku sodorkan ke Phida, tapi mungkin karena tanganku menghalangi penglihatannya ke televisi sehingga tangannya langsung menangkis tanganku, dan akibatnya minuman di gelas itu tumpah persis mengenai dadanya. Dengan refleknya langsung saja aku usap-usap dadanya sambil meminta maaf, tapi nampaknya Phida tidak marah. Aku merasakan ketika mengusap dadanya ada sesuatu yang menonjol begitu lembut sehingga membuat kontolku menjadi nyut-nyutan, aku jadi makin keenakan memegangnya sampai-sampai dengan tidak sengaja tanganku meremas gundukan yang menonjol itu. Phida agak sedikit menjerit menerima remasanku, dan aku segera melepas remasanku,

�Maaf ya Phida, habis dada kamu bikin enak di pegang sih� aku beranikan diri bicara.

�Engga papa kok Mas, aku tadi menjerit juga karena keenakan Mas� katanya dengan sedikit malu-malu.

�Oh klo gitu aku pegang lagi ya, tapi biar lebih enak lagi di buka aja kaosnya, aku buka ya� aku berbicara sedikit gemetar karena napsu. Phida hanya mengangguk tanda setuju. Kemudian dengan tangan sedikit gemetar aku buka tshirt-nya, maka tampaklah kulit dadanya yang putih mulus, dengan payudara yang tidak terlalu besar yang di tutupi oleh BH warna hitam. Aku langsung meremas kedua payudaranya dengan kedua tanganku, remasan yang begitu lembut sehingga membuat Phida memjamkan matanya karena keenakan. Setelah puas aku langsung membuka Bh-nya, maka tampaklah puting-nya yang merwarna merah kecoklatan, siap menantang untuk di hisap. Kemudian aku gesek-gesek kedua putingnya dengan jempolku, dan Phida agak menggelinjal kegelian menerima perlakuanku, dan akhirnya aku rebahkan Phida dan dengan sigap dan penuh napsu aku hisap ke dua putingnya, dan Phida mulai mengeluarkan suara rintihan kenikmatan yang membuat aku menjadi makin rakus menghisap, menjilat dan mengulum ke dua putingnya. Karena kemasukan birahi yang cukup tinggi maka otomatis kontolku menjadi blesak pengen keluar dari celanaku, tapi aku biarkan saja dulu, sampai aku puas jilatin seluruh kulit mulusnya Phida baru aku buka celanaku pikirku. Akhirnya lama-lama mulutku aku turunkan persis di atas pusernya, yang kemudian aku cium dan aku endus dengan hidungku, oh begitu halusnya ini kulit, sungguh nikmat rasanya.

Aku menghentikan operasiku, aku tatap wajah Phida dengan keringat yang tampak keluar dari keningnya, aku usap keringatnya dengan menggunakan tshirt-nya, dan kemudian aku dekatkan bibirku ke bibirnya. Phida sepertinya mengerti kemauanku, segera di bukanya bibirnya yang mungil merah merekah, dan langsung saja lidahku masuk ke dalam mulutnya, nikmat sekali rasanya kami saling memilin lidah, menghisap, menyedot, yang membuat mulut ini menjadi ngilu tapi nikmat, dan aku dengan spontan langsung menyedot bibir mungilnya dengan sedotan yang sekuat-kuatnya, sehingga membuat badan Phida menjadi gemetaran dan menjamak rambut kepalaku dengan kencangnya. Puas aku rasanya mencium bibir Phida, dan aku lihat Phida sepertinya kecapean, nafasnya keliahatan turun naik seperti orang habis olah raga.

�Cape ya Nda..?� tanyaku

�Iya Mas, udah dulu ya�� Phida berbicara agak pelan

�Tapi Nda, kontolku masih ngaceng nih, gimana klo Phida jilat dan kulum ya�,biar bisa ngecrot, dari pada aku sodok di memek, nanti kamu tambah cape, udah ga tahan nih, kan jilat sama kulumnya bisa sambil tiduran�,

Dan aku bergegas membuka celana jeansku, dan kontolku langsung mengacung ke depan. tanpa basa basi aku langsung sodorkan ke mulutnya Phida, dan tanpa komando Phida langsung menjulurkan lidahnya kemudian memutar-mutar lidahnya, sementara aku geseka-gesekan helm kontolku pas di atas lidah Phida, huuuiiih nikmatnya. Dan kemudian aku sodok lagi sehingga batang kontolku masuk sebagian ke mulut Phida, lantas dengan spontan Phida menjepit batang kontolku dengan bibirnya yang mungil, dan langsung aja aku gerakan kontolku maju mundur dengan lembutnya. Lama kelamaan karena merasakan sedotan bibir bercampur gelitikan lidah Phida yang membuat kontolku udah ga tahan lagi, dan akhirnya�Crooot�Crooot..Crooot�muncratlah spermaku di dalam mulutnya Phida. Phida ingin berusaha melepas mulutnya dari kontolku, tapi aku tahan dengan tanganku sehingga kontolku masih tetap di dalam mulut Phida, sampai spermaku benar-benar tertelan semua ke dalam mulut Phida hingga tetes yang terakhir. Setelah yakin sudah tidak ada lagi sperma yang keluar, aku tarik pelan-pelan kontolku dari mulutnya Phida, sssshhhh, ngilu rasanya dan nikmatnya tiada tara, dan langsung berbaring di samping Phida, ah puasnya.

Jam menunjukan pulul 19.05, sudah 15 menit aku berbaring. Dan aku lihat Phida sudah tertidur pulas dengan masih mengenakn celana jeansnya, memang tadi aku belum buka celananya untuk menikmati memeknya, karena aku ingin merasakannya secara bertahap, jadi sekarang tinggal memeknya yang akan aku nikmati. Aku segera menghampiri Phida, aku dekatkan mulutku ke puting payudarannya, dan kemudian aku jilat-jilat putingnya sambil sesekali aku hisap denga lembutnya. Sementara tangan kananku berusaha membuka kancing celana jeansnya, setelah terbuka, aku langsung susupkan tanganku ke dalam celananya, tembus lagi masuk ke dalam cd nya, dan aku langsung merasakan belahan memeknya yang memang sudah basah, yang kemudian aku gesek-gesek belahan memeknya dengan jari-jari tanganku Mendapat perlakuan ini Phida langsung merintih kecil, oooww rupanya dia tidak tidur rupanya, dia seperti kenikmatan mendapat perlakuanku. Tanpa ragu-ragu aku langsung pelorotkan celana jeannya sekalian sama cd-nya, dan ya ampun kontolku langsung berdiri tegak lagi melihat paha Phida yang mulus dan putih dan diselangkangannya terlihat memeknya yang merah mungil dengan sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus di atasnya. Dengan napas agak memburu karena luapan nafsu, aku pegang belahan memeknya dengan jari-jari tanganku, aku gesek-gesek dan terasa ada lendir yang menempel di sekitar belahan memeknya. Mungkin Phida sudah mengalami orgasme sewaktu aku memainkan putingnya tadi. Aku langsung hisap jariku yang terkena lendir memeknya Phida, hmmm nikmatnya. mungkin lebih nikmat lagi klo aku hisap langsung dari belahan memeknya. Kemudian aku buka lebar-lebar ke dua kakinya, sehingga selangkangannya makin terbuka lebar, dan aku langsung menempelkan mulutku ke memeknya Phida, kemudian aku buka belahan memeknya dengan kedua jempolku sehingga lidahku bisa merayap masuk ke dalam lubang memeknya. Dengan rakus dan penuh nafsu aku jilat turun naik sambil sesekali aku sedot daleman memeknya, sehingga lendirnya benar-benar terhisap masuk ke dalam mulutku, yang kemudian langsung aku telan. Berulang kali aku lakukan itu sehingga membuat rintihan Phida semakin keras terdengar. Mungkin karena nikmatnya membuat Kepala Phida bergerak ke kiri dan ke kanan sambil sesekali mengangkat pantatnya sementara kedua tangannya menjenggut dan menekan keras kepalaku, sehingga lidahku makin masuk ke dalam lubang memeknya, dan hmmmm� lidahku merasakan ada aliran lendir yang mengalir. Nampaknya Phida sedang mengalami orgasme. Dengan segera aku hisap kembali lubang memeknya dan tertelanlah semua lendir memeknya ke dalam kerongkonganku. Puas rasanya menikmati lendir memek Phida, dan aku segera menghentikan aktivitasku. Aku lihat Phida kembali lunglai tak berdaya, kontolku masih tegak ngaceng ke depan, mungkin sudah ga sabar ingin menerobos lubang memeknya Phida, tapi aku belum puas jilatin memeknya, segera aku buka lagi lebar lebar lubang memeknya, sampai aku melihat klentitnya yang masih mungil agak menonjol, aku jilat turun naik klentitnya sambil sesekali aku hisap. Phida kembali menggelinjang keenakan, Aku terus mempermainkan klentitnya dengan lidahku, dengan bibirku dan juga dengan jari-jariku. Dan akhirnya setelah benar-benar puas merasakan memeknya Phida, aku sudahi dengan hisapan yang lama dan begitu kuat di klentitnya, sehingga membuat Phida berteriak lebih kencang karena merasakan kenikamatan yang tiada tara, Phida kembali orgasme sepertinya.

Aku lihat Phida benar-benar kecapean, nafasnya turun naik, tapi aku engga peduli karena sekarang giliran kontolku yang akan bereaksi. Dengan penuh nafsu aku sodorkan ujung kontolku ke lubang memeknya yang masih sempit. Tapi karena barusan Phida mengalami orgasme sehingga kontolku perlahan namun pasti masuk pelan-pelan ke lubang memeknya. Phida agak menjerit ketika setengah kontolku masuk, tapi memang aku engga peduli, aku terus sodok pelan-pelan kontolku sehingga amblas sampe ujung kontolku. Aku lihat Phida agak meringis sambil menggigit bibirnya yang mungil, cakep sekali dia. Dan aku segera menarik kembali pelan-pelan kontolku yang sudah di jepit oleh dinding memeknya Phida, uuuuh ngiluuu�ennnnaaak�, aku memejamkan mata kenikmatan merasakan sensasi sentuhan dinding memek Phida. Aku sisakan tinggal kepala helmnya aja yang masih di dalam lubang memek, kemudian aku sodok lagi, kali ini lebih kenceng sampai mentok di ujung kontolku, dan Phida agak menjerit. Kemudian aku mulai menggenjot, menaik turunkan kontolku, oh nikmatnya sampai ke ubun-ubun. Terus dan terus aku genjot memeknya Phida sampai sampai akhirnya�Crooot..Crooot�Crooot, muncratlah spermaku di dalam memeknya Phida, dan aku langsung lunglai lemas rebah di atas tubuh Phida. Aku diamkan kontolku sampai benar-benar lemas dan keluar dengan sendirinya dari lubang memeknya Phida. Oh betapa indahnya hidupku hari ini, aku merasa puas..puas�puas..bisa mengentot gadis tetangga yang lumayan cakep, dan akupun tertidur pulas. Tengah malam aku mengulanginya lagi untuk mengentot Phida dengan berbagai gaya, dimulai dengan oral sex sampai nyodok kontol ke memek, hingga tidak terhitung lagi berapa kali Phida mengeluarkan lendir orgasme dan berapa banyak mani yang aku muncratin, kami benar-benar menikmatinya hingga tak terasa waktu menjelang subuh. Sebelum pulang kamipun mandi pagi bersama-bersama, saling menyabuni dan tak lupa kamipun melakukan oral sex ria dan ngentot di kamar Mandi�wuuiih sungguh segar bercampur nikmat. Dan Menjelang tengah hari kamipun pulang dengan perasaan puas dan lega.

readmore>> »»  

Pengorbanan Wati (4)

Aku mendapat kabar dari Pak Jono tadi siang ketika dia membawakan satu kardus penuh berisi jamu-jamuan untuk wanita bahwa Pak Kusrin dan istrinya bertengkar hebat karena ada yang melaporkan �kegiatan� kami berdua di pinggir jalan tempo hari. Istri Pak Kusrin mengancam untuk mengajukan gugatan cerai, tapi Pak Kusrin cuma tersenyum saja mendengar ancaman itu. Aku sempat bingung ketika Pak Jono bilang terima kasih kepadaku. Ternyata setelah pertengkaran itu, istri Pak Kusrin sudah beberapa kali mengajak Pak Jono bersebadan.

�Saya sebenarnya berharap bisa ngewek sama Neng Wati, tapi itu kan gak mungkin. Tapi, dapat sering-sering ngewek sama Ibu saja saya sudah senang � Hehehehe � Buat selingan, Neng. Bosan juga sama yang di rumah,� kata Pak Jono.

Tadi sore Pak Kusrin datang berkunjung untuk mendapatkan pelayanan seperti biasa. Kali ini dia tidak pakai basa-basi lagi. Begitu aku duduk di sampingnya di sofa, dia langsung menyergap aku dan kami pun berciuman. Selama beberapa puluh menit bibir dan lidah kami bertautan. Sementara itu tangan Pak Kusrin terus bergerilya di setiap bagian tubuhku. Baju kami pun stu per satu lepas dari badan kami, sehingga kami berdua benar-benar telanjang seperti bayi yang baru lahir.

Di sana, di atas sofa di ruang tamu, ketika sinar matahari sore masih menerangi ruangan itu, aku dan Pak Kusrin kembali terhanyut dalam panasnya gelora birahi. Tanpa mempedulikan bahwa kami dapat menjadi tontonan orang yang lewat di jalan depan rumah, kami terus bergelut di atas sofa yang kini mulai basah dengan keringat kami.

Pak Kusrin mendorong tubuhku hingga rebah di sofa. Kedua kakiku diangkatnya, lalu disangga dengan bahunya. Perlahan-lahan dia mengarahkan kontolnya ke memekku. Aku membantu membimbing ujung kontol Pak Kusrin agar tepat sasaran. Sekali dorong, kontol Pak Kusrin pun menerobos masuk liang sanggamaku. Sambil memegang kedua betisku,Pak Kusrin mulai melakukan gerakan maju mundur sehingga kontolnya timbul tenggelam dalam memekku. Buah dadaku berguncang-guncang seirama dengan setiap sodokan kontol Pak Kusrin ke dalam memekku.

Aku meraih sebuah bantal sandaran sofa untuk menyangga kepalaku. Dengan posisi begitu, aku bisa melihat gerakan kontol Pak Kusrin yang keluar masuk memekku. Setiap kali Pak Kusrin mendorong masuk kontolnya, memekku menjadi agak kempot dan ketika kontol itu ditarik keluar, memekku menjadi agak gembung. Aku sangat terkesan dengan apa yang aku lihat di selangkanganku. Semua itu membuat aku semakin terangsang.

�Kamu suka melihatnya, Wati?� tanya Pak Kusrin sambil terus bergoyang. �Ahhhhhh ��Iya, Ahhhhhhhhh ��.. tapi aku lebih suka rasanya. Ahhhhhh �. Yeahhhhh �. Sssssshhhh �. Yeahhhhh �. Ahhhhhhh �.� Jawabku di sela-sela desahan kenikmatan. Setelah sekitar sepuluh menit, kakiku terasa pegal. Pak Kusrin menekuk lututku sehingga sekarang pahaku bertumpu pada perut dan dadaku. Namun baru lima menit disodok dengan posisi seperti itu, gentian Pak Kusrin yang merasa pegal dan dia minta ganti posisi. Aku menyuruhnya berbaring di sofa dengan kedua kaki lurus di atas sofa. Aku naik ke atas tubuhnya dan menancapkan kontolnya kembali ke memekku. Aku merasa seperti seorang koboi yang sedang menunggang kuda.
�Oooooohh � yeahhhhhhh �. Hussss �. Hussssss,� kakatu sambil bergaya seperti koboi. �Ya � Goyang terus, Wati �. Enak sekali �. Teruuuuuss �.� Ujar Pak Kusrin sambil menggapai buah dadaku dan meremasnya.

Aku terus menggerakkan pantatku naik turun sehingga kontol Pak Kusrin bisa terus bergesekan dengan dinding-dinding dalam memekku. Setiap gesekan memberi kami sensasi yang luar biasa dan tidak terbayang nikmatnya. Keringat semakin deras mengucur dari tubuh kami. Aku mempercepat gerakkanku karena kau merasa sudah hampir mencapai klimaks. �Ahhhhh �. Ahhhhhh � Ahhhhhh �.. Aku sudah mau sampai, Pak �. Aahhhhh �. Ahhhh �� kataku. �Saya juga ..� kata Pak Kusrin sambil menggerakkan pantatnya sehingga gesekan antara memekku dan kontolnya semakin cepat. Tak lama kemudian puncak itu pun tercapai. �yeah�. aaahhh ��.aaahhhh,� kami pun berteriak bersamaan melepas semua rasa. Badanku mengejang dan menekuk ke belakang sehingga aku harus bertumpu pada kedua kaki Pak Kusrin yang juga menjadi kaku. Tubuhku bergetar hebat dan akhirnya aku tumbang dan rebah di atas dada Pak Kusrin. Nafas kami memburu cepat, secepat detakan jatung kami.

Kami berpelukan dan kembali berciuman selama beberapa menit. Tangan Pak Kusrin mengelus-elus punggungku sementara aku terus berbaring di atas badannya. Aku biarkan kontol Pak Kusrin tetap di dalam memekku walaupun kontol itu sudah tidak lagi tegang. Aku ingin lebih lama merasakan kehadiran kontol itu di memekku. Ketika akhirnya aku bangkit berdiri, air mani Pak Kusrin yang bercampur cairan dari memekku sendiri merembes keluar dan mengalir di sisi dalam kedua pahaku. Aku duduk di sofa dan aku biarkan cairan kami itu membasahi sofa.

Setelah berpakaian kembali, Pak Kusrin menghampiriku yang masih terduduk lemas di sofa dan telanjang bulat. Pak Kusrin mengecup keningku dan mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang baru saja dia dapatkan dari tubuhku. Sebelum melangkah keluar, Pak Kusrin seperti biasa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya. Kali ini uang itu dia gulung dan diselipkannya ke dalam memekku yang masih saja mengucurkan sisa-sia air maninya.

Setelah hilang lemasku, aku raih pakaianku yang terserak di lantai dan berjalan masuk menuju kamarku sambil tetap telanjang. Setelah melempar pakaianku ke atas tempat tidur, aku ambil selembar handuk. Aku keluar kamar dengan handuk di tangan menuju ke kamar mandi. Di ruang makan, aku bertemu Mak. Aku berikan uang pemberian Pak Kusrin yang telah basah terkena air mani dan cairan memekku tadi ke Mak. Hari ini, uang yang kami butuhkan untuk makan itu benar-benar keluar dari memekku �

readmore>> »»