Tampilkan postingan dengan label Perkosaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkosaan. Tampilkan semua postingan

Gairah Tubuh Asih

Usianya 32 tahun dan sebut saja namanya Budi. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih tua darinya, dan putrinya, Asih, duduk di kelas 2 SMP.
Kalau aku ke PKP aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Budi untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Budi. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

"Hallo, Oom Mar..!" Asih yang baru masuk tersenyum.
"Eh, tolong dong bayarin Ojek.. uang Asih sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya."
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Ojek yang cuma dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Asih duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Asih memandang kepadaku dan tertawa geli.
"Ih! Oom Mar! Begitu, tho, caranya..? Asih sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat."
Gugup aku menjawab, "Asih.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin."
"Aahh, Oom Mar. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Asih di sekolah lebih serem."

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Asih justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Asih terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Asih sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Asih. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai "bergerak", sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

"Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!"
"Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?"
Asih mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
"Yang bener.. Asih pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!"
"Aahh.. Oom Mar ngeledek..!"
Asih meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Asih mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

Nafas Asih makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
"Uuuhh.. mmhh.." Asih menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Asih menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Asih yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Asih. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

"Ehh.. mmaahh..," tangan Asih meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
"Ooohh.. aduuhh..," Asih mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Asih akan terlonjak dan nafas Asih seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Asih tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Asih.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Asih, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Asih menekan pantatku dari belakang.
"Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm.."
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Asih semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Asih masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Asih memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Asih terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Asih menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Asih mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
"Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm.."
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Asih, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Asih sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Asih segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Asih makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Asih melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Asih tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
"Aduh, Oom.. Asih lemes. Tapi enak banget."
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Asih yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Asih.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Asih kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Budi, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Asih pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku "blowjob", aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
Tamat

readmore>> »»  

Saya seorang perawat

Nama saya Setiowati, umur saya 22 tahun, saya baru lulus dari Akademi Perawat di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Sekarang saya bekerja di Rumah Sakit Swasta di kota Y, baru satu bulan ini saya bekerja.
Saya tinggal di rumah Tante, secara keseluruhan saya sudah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, untunglah akhirnya saya mendapat pekerjaan di Rumah Sakit tersebut. Sebagai orang baru di Rumah Sakit ini, saya banyak mendapat teman dan kenalan baru. Salah satunya adalah Kepala Bangsal Bedah, atasan saya langsung, dimana saya ditempatkan. Ibu Winantu kami memanggilnya, umurnya hampir 40 tahun, akan tetapi sampai sekarang belum menikah juga, walaupun kalau saya lihat sebenarnya Kepala Bangsal saya ini wajahnya cantik, bentuk badannya sensual dan kulitnya putih bersih.

Saya mendengar selentingan kabar dari teman-teman di sini, kalau Ibu Winantu sebenarnya simpanan salah satu dokter Kebidanan dan Kandungan yang juga bekerja di Rumah Sakit yang sama. Sebagai Kepala Bangsal Bedah, Ibu Winantu sangat disegani, karena selain secara fisik lebih besar dari rata-rata perawat bangsal Bedah, juga mulutnya sangat pedas, terutama untuk perawat-perawat yang lain. Yang lebih menarik pula, gelang dan cincin berlian di tangan, juga jam tangannya yang bertuliskan �Cartier�. Pantaslah kalau gosip itu benar, Ibu Winantu simpanan salah satu dokter kaya yang juga bekerja di Rumah Sakit ini. Sebagai perawat, kami kadang bergiliran bertugas jaga 24 Jam, kebiasaannya di bangsal saya yang bergiliran jaga adalah perawat senior dan junior, tidak terkecuali saya dan Ibu Winantu.

Pada suatu hari, saya mendapat jadwal tugas jaga bersama Ibu Winantu. Sebenarnya saya sangat takut, karena selain saya masih baru, saya juga �ngeri� padanya. Ada yang membuat saya terkejut, ketika semua perawat teman-teman saya selesai bertugas jam 14.00, tinggal kami berdua sebagai perawat jaga hari itu.
�Dik Wati�, Ibu Winanti memanggil sambil tersenyum.
�Iya, bu�, kaget saya.
Sebelum ini, terutama ketika bertugas pagi hari, tidak pernah sekalipun Ibu Winantu memanggil saya dan teman-teman yang lain dengan sebutan �Dik�, apalagi memanggilnya sambil tersenyum. Mimpi apa saya ini?
�Ini, statusnya dilengkapi dan periksa ulang Suhu dan Tensi untuk kamar 9 dan 10?.
�Iya, Bu�, saya seperti kerbau dicocok hidung.

Segera saya lakukan perintahnya. Setelah selesai, menyusul perintah-perintah �manis� yang lain, saya hanya bisa menuruti. Walaupun saya iri juga padanya, karena Ibu Winantu hanya duduk manis di meja counter depan Bangsal Bedah sambil menonton TV.Akhirnya selesai juga perintah-perintah �Sang Ratu�, jam sudah menunjukkan jam 17.00, saatnya jadwal kunjung pasien. Pada saat ini biasanya perawat jaga saatnya untuk beristirahat dan mandi sampai selesainya jadwal kunjung pasien. Saya kelelahan, tapi inilah resikonya sebagai perawat yunior. Saya masuk ke kamar jaga perawat, dan merebahkan diri untuk tidur-tiduran sebantar sambil beristirahat.

Tidak berapa lama kemudian Ibu Winantu masuk ke kamar juga, dia juga ikutan rebahan di tempat tidur yang lain. Mulailah dia menginterogasiku.
�Sudah punya pacar, dik?�.
�Dulu, Bu�.
�Dulu waktu sekolah di Akper juga tinggal di asrama Akper?�.
�Iya�.
Ibu Winantu tertawa, �Kenapa Bu, kok tertawa?�.
�Hayo, dulu waktu di asrama sering nonton BF bersama-sama, tho?�.
�Iya, kok ibu tahu?�.
�Saya dulu waktu masih sekolah juga sama saja dengan Dik Wati�.

Setelah itu malahan Ibu Winantu cerita mengenai BF dengan detail dan cerita-cerita mengenai main kucing-kucingan memasukkan cowok ke asrama dan hal-hal porno lainnya, sambil tertawa-tawa. Walaupun geli di telinga mendengarnya, saya menanggapinya dengan malu-malu karena itulah yang juga kami sering lakukan di asrama. Walaupun saya menjadi tidak jenak, akan tetapi senang juga mendengarkan cerita-cerita itu sambil mengingat masa-masa sekolah.
�Dik Wati, pernah �main� dengan pacarnya?�.
�Belum, Bu�.
�Oh, nanti saya ajarin�.
�Baik, Bu�, jawab saya asal-asalan, saya pikir itu kan hanya cerita-cerita omong kosong, walaupun saya juga tidak punya niat serius mendapat pelajaran dari Ibu Winantu.
�Saya mandi dulu, Bu�.
�Ya, nanti saya menyusul�.

Saya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Wah, asyik juga, kalau Bu Winantu mau mandi bersama saya. Karena dulu waktu di asrama, saya sering pula mandi berdua dengan teman-teman, sebagaimana pula dengan teman-teman yang lain. Kadang kami sering kagum dengan badan dan payudara teman yang lain, walaupun sering mandi bersama tidak pernah terjadi seperti yang ada di BF, apa itu namanya? Lesbian?

Ditengah saya mandi, terdengar ketukan di pintu.
�Siapa, yaa?�.
�Saya, dik�, suara Ibu Winantu menyahut.
Saya bukakan pintu kamar mandi, tentu saja saya dalam keadaan telanjang. Ibu Winantu langsung masuk ke kamar mandi, dan melepas bajunya satu persatu. Saya berhenti mandi dan hanya memandanginya, saya berdebar-debar ingin melihat �peralatan� Ibu Winantu.Ternyata betul dan nyatalah Ibu Winantu sekarang sudah telanjang pula bersama saya di kamar mandi. Kulitnya putih mulus, payudaranya agak besar, mungkin cup B, perutnya rata dan rambut kemaluannya lebat. Dibanding kulit saya yang lebih coklat dan rambut kemaluan saya yang hanya sedikit sekali, saya iri juga.
�Kenapa dik?�, Ibu Winantu membangunkan lamunan sesaat saya, sambil tersenyum.
�Ndak, Bu, ndak apa-apa�.
�Oh, rambut yang bawah hanya sedikit yaa�, sambil tangannya menjulur mengelus liang surgaku. Saya terkesiap, ada perasaan aneh pada vagina saya ketika tangannya mengelus lembut vagina saya. (saya teringat dulu ketika di asrama, kadang kalau mandi bersama teman yang lain, sering guyonan mengelus vagina teman lain seperti itu, tapi tidak ada rasa apa-apa). Secara refleks pula saya menarik napas panjang dan menutup mata.
�Kenapa dik, nikmat?�.
Saya membuka mata dan tersipu malu.
�Oh.., belum pernah yaa�, Ibu Winantu tersenyum, sambil matanya menyempit memperhatikan saya. Saya juga hanya tersenyum sambil menggigit bibir. Saya ingin Ibu Winantu mengelus vagina saya lagi seperti tadi, kata saya dalam hati.

Saya merasa itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba Ibu Winantu berjongkok di hadapan saya dan mulai menjilati vagina saya. Saya kaget dan keenakan. Sambil berdiri, saya sandarkan punggung saya ke tembok kamar mandi. Saya tidak bisa dan tidak mau menolaknya, saya ingin menikmatinya. Ibu Winantu sangat ahli menjilati vagina saya, dengan lembut dia membuka lebar paha saya dan membuka pelan-pelan bibir kemaluan luar saya. Saya merasakan sangat nikmat di bawah sana, di kemaluan saya, ketika lidah Ibu Winantu menjilat-jilat kemaluan bagian dalam saya, sungguh nikmat dan nikmat sekali, terutama ketika bibirnya yang basah menjilati klitoris saya. Saya menutup mata menikmatinya, payudara saya juga ikut mengeras, kedua tangan saya meremas bahu Ibu Winantu yang berjongkok di depan saya. Saya menutup rapat-rapat bibir saya, sambil menggigit kencang bibir saya, nikmat sekali, nikmat sekali. Hanya napas saya makin lama makin berat, dan makin lama saya makin merasa kemaluan saya makin basah.

�Ooohh..�, saya mendesah agak keras, saya merasa melayang dan lupa segala dalam sesaat. Kemaluan saya bagian dalam terasa berdenyut-denyut berkepanjangan, tubuh saya serasa melayang dengan segala rasa yang pernah saya alami. Untuk pertama kalinya saya merasa mulai mengetahui kemaluan saya sendiri dan kenikmatannya yang luar biasa. (itu namanya orgasme, yaa).

�Sudah, dik?�, suara Ibu Winantu menyadarkanku.
�Maaf, Bu�, sambil saya memeluk tubuh telanjang Ibu Winantu yang sudah kembali berdiri di hadapan saya. Saya merasa ingin dibelai dan disayangi, di samping tubuh saya yang mendadak lemas, setelah merasakan puncak kenikmatan tadi.
�Tidak apa-apa�, Ibu Winantu masih tersenyum.
�Wajar saja, tidak usah khawatir�, Ia melanjutkan. Sambil dipeluknya tubuh saya yang juga telanjang. Dia raih kepala saya, dan diciumnya bibir saya dengan lembut, lidahnya juga masuk ke dalam mulutku, menjilati lidah saya. Untuk pertama kalinya pula saya merasakan ciuman dari seorang wanita, apalagi wanita matang dan berpengalaman seperti Ibu Winantu. Ternyata lebih nikmat dan halus, dibanding ketika pertama kalinya saya merasakan ciuman dari seorang cowok.
�Ayo dik, lekas mandinya�.
�Nanti malam giliran saya ya�, Ibu Winantu tersenyum penuh arti pada saya. Saya mengangguk pelan, dan ingin �waktu� itu segera datang.
Malam itu, setelah tugas-tugas sebagai perawat telah selesai, di kamar tidur perawat saya belajar �melayani� Ibu Winantu, ternyata indah sekali. Sungguh hari itu, sore dan malam yang tidak terlupakan.

Sejak saat itulah pula, Ibu Winantu menjadi mentor saya. Saya selalu menunggu waktu-waktu tugas bersama, lagi dengan Ibu Winantu dan kencan-kencan kami lainnya di luar jam dinas Rumah Sakit, berbagi waktu dengan �suami� tidak resmi Ibu Winantu, dokter Calvinus, seorang dokter Kebidanan dan Kandungan.

Tamat

readmore>> »»  

Lhian, diperkosa gurunya sendiri

Pak Dion masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Nina lalu mengangkat kaki kanan Nina ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Nina. Nina menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Nina yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Nina diperkosa oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Nina. Nina kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Nina. Dia menarik Nina dari pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Nina disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot. Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Nina turun, sehingga vagina Nina langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras.
"Akkhh, aakkhh, oogghh,". teriakan memilukan keluar dari mulut Nina.
Penis Pak Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya pendek yang memasuki vagina Nina, masuk semuanya ke dalam vagina Nina, membuat Nina kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Nina merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot. Pak Gatot memaksa Nina untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Nina dengan leluasa. Kedua Payudara Nina besar menggantung bebas, naik turun seirama tubuhnya.

Kemudian Pak Gatot menjepit kedua puting susu Nina dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Nina berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Nina yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Nina beberapa kali.
"Akkhh, aakhh, damn, shitt", Nina kembali merasakan perih luar biasa pada punggung, pantat, dan pahanya.
Cambukan Pak Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat, dan paha Nina.

Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Nina tetap merasakan perih dan panas di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Nina terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Nina dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Nina menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Nina, lalu membuat goyangan memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Nina itu.
"Oohh, sshh, shh", Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Nina yang empuk basah menduduki selangkanganya.

Ketika Pak Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Nina dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Nina tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil mencium bibir Nina dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Nina, Pak Gatot terus menggenjot vagina Nina. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Nina dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Nina. Kemudian dia menarik tangan kanan Nina dan memaksa Nina untuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Nina. Ia mengangkat kedua kaki Nina dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Nina. Dengan kasar Pak Heru menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Nina. Lalu ia mulai menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Nina dengan kasar, membuat vagina Nina semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Nina dan memaksa Nina untuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru memaksa Nina untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Nina menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Nina terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru Nina terhadap tubuh Nina. Kali ini Nina tidak kuat lagi menahan orgasmenya yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama. Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Nina merasakan sakit luar biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah bersarang didalamnya.

Setelah delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Nina akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Nina telah diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.

Lebih-lebih ketika posisi kedua tangan Nina yang terikat digantung keatas. Pak Andi menjilati dan menciumi payudara Nina.
"Mmuuahh, tetek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm"
Liur pak Andi membasahi tetek Nina. Nina kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja lubang anus dan vaginanya. Nina kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan.
"Ouughh, arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh"
Nina terus berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Nina mulai mengering, Pak Andi kembali membasahi dubur Nina dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng agar licin. Pak Andi menyodomi Nina untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat Nina, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Nina (Anal Destruction).

Kemudian mereka kembali menelentangkan Nina di lantai, lalu mereka maju semua mencari bagian-bagian tubuh Nina yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka. Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina, dan memaksa mengulumnya. Pak Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memiaw Nina yang berdarah-darah. Pak Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang pantat Nina yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara belahan payudara Nina, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan menarik puting susu Nina yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Nina yang gemuk putih dengan beberapa helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam jepitan ketiak Nina. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Nina yang sebelah kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Nina, kemudian memaksa tangannya mencengkram penisnya lalu membantu tangan Nina untuk mengocoknya. Yang terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Heru dengan tangan Kiri Nina.

Akhirnya Nina yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana. Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh Nina yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.

******

Setelah para guru Nina pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Nina yang diam-diam mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Nina yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Nina yang masih tidak sadar. Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Nina. Lalu mereka mulai menikmati tubuh Nina secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika sadar, Nina hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Nina, akhirnya tercapai juga.

Setelah puas semua, mereka meninggalkan tubuh Nina yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang begitu berat.

Setelah peristiwa tersebut, Nina terus mengunci diri dalam kamar dan diam membisu ketika ditanyai oleh teman ataupun keluarganya. Beberapa hari kemudian Nina pulang ke asalnya, dan tinggal dengan ortunya. Nina mengalami shock berat, dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sementara para guru yang memperkosa Nina, bebas beraktivitas karena Nina tidak berani memberi kesaksian. Nina terperangkap dalam trauma perkosaan itu untuk selama hidupnya. Sedangkan para guru yang memperkosanya masih sibuk mencari mangsa siswinya yang lain.

**THE END**

readmore>> »»  

Istriku Diperkosa 6 Satpam

Aku dan istriku Rina yang berjilbab panjang dan rapi, sedang berjalan-jalan di mall dan belanja. Setelah selesai berbelanja dan membayar di kasir, kami keluar dari mall. Namun saat melewati detektor alarm berbunyi. Ternyata ada barang yang belum dilepas sensornya. Langsung dua orang satpam berbadan besar menghampiri kami dan memeriksa barang bawaan kami.
Singkat cerita kami sudah menjelaskan bahwa ini kesalahan kasir tapi mereka tetap tidak mau percaya dan menyuruh kami ke markas security.

Disana kami digeledah.
"Hai, apa tidak ada satpam wanita untuk geledah istri saya!?"
"Maaf Pak Bapak jangan ganggu proses penyelidikan yah", kata mereka

Aku tidak terima dan terjadi pergumulan. Aku kalah dan diikat erat di kursi dan mulutku disumpal. Keributan yang terjadi menyebabkan banyak satpam lain yang masuk dan seluruhnya ada 6 orang satpam yang muncul.

Istriku mulai menjerit dan langsung mulutnya dibekap oleh salah seorang satpam. Empat orang satpam lainnya memegangi masing-masing satu tangan/kaaki istriku. Dan yang satu lagi menurunkan celananya dan terlihatlah penisnya yang kekar dan tegang. Langsung istriku mulutnya didekatkan ke penis itu dan disuruh untuk mengulumnya.

"MMm..mmm", erang istriku yang mulutnya penuh oleh penis itu.Kemudian istriku diikat tangannya ke belakang dengan tali tambang. Para satpam mulai mengangkat rok istriku sampai ke pinggangnya, terpampanglah paha yang mulus serta celana dalamnya. Para satpam itu mulai menciumi seluruh jengkal kaki istriku. Mencium, menjilat dan kadang menggigit betis, paha dan pantat istriku.

Mendapat serangan sedemikian rupa istriku mulai bergelinjang, celana dalam istriku terlihat nulai lembab. Sepertinya dia terangsang secara terpaksa. Lalu seorang satpam merobek cd istriku dan terlihatlah vagina istriku yang tanpa jembut karena tercukur rapi semalam. Para satpam berebutan memasukkan jarinya ke lobang memek istriku.

"mmmhh...mmmh", jerit istriku yang mulutnya masih terganjal penis besar.

Kemudian satu persatu para satpam itu mulai memasukkkan penisnya ke memek istriku dan mengentotnya dengan hebat.

"hmm..hmm..hmmp" istriku mengerang setiap kali penis-penis itu menghunjam keras memeknya.

Setelah 2 jam berlalu istriku dilepaskan dan demikian pula aku...selama itu istriku sudah orgasme berulang kali, walaupun dilakukan dengan terpaksa.

Hari itu kami segera pulang dan sepanjang perjalanan orang melihat ke arah istri karena meninggalkan jejak "cairah kental putih kekuningan" di lantai setiap dia melangkah.

-End-

readmore>> »»  

Perkosaan Imah

Imah berjalan sendirian dari pasar menuju rumahnya. Hari ini Imah terlihat sangat cantik dengan jilbab dan baju warna pink dan rok hitam panjang. Ketika melintas di depanku, mataku segera tertuju ke bagian dada Imah, yang walaupun tertutup jilbabnya namun dari samping terlihat menonjol dan montok. Tanpa sadar gairahku naik melihat tubuh Imah. Entah darimana, timbul niat untuk memperkosa Imah.
Aku tahu kalau jam segini rumah Imah kosong karena Bapak dan Ibunya belum pulang kerja.

Kuikuti Imah yang sudah sampai di rumahnya. Kulongokkan kepala dari luar pagar rumah Imah. Imah yang masih di teras depan, melihatku dan mempersilahkan aku masuk. Aku beralasan ingin main ke rumahnya dan meminjam koran hari ini. Imah yang tidak curiga kepadaku mempersilahkan aku masuk ke rumahnya.
Aku segera melihat-lihat keadaan sekitar rumah Imah. Setelah kupastikan keadaan rumah Imah aman, kudekati Imah yang sedang berdiri di dekat TV. Segera kudekap tubuh Imah dari belakang dan kupegang kedua tangannya erat-erat. Imah yang kaget segera meronta berusaha membebaskan diri. Kutarik badan Imah dengan paksa ke kamarnya dan kubaringkan dia di kasurnya. Segera kubungkam mulut Imah yang belum sempat berteriak dengan tangan kiriku, dan kugunakan tangan kanan untuk memegangi kedua tangan Imah.

Imah masih meronta sekuat tenaga untuk membebaskan diri. Segera kutindihkan badanku untuk mengurangi gerakan tubuh Imah dan kuarahkan mulutku ke wajah Imah yang terlihat cantik dengan jilbab pinknya.
Kucium dan kulumat mulut Imah dengan paksa. Kurasakan hangat nafas Imah yang sudah memburu, yang menambah semangatku untuk melumat habis bibir mungilnya.
"Jangan........Stop............Shhhh..............ah.........jangan ", kata Imah pelan dengan wajah memelas.

Tapi aku tidak peduli lagi. Kugerak-gerakkan lidahku untuk menerobos mulut Imah yang menutup rapat. Setelah sedikit terbuka kusapukan lidahku ke seluruh rongga mulut Imah. Beberapa kali lidahku bertemu dengan lidah Imah. Sambil terus melancarkan serangan ke mulut Imah, kugunakan tanganku untuk meremas-remas dada Imah dari luar baju dan jilbabnya. "Emph.....jangan.........stop.......ahh...." terdengar gumaman Imah di tengah suara nafasnya yang terengah-engah.

Setelah beberapa saat, gerakan meronta. Tenaga Imah sudah banyak berkurang. Tubuhnya terlihat sedikit menggeliat tidak kuat menahan remasanku pada susunya dan lumatanku pada bibirnya. Setelah Imah sudah berhenti meronta, kulepas pegangan tanganku pada kedua
tangannya.
Kali ini kugunakan kedua tanganku untuk meremas-remas kedua susu Imah. Tubuh Imah semakin menggeliat, dan bergoyang ke kanan dan kekiri. Sambil tetap menindih kugunakan satu tanganku untuk membuka resleting celanaku dan menurunkan celana dan celana dalamku hingga lutut. Kuangkat sedikit badanku dari tubuh Imah. Lalu kutarik ujung rok panjang yang dikenakan Imah hingga pinggang. Imah yang tadi sudah mulai tenang kembali bereaksi. Dengan sisa-sisa tenaganya dia berusah meronta dengan menggerak-gerakkan badannya.
Segera kutindihkan lagi badanku ke badan Imah dan kuarahkan lagi mulutku ke wajahnya. Dengan tangan kanan kutahan tangan Imah yang berusaha mendorong badanku, sementara tangan kiriku kugunakan untuk menarik celana dalamnya kebawah.
Setelah berhasil membuka celana dalamnya, kuraba seluruh permukaan memek Imah dengan lembut. Kumainkan jari-jariku di bibir vagina Imah, sambil kusogok pelan-pelan.
Imah yang tadi berontak mulai merasakan rangsanganku pada vaginanya.
"Jangan....shh...............Ahh..........." terdengar lagi desahan dari mulut Imah.

Kutusukkan jariku ke vagina Imah lebih dalam. Setelah kutemukan klitorisnya, kuelus dan kugosok dengan lembut. Tubuh Imah kembali mengeliat-geliat menahan nikmat. Kurasakan vagina Imah sudah mulai becek. Cairan hangat sudah mulai keluar dari vaginanya. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kuarahkan burungku yang sudah bebas dari sarangnya ke arah kemaluan Imah.
Aku sedikit kesulitan memasukkan batang penisku, karena vagina Imah masih sangat sempit dan Imah terus menggerakkan badannya berusaha berontak. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya ujung penisku berhasil menusuk vagina Imah.
Dengan bantuan cairan kewanitaan Imah, penisku berhasil masuk hingga ujungnya. Imah yang benar-benar sudah tidak berdaya hanya bisa terpejam, mulutnya menganga mengeluarkan rintihan dan desahan. Kali ini aku yakin kalau Imah sudah benar-benar kukuasai.
Kulepas pegangan tanganku ke tangan Imah. Sambil terus menyodokkan penisku, kusingkap jilbab Imah yang menutupi bagian dadanya. Kubuka kancing bajunya dan kusingkap branya ke atas. Lalu kuremas-remas lagi buah dadanya. Sesekali Imah masih berusaha memberontak.

Peluh mengalir deras di dahi dan pipinya, serta membasahi jilbab yang dikenakannya. Tubuhnya kembali menggeliat dan kembali terdengar erangan dan desahan dari mulutnya. Beberapa saat kemudian Imah mengerang panjang. Akhirnya Imah mencapai orgasme pada perkosaannya kali ini. Aku puas karena bisa memberikan kenikmatan ini kepada Imah, walau secara paksa.
Beberapa saat kemudian kurasakan penisku berdenyut lebih kencang. Sepertinya spermaku mau keluar. Segera kucabut penisku dari vagina Imah dan kukocok dengan tanganku
di atas badan Imah. Lalu, crot..crot.."Akhhh......"
Aku mendesah panjang merasakan kenikmatan.


readmore>> »»  

Aku di perkosa tetangga bibiku

Namaku Sabrina. Aku berusia 17 tahun, dan tinggal dipinggiran kota utara California.
Apa yang terjadi padaku tahun lalu sangat begitu �berbekas� dan traumatik.
Setelah menjalani persidangan dan menjalani perawatan psikiater 7 bulan lalu, aku yakin dengan menulis kisah pengalamnku, akan sedikit membantu menghilangkan trauma ini. Jujur saya katakan, trauma yg kualami tidaklah begitu parah saat peristiwa pemerkosaan itu terjadi.
Tapi setidaknya saya bisa bertahan hingga saat ini.

Beginilah kisahnya:

Saat itu aku akan pulang dari bermain di rumah teman, Stacey.
Kami dalam liburan musim panas.
Hari itu hari kamis, 22 September, tepatnya 1 tahun yang lalu.
Tanggal itu selalu kuingat sepanjang hayatku.
Hari itu begitu panas, shg Stacey menawarkan dirinya padaku untuk mengantarku pulang, tapi aku menolak.
Jarak rumah kami hanya beberapa blok saja.

Waktu menunjukkan pukul 1:00 siang.
Kutelepon ibuku dgn hp, aku pulang agak sedikit terlambat, tetapi aku akan segera berada di rumah segera.

Akupun mengendarai mobilku menuju rumah paman dan bibiku sore itu.
Cukup lama aku tidak bertemu dengan saudara sepupuku, Emily, setahun lebih.
Jadi kuputuskan bulat untuk melihatnya sebentar.

Rumah itu seperti sepi.
Saat aku mengeliling sudut rumahnya, terjadi sesuatu yang sangat mengejutkanku. Apapun itu, membuatku sangat shock dan tidak sadar.

Kejadian berikutnya yang aku ingat, aku berada di sebuah ruangan gelap.
Lantai yg terbuat dari semen itu, dan sebuah lampu kecil di dekat ventilasi.

Akupun ingat disana ada 1 buah TV yg menempel pada dinding, dekat ventilasi, dalam keadaan mati.

Berikutnya yg kulihat juga adalah sepasang speaker. Mirip seperti yg ada pada stadium baseball, yg berguna sebagai media informasi. Suaranya hanya mengeluarkan desiran bunyi blower AC. Ruangan tersebut sangat dingin, jauh berbeda dengan suhu luar.

Akupun segera mencari keberadaan pintu kamar, tapi aku tidak menemukannya.
Saat itu aku mulai panik. JAntungku berdetak keras, dan aku tidak tahu berada dimana saat ini.

Tak lama kemudian terdengar suara dari speaker tersebut. Sepertinya suara tersebut diproses dengan bantuan software komputer atau sejenisnya, karena suara tsb terlalu aneh. Sangat berat dan bergema.

�Selamat datang di kamar tahananku, Sabrian�, suara itu bergema pelan tetapi sangat jelas.

�Siapa kamu. dan apa yang kamu inginkan?� tanyaku.
Detak jantungku bertambah keras, setelah kuyakin aku sedang diculuk.
Dan ketakutakanku yang paling memuncak adalah AKU AKAN DIBUNUH.

�Tidak perlu tahu siapa aku atau rupaku, Sabrina. Mulai saat ini kamu harus melakukan apa yang kuperintah�, Suara itu terdengar kembali.

Aku berusaha untuk menenangkan diri dengan berkata dalam hati, �Ini hanyalah lelucon orang yg tidak waras�.

�Okay, cukup sudah lelucon ini, siapa ini?� tanyaku sambil tertawa, seolah-olah aku mengetahui permainan ini.

�INI BUKAN LELUCON Sabrina!� balas suar itu mengema. �KAMU HARUS MELAKUKAN APA YANG AKU PERINTAH. Apakah kamu mengerti?�

�Ya, aku mengerti� balasku menantang.
Sepertinya �ia� ingin meniru beberapa aksi dalam film2 yg biasa kita tonton.

�Peraturannya sangat sederhana. Jika kamu tidak menuruti perintahku, kamu tidak akan mendapat makanan, air minum, penerangan dan udara segar.� KAtanya tegas mengancam.

Tiba-tiba ruangan gelap seketika, ac mati, dan perlahan udara mulai pengap dan panas. Aku berusaha bertahan hingga suhu ruangan mulai bertambah panas.
Aku sudah tidak tahan. �Tolong, jangan�jangan lakukan itu. Aku akan menuruti perintahmu� kataku memohon.

�Click�, lampu menyala, dan suara kipas ac mulai berputar.

�Buka pakaianmu wanita nakal, �.SEKARANG!� terdengar suara itu lagi memerintah.

�Tolong, jangan. Jangan menyuruhku melakukan demikian�, aku memohon.

�Click�, lampu mati dan ac pun mati.

�Baik�baik�, balasku menuruti.

Setelah lampu menyala dan AC hidup, aku segera melepas satu persatu pakaianku.
Sekarang aku hanya mengenakan celana dalam dan BH saja.
Ternyata ruangan bertambah terang dengan hidupnya lampu lain yang menempel pada dinding lain. Aku tidak tahu kalau lampu sorot itu ada didinding lain.
Dan didinding tersebut kemudian nampak kaca/cermin berukuran sedang yang menempel pada dinding.

Sekarang aku yakin, �pria� ada dibalik kaca tersebut.

�Hadap ke kaca ini, �.Aku ingin melihat dirimu�. �Buka semua pakaianmu!�, suara itu kembali memerintah.

Sambil menghadap kaca, akupun melepaskan BH-ku.
Samar kudengar dari speaker itu, hembusan nafasnya yang sedikit kencang. Sepertinya ia mengamati dan menikmati setiap sisi tubuhku.

�Gengam payudaramu dengan kedua tanganmu�..pelintir puting susumu�, perintahnya kembali.

Aku hanya berfikir, �Seperti apa perilaku aneh fucker satu ini, hingga menyuruhku berbuat demikian�. Tapi mengingat kondisiku yang seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Perlahan kuremas payudaraku sendiri dan kupilun kedua puting susuku. Kulakukan sesuai apa yang ia perintah.

�Aku suka payudaramu�.begitu menantang dan lembut�.PELINTIR LAGI PUTINGMU!. Ah..begitu..Sabrina�.kau melakukan dengan benar. Sekarang lepaskan celana dalammu!�

�TTT tolong, saya, saya���

Kembali semua lampu mati berikut AC-nya.

�OKAY, OKAY� aku berteriak kembali, �Kamu menang�, balasku kesal.

�Nah�itu lebih baik Sabrina. Sekarang buka celana dalammu, aku akan memanaskan ruangan ini agar pantatmu sedikit berkeringat, apakah kamu mengerti?�

�Ya tuan, aku mengerti�, balasku pelan.

�Oh..yeah�pantatmu begitu indah..Sabrina�. �Hadapkan pantat itu padaku, atur posisinya untuk menunging, dan gosok dgn kedua tanganmu!�, perintahnya lagi sambil memuji.

�Oh..yes..Sabrina..pantat dan bibir vaginamu begitu indah�.Sekarang tekan dan masukkan jarimu dalan vaginamu�, perintahnya lagi.

Akupun hanya menuruti perintahnya. Perlahan aku mulai memasukkan jari tengahku dalam vaginaku.

�Vaginamu begitu segar..Sabrina..uhh, uhh. uhhh�. �Aku akan keluar Sabrina��, celotehnya sambil melihat aksiku.
Sepertinya ia sedang onani.

�Lebih keras lagi Sabrina�masukkan jarimu lebih keras lagi!�, perintahnya.

�Sekarang cabut jarimu, dan mulailah untuk keluar-masuk dalam vaginamu dengan keras�, perintahnya lagi.

Aku hanya diam. Aku tidak ingin melakukannya.
Lampupun segera mati berikut benda jahanam AC itu.

�Okay..okay��, teriakku kesal.

Akupun menurutinya.
Kurasakan vaginaku mulai membasah akibat jari tanganku yang mengesek-gesek klitorisku.
Tak sadar kalau aku sedang diculik, aku mulai terangsang.
Tapi aku sadar kalau ia mengamatiku dan aku tidak ingin keparat ini mengetahui kondisiku.

�Terus lakukan Sabrina, buat dirimu terangsang�, perintahnya lagi.

�Sial�sepertinya ia mengerti apa yg kurasakan saat ini�, teriakku dalam hati.

Tak terasa aku mulai orgasm. Cairan spermaku mulai keluar dari vaginaku dan mengalir di kedua pahaku.

�Ohhh�yeah..�, teriaku dalam hati saat aku mencapai orgasm.
Kakiku mengejang beberapa saat saat orgasme itu datang mencapai puncak.

�Ughhhhh yaaaaa, Aku datang Sabrina�..ohhhh yaaaaa���ohhhh, Sabrina, Aku keluar�..ooohhhh�, suaranya berteriak keras.

�Ohh�spermaku begitu hangat. Menempel di penis dan tanganku�, katanya memberitahu.

Perkataannya sungguh menambah imaginasi seksku. Jelas kubayangkan bagaimana sperma pria yang sedang menyembur keluar.
Akupun semakin keras �menekan� vaginaku dengan perkataannya�dan orgasme ke2 datang kembali�Aku mengejang dan menikmati klimaks tersebut�

Setelah selesai aku duduk kembali tanpa menunggu perintahnya.
Tak ada kata-kata dari dia setelah aksi ini.
Keadaan begitu sepi dan aku sangat capek. Tanpa kusadari aku sudah tertidur.

Entah berapa jam aku tertidur, saat aku sadar suara pintu yang terbuka dan suasana ruangan yang gelap tapi dingin.

�Bangun Sabrina�, katanya.

Aku sadar. Ternyata kedua kaki dan tanganku telah terikat.

Aku mencari suara itu, dan ternyata ia sudah berada diselangkanganku.
Pemuda tersebut termasuk tampan. Seandainya kami berteman baik dan berpacaran mungkin aku menikmati aksi ini.

Perlahan tangannya mulai menjalar tubuhku sedangkan kepalanya tetap berada diantara selangkanganku.
Tangan itu mulai meraih payudaraku dan memainkan puting susuku secara bergantian.

Hembusan nafasnya terasa hangat saat wajahnya mulai mendekati selangkanganku.

Aku mulai menangis.

�Jangan khawatir Sabrina, Aku tidak akan melukaimu,�jika kamu menuruti perintahku�, katanya meyakinkanku.

�Tolong�aku akan lakukan apa yg kau inginkan, tapi jangan perkosa saya�, pintaku memelas padanya.

Tiba2 tangannya menampar wajahku.

�Aku yang membuat peraturan disini Sabrina! Kamu cukup tutup mulut dan lakukan apa yang aku katakan�, teriaknya marah.

Aku menjadi gemetar mendengar ancamannya ditambah rasa yang sedikit sakit pada pipiku.
Selanjutnya ia segera mencium pinggulku dan bergerak menuju selangkanganku.

�Ummmm�, erangnya sambil menjilati bibir vaginaku hingga akirnya lidah itu mulai masuk ke vaginakku.

Aku lepas kontrol, secara refleks aku membuka selangkanganku lebih lebar agar ia bisa memasukkan lidahnya kedalam vaginaku lebih dalam lagi.

Aku sudah tidak perduli lagi denga status diriku saat ini. Semakin dalam lidahnya menjalar vaginaku semakin aku tidak perduli dengannya.
Vaginaku mulai basah dan bertambah basah.

�Aku akan segera memasukkan penisku ke vaginamu.. Sabrina�, katanya lagi setelah merasa puas �mencicipi� vaginaku.

Ia segera mengambil posisi untuk mulai menancapkan penisnya di vaginaku.

�Ugh�rasakan ini!�, erangnya saat menancapkan batang penisnya dalam vaginaku.

�Oughhh��, tahanku saat batang penis itu mulai terbenam secara perlahan dalam vaginaku.
Penis itu berukuran besar. Vaginaku terasa sesak dengan benda tersebut.

Tetapi sepertinya ia masih akan menancapkan batangnya lebih dalam.

�Ohhh�my god�. Ini terlalu besar!�, teriaku dalam hati.

�Cukup�cukup�aku sakit��, tangisku berontak.

�Ayolah�Sabrina..kamu pasti suka ini�. katanya memprotes tangisku.

Dan kembali kali ini ia menekan penuh batang penisnya. �OUuuwwww�.tidakkkk�, teriakku keras.

Aku berontak keras dengan terjangan penis itu.
Ini tidak seperti yang kubayangkan.

�Cukup�cukup�cukkupp�, kataku memelas dengan sangat.

Vaginaku terasa tersumbat rapat. Tak ada ruang sama sekali dalam vaginaku sehingga bisa membuatku sedikit nyaman.

�Ohhhh�ya, ohhhh�ya�, balasna padaku. Iapun mulai mengenjot vaginaku cepat dan semakin cepat.
Ia tidak perduli sama sekali dengan kondisiku yang menahan sakit akibat gesekan keras otot vaginaku dengan batang penisnya.
Terasa perih, ngilu dan sakit.

Seolah ia tak perduli dengan penderitaanku, hingga ia semakin mempercepat genjotannya.
Nafasnya semakin cepat dan sepertinya ia akan segera keluar.

�Oh fuckkkkkk�, jeritnya keras.

Aku merasakan bagaimana denyut batang penis dan semburan spermanya dalam vaginaku.
Entah berapa kali ia menyemprotkan spermanya dalam vaginaku hingga kurasakan cukup banyak yang keluar sperma tersebut dari vaginaku saat ia mencabut keluar batang penisnya.
Mengalir deras membasahi dan mengarah kelubang anusku.

�Uhhhhh God�. teriaknya puas.

Ia menyentuh kembali payudaraku dan meremasnya. Kemudian ia duduk dikursi yang berada di depan ranjangku.

Sambil menghidupkan sebatang rokok ia berkomentar, �Vagina mu terasa kencang Sabrina, menyenangkan sekali penisku mengenjotnya�.

�Tidakkah kamu menikmatinya, Sabrina?�, tanyanya padakku.

Aku hanya diam dan terisak menahan perih di vaginaku.
Tapi aku tidak bisa apa dengan posisi terikat ini.
Ingin rasanya aku mengurut vaginaku yang terasa sakit dan pegal.
Penis jahanam ini, bukanlah ukuran yang normal.

Perlahan ia mulai bangkit dari kursinya dan mendekatiku kembali.
�Jangan�jangan lagi..�, teriakku memelas.

�Tenang..Sabrina�, balasnya santai.

Iapun mengambil kertas tisue dan membersihkan sperma yang mengalir diselangkanganku.

Sambil membersihkan selangkanganku ia berkata, �Seandainya..kamu meerima�permainan kita tadi�mungkin kamu akan menikmatinya..�, katanya sambil berkomentar.

�Aku sakit�tolong lepaskan aku�, protesku tanpa perduli dengan ocehannya.

Pria bangsat ini sepertinya tidak akan melepaskanku. Ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil membersihkan permukaan bibir vaginaku.

Disaat membersihkan cairan vagina yg mengalir pada anusku�kurasakan jarinya mulai nakal dengam sedikit menekan lubang anusku.

�Hentikan itu�hentikan itu�, berontak lagi.

�Tenang Sabrina�aku hanya membersihkan sedikit sperma yang ada pada anusmu�, katanya menasehati.
Aku hanya terisak-isak. Pikiranku sudah tidak menentu.

Perlahan kurasakan kepalanya mulai mengarah pada anusku, kemudian menjilati bekas sperma yang ada pada anusku.

Aku sudah tidak perduli lagi dengan aksinya. Yang kuinginkan sekarang agar ia menyelesaikan permainan ini dan membiarkan aku pergi.

Cukup lama juga ia menjilati anusku hingga rasanya anusku basah karena air liurnya.

Kemudian ia segera membalikkan tubuhku.

Aku pikir ia telah selesai dengan permainan ini.
Tapi tidak. Ini belum berakhir.

�Apalagi sekarang?�, teriakku keras.

�Hei�aku yang berkuasa disini Sabrina. Turuti kataku, dan kujamin engkau akan selamat�, perintahnya tegas membalas.

�Tolong lepaskan aku�Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun atas kejadian ini�, kataku memelas sambil memberinya janji.

Ia hanya diam tanpa membalas permintaanku.
Yang kuingat ia mulai mengangkat pantatku dan ia duduk tetap didepan pantatku.

Ia mulai memasukkan jarinya pada anusku, diselingi ciuman pada anusku.

Aku hanya berontak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi duduk yang tepat diantara selangkangan pahaku membuatnya leluasa memainkan anus dan vaginaku.

�Okay..Sabrina�aku harap kau bisa menikmati permainan ini dan bisa kita akhiri dengan cepat kejadian ini�, katanya berjanji.
Aku hanya diam dan berharap ia segera mengakhiri penyiksaan ini.

Ia kemudian mengarahkan penisnya pada anusku.

Posisi pantatku yang ia angkat memudahkannya dalam penetrasi awal.
Dengan kondisi yang menungging ia mulai sedikit demi sedikit memasukkan penisnya pada anusku.

Aku sudah tidak tahan lagi menahan posisi menungging ini saat ia mulai menghunuskan batang penisnya lebih dalam.
Aku terjerembab di kasur saat batang besar itu mulai masuk lebih dalam ke anusku.

Dalam posisi terjerembabpun ia masih berusaha terus untuk menancapkan batang penisnya secara penuh pada anusku.

Aku hanya berusaha menahan segala rasa sakit dari setiap inchi batang penis saat masuk lebih dalam.

�Ayo�wanita jalang�kamu pasti bisa menikmatinya!�, teriaknya sambil menekan habis batang penisnya.

�Ooouuggghh��, aku berteriak sambil menahan rasa sakit.

Perlahan gerakan semakin cepat dalam mengenjot anusku.

�Ohhh�.yeaahhhh�ohh�yeahh��, erangnya sambil mengenjot anusku.

Ia sangat menikmati sekali aksi kali ini, sedangkan aku berusaha menahan rasa sakit.

Tapi rasa sakit itu tak lama kemudian sedikit menghilang dan menjadi sedikit nikmat saat jari tangannya memainkan klitoris vaginaku.

Aku mulai menikmati genjotannya pada anusku selagi ia terus mempermainkan klitorisku.
Tapi aku tidak ingin menunjukkan ekspresi birahiku pada bangsat ini.
Vaginaku mulai lembab kembali dan sedikit basah.

�Ohhh�yeahhh�sayang�.sekarang kamu menikmatinya�ya�, cerocosnya sambil terus mengenjot anusku.

Bangsat�seperti..ia tahu aku menikmati aksi terakhir ini�.

Semakin cepat ia mengenjot anusku, semakin cepat pula gesekan pada klitorisku.
Aku hanya diam tapi birahiku mulai bicara.

�Ohh�.yess�.ohhh..yess�Sabrina. Pantatmu rasanya lebih nikmat�, erangnya liar.

Aku biarkan saja aksi dan celotehannya, mencoba sedikit menikmati orgasme ku yg mulai bangkit.

Aku sudah mulai tidak tahan dan kedua �lobangku� yang dikerjain seperti ini.

Aku mulai mencapai puncaknya�dan�akhhh�aku keluarrr�.Oughhh�aku sedikit mengejang di moment ini, walaupun anusku tak henti-hentinya ia genjoti.

Sepertinya ia pun segera mencapai puncaknya dan segera merangkulku dengan keras dari belakang. Sambil mempertahankan penisnya dalam anusku, sepertinya ia ingin agar spermanya menyemprot dalam anusku.

Rangkulannya begitu keras, hingga beberapa kali kurasakan semprotan spermanya dalam anusku.

�Ohh�yess�.yess�yesss�..�, erangnya keras sambil menyemprotkan spermanya.

Setelah spermanya keluar dan batang penis itu mulai lemas, ia lalu mencabutnya dan mengarahkan batang penis itu padaku untuk aku kulum dan bersihkan.
Aku menolak tapi ia memaksa.
Batang penis itupun aku kulum dan kubersihkan sisa sperma yang masih menempel pada batang penis itu.


Sesaat ia terkulai lemas di punggungku dan tak lama kemudian ia segera keluar dari ruangan itu yang sebelumnya telah melepaskan semua ikatan pada tangan dan mataku.

Tak lama kemudian kudengar kembali suara dari speaker itu, �Aku punya sesuatu untukmu Sabrina.�

Tak lama kemudian TV ruangan tersebut menyala secara otomatis dan nampaklah video adegan ranjang yang telah kami lakukan.

�Fuck you, kamu keparat�, aku berteriak keras.

Tak lama kemudian video tersebut mati, dan kudengar suara yang agak gemuruh dari speaker itu.

Ini cukup aneh.
Tiba2 kudengar suara beberapa pria dari balik pintu.

�Dalam sini, dalam sini�.Dia pasti berada disini�.

�Ada apa lagi ini�, pikirku. �Siapa lagi, kali ini?�

�Brakkk�brakkk�!�, suara pintu yang jebol akibat hantaman sesuatu.
Aku sangat terkejut.

Belum sempat aku menyadari peristiwa ini, seorang petugas polisi membuka jaketnya dan menutupi tubuhku.

�Ini, kenakan jaket ini�, katanya kemudian.

God..thank�ternyata..petugas polisi mencariku setelah mendapat berita dari ibuku dan temanku Stacey tentang saat aku mulai menghilang.

Setelah aku dibawa keluar dari ruang tersebut, ternyata ruang itu adalah sebuah garasi mobil yang tidak dipakai dan direnovasi sebagai mana yang aku rasakan.
Garasi itu milik tetangga disebelah rumah bibiku.

Aku juga melihat seorang pemuda yang sedang menundukkan kepala dari kursi belakang mobil polisi, dan kedua orang tuanya pada mobil polisi yang lain.

Aku segera dibawa kerumah sakit dan menjalani terapi psikiater mengenai kejiwaanku.

Bersama itu pula kujalani persidangan terhadap pria tersebut beserta kedua orang tuanya yang dianggap turut serta membantu kejahatan sang anak.

Setahun telah berlalu peristiwa itu, dan aku merasa lepas beban psikologiku dengan menceritakan pengalaman pahitkku melalui milis disamping terapi berkala yg masih sedikit aku jalani.

readmore>> »»  

Silakan Perkosa Istriku

Perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Reni namanya, umur 27 tahun, lima tahun lebih muda dariku, kulitnya putih mulus, rambut panjang agak bergelombang dan mata yang bulat indah. Ia seorang wanita yang terkenal alim sejak dulu, santun dalam tingkah laku, selera berpakaiannya pun tinggi, ia tidak suka mengumbar kemulusan tubuhnya walau dikaruniai body yang aduhai dengan payudara yang montok. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya sebagai istri. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi atau menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan. Cintaku padanya belum berubah, yang berubah hanya caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Reni dalam dekapan lelaki lain. Entah aku sudah gila atau bagaimana, rasanya benar-benar excited membayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan pria lain, terutama yang bertampang kasar dan status sosialnya di bawahnya. Reni istri yang setia, jadi tentu saja, dalam imajinasiku itu, Reni tidak sedang berselingkuh. Aku mungkin gila membayangkannya menderita lantaran diperkosa! Dan kini imajinasiku itu menjadi kenyataan. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya. Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Reni, seorang istri setia yang alim. Itu semua terjadi di depan suaminya sendiri dan atas perintahnya. Tentu saja, Reni tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat. Tiga lelaki itu adalah orang yang kupilih untuk mewujudkan fantasi gilaku.



Setelah melalui beberapa pertimbangan dan pembicaraan-pembicaraan santai yang makin mengarah ke serius, akhirnya kudapatkan juga tiga orang yang kurasa pas untuk mewujudkan kegilaanku. Orang pertama, Aldo, adalah office boy di kantor tempatku bekerja. Orangnya masih berumur 23 tahun, berperawakan kurus tinggi dengan kumis tipis. Dia sering membantuku dan tugas-tugas yang pernah kupercayakan padanya pun selalu rapi. Pada jam istirahat atau lembur kami sering ngobrol dan merokok bersama, dan dalam suatu obrolan lah aku mengungkapkan ide gilaku padanya. Sifatnya agak pemalu dan pendiam sehingga tidak banyak teman.Menurut pengakuannya, ia belum pernah berpacaran apalagi main perempuan.

�Ya boleh juga lah Bos, sapa tau seperti kata Bos, bisa bikin saya lebih berani ke cewek hehehe� katanya menanggapi permintaanku.

Orang kedua Bob, seorang temanku di perusahaan tempatku bekerja dulu, seorang pria berusia 40 tahun lebih. Aku berpikir dia pas untuk tugas gila ini begitu melihatnya terutama perutnya yang gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Reni yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut. Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati cantik yang belum berhasil ditaklukannya. Ia memperlihatkan foto gadis itu kepada kami yang memang harus diakui cantik. Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya, tetapi gadis itu selalu menolaknya.

�Setelah bermain-main dengan Reni, aku ingin kalian membantuku memperkosa si Lia ini� katanya.

Orang ketiga bernama Jaelani yang direkomendasikan oleh Bob. Ia adalah sopir perusahaan di tempat kerja Bob, tubuhnya kekar, kulitnya hitam, kumis di atas bibirnya menambah sangar wajahnya yang memang sudah seram itu. Melihatnya, aku langsung membayangkan Reni menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis pria seperkasa Jaelanni ini.

�Saya udah lima tahun cerai, selama ini mainnya sama perek kampung aja kalau lagi sange, kalau ngeliat yang cantik kaya istri Abang ini wah siapa ga kepengen Bang� sahutnya antusias ketika kuperlihatkan foto Reni di HP-ku.

�OK deh, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Nanti hari H min satu kita atur lagi lebih dalam rencananya! kataku mengakhiri pertemuan.



***

H � 1



Sehari sebelum hari yang direncanakan tiba, kami berempat berkumpul lagi di rumah kontrakan Jaelani untuk membahas apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik istriku dan membawanya ke villa Bob yang besar dan terletak di luar kota. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar villanya itu, selain itu suasananya pun jauh dari keramaian kota sehingga aman untuk melakukannya. Kami semua sepakat dan mulai membagi tugas. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Reni diperkosa ketiga pria ini.



***

Hari H



Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Reni akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Hari itu ia memakai gaun terusan krem bermotif bunga-bunga. Sebenarnya aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob. Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Reni.

�Sudah mandi, sayang ?� kataku.

�Barusan selesai kok� sahutnya.

�Sekarang lagi apa?�

�Lagi mau pake baju, hi hi�� katanya manja.

�Wah, kamu lagi telanjang ya ?�

�Hi hi� iya,�

�Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !� kataku.

�Iya sayang, ini lagi pake BH,� sahutnya lagi.

�Ya udah, aku kerja dulu ya, cup mmuaachh�� kataku menutup telepon.

Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Reni tak akan bisa mengintip siapa yang datang. Bob, Aldo dan Jaelani turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci. Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Aldo sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.

�Matanya sudah ditutup Do?� kataku.

�Sudah bos. Mbak Reni sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut� katanya.

Memang, kulihat Bob dan Jaelani sedang menggotong Reni yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu kini terikat tak berdaya. Kedua tangannya terikat ke belakang. Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Reni yang terbaring di jok tengah.

�Ha ha� step one, success!� kata Bob.

Aku menelan liurku ketika rok Reni disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka saling berebut menjamah pahanya yang putih mulus. Bob bahkan telah menurunkan bagian dada Reni yang agak rendah sehingga sebelah payudaranya yang masih terbungkus bra hitam menyembul keluar. Lalu, ia menurunkan cup bra itu. Mata ketiganya seolah mau copot melihat payudara 34B Reni yang bulat montok dengan puting coklat itu. Bob bahkan langsung melumat bongkahan kenyal itu dengna bernafsu embuat Reni merintih-rintih. Gilanya, aku malah sangat menikmati pemandangan itu.

�Udah Bang, sekarang berangkat aja dulu� kata Jaelani sambil jarinya mulai merambahi selangkangan Reni dan mengelusi vaginanya dari luar celana dalamnya.



***

Villa Bob



Setelah empat puluh menit perjalanan tibalah kami di villa Bob yang besar. Kami mengikat Reni di ranjang dengan tangan terentang ke atas. Si sopir, Jaelani, tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.

�Pak Bob merokok kan? Reni benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya,� bisikku kepada Bob.

Bob mengangguk sambil menyeringai. Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Reni, tapi aku leluasa melihatnya. Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Reni. Dilepasnya penutup mata Reni. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot. Rontaan Reni makin menjadi ketika Bob menjilati pipinya yang halus. Apalagi, kulihat tangan Jaelani tengah mengobok-obok vaginanya. Pinggul Reni menggeliat-geliat menahan nikmat.

�Bang nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Reni,� tanya Aldo yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.

�Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana!� kataku menepuk punggungnya.

�Oh iya. Lupa!� kata Aldo sambil cengengesan.

Bob menarik lepas celana dalam Reni yang menyumbat mulutnya.

�Lepaskaaaan�. mau apa kalian� lepaskaaaan!� langsung terdengar jerit histeris Reni yang marah bercampur takut.

�Tenang Mbak Reni, kita cuma mau main-main sebentar kok,� kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah cantiknya.

Kulihat Reni melengos dengan kening berkerut.

�Ya nggak sebentar banget, Mbak. Pokoknya sampe kita semua puas deh!� kata Aldo.

Ia berjongkok di hadapan Reni. Diarahkannya kamera ke bagian bawah tubuh Reni, ia mengclose-up jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.

�Memek Mbak rapet sih. betah nih saya maenan ini seharian,� timpal Jaelani.



�Aaakhhh� binatang�lepaskaaann�nngghhhh!� Reni meronta-ronta dan menangis

Telunjuk Aldo ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya. Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Reni yang telah terbuka

�Lepaskaaaan� jangaaann�.setaan�.mmmfff�..mmmmfffff�.mmmpppfff� .� jeritan Reni langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.

Mata Reni mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al

mengclose-up ciuman dahsyat itu. Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Reni terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Reni terbatuk-batuk.

�Ciuman yang hebat, Jeng Reni. Sekarang aku mau mencium memekmu,� kata Bob.

Reni masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat. Bob berlutut di hadapan Reni. Jaelani dan Aldo membantunya membentangkan kedua kaki Reni lebih lebar.

�Wow, memek yang hebat,� kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Reni yang tak berapa lebat.

Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini. Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Reni. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Aldo meng-close-upnya dengan handycam. Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Reni. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Reni lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Reni yang terbuka.

�Uhug�uhug�aaaakkhhh� aaaaakkhhh�.aaaaakkkhhhh�� Reni menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.

�Aaakhhhh� panaaassss�.adududuhhhh�.� Reni terus menjerit dan meronta-ronta. Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku.

Sementara Aldo mengclose up asap yang mengepul dari vagina Reni. Reni semakin menangis ketakutan.



Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada istriku. Reni memekik ketika Bob merenggut putus bra-nya yang telah tersingkap. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya. Kulihat Jaelani kini berdiri di belakang istriku. Penisnya yang besar itu telah mengacung dan siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain. Kuberi kode kepada Aldo, si office boy, agar mendekat.

�Tolong tutup lagi matanya. Gua pengen ingin dia menelan sperma gua soalnya selama ini dia belum pernah� kataku

Al mengangguk dan segera melakukan perintahku. Setelah yakin Reni tak bisa melihatku, aku pun mendekat.

�Aaakkhhh�.aaakkkhhh�.. jangaaaannn�.!� Reni menjerit lagi, kali ini lantaran penis Jaelani yang besar mulai menusuk vaginanya.

Kulihat baru masuk setengah saja, tapi vagina Reni tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis itu. Kulepaskan ikatan tangan Reni tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis si sopir masih menancap di vaginanya. Jaelani kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Reni membuat penis Jaelani makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Reni menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan. Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang cantik ini. Reni bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu

saja ia menolak kalau kuminta spermaku tertumpah di dalam mulutnya.

�Jijik ah, Mas,� katanya berkilah.

Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis si sopir masuk lebih jauh lagi sehingga Reni makin histeris. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku, jeritannya pun langsung terbungkam. Aku berharap Reni tak mengenali suaminya dari bau penisnya. Ughhhh� rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. Kupegangi bagian belakang kepalanya sambil kugerakkan maju mundur pinggulku. Sementara Jaelani juga sudah semakin ganas menyentak-nyentak penisnya pada vagina istriku. Reni mengerang-erang, dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai. Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Aldo menarik kedua puting istriku.

�Ayo, telan, banyak proteinnya nih Mbak, sehat loh� kata Bob.

Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya. Nafas Reni terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.



Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga pria bertampang jelek. Penis Jaelani masih menancap di dalam vagina Reni. Kini Bob mendorong dada Reni hingga ia rebah di atas tubuh tegap sopir itu. Ia kini langsung mengangkangi wajah Reni. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah cantik Reni terjepit pangkal paha lelaki gendut itu. Kuambilalih handycam dari tangan Aldo, lalu kuclose up wajah Reni yang menderita. Reni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob. Kedua tangan kekar Jaelani menggenggam payudara Reni. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Reni dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam. Aldo tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Reni. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Reni mengerang-erang, tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.

�Boleh aku gigit klitorisnya?� tanya Aldo padaku sambil berbisik.

�Boleh, asal jangan sampai luka,� sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.

Office boy pemalu ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Aldo yang tidak rata. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Reni.

�Aaaaakkhhhh�.saakkkkiiiittt�� rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Jaelani ingin berganti posisi. Jaelani memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Reni pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu. Reni terus menjerit-jerit dalam gendongan Jaelani yang ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Reni hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah dan kedua payudaranya tepat di tepi meja.

�Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya,� kata si sopir

Ia menusukkan dua jari ke vagina Reni sehingga tubuh istriku itu menggeliat.



�Sudaaahh�. hentikaaan�kalian�bangsat!� teriaknya di sela isak tangisnya.

�Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini ya?� sahut Jaelani sambil kembali memperkosa istriku.

Suara Reni sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya. Dalam posisi seperti itu, si sopir betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya. Tubuh Reni sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Reni yang putih mulus kini tampak memerah. Jaelani terlihat betul-betul kasar, mungkin Reni adalah wanita tercantik yang pernah disetubuhinya sehingga tak heran ia begitu bernafsu. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya,

�Buang ke mulutnya dulu. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,� kata Bob.

Jaelani mengangguk lalu ia bergerak ke depan Reni. Vagina Reni tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat. Bob dengan cepat menggantikan posisi Jaelani. Penisnya kini menyumpal mulut Reni. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Reni.

�Ayo, telen spermaku ini� Uuughhhh�.yah�. telaaannn�..� si sopir meracau.

Jaelani baru melepaskan penisnya setelah yakin Reni benar-benar menelan habis spermanya. Reni terbatuk-batuk, sopir itu mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Reni yang mancung.

�Uuggghhh�.nggghhhhhh�..� Reni merintih.

Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Reni. Reni tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa si sopir. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.

�Aiaiaiaiiiii�. jangaaan�. aduhhhh�. sakiiit�.� tiba-tiba Reni mendongak dan menjerit kesakitan.

�Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?� katanya.

Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Reni, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Reni.



Kudekati Bob seraya berkata,

�Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ,� bisikku.

�Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan?� sahutnya juga dengan berbisik.

Aku mengangguk. Bob tak mau kalah dengan Jaelani. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Reni dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Reni melolong-lolong dalam orgasme.

Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Aldo kini membungkam mulutnya dengan penisnya. Peluh membasahi sekujur tubuh Reni. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuh Reni terkulai lemas karena kelelahan, keringat bercucuran di tubuhnya yang mulus. Tetapi, kulihat ia masih sadar. Aldo membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Reni diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.

�Sebentar ya Mbak. Bajunya dilepas aja semua biar lebih enak ngentotnya� katanya sambil melucuti seluruh pakaian yang masih tersangkut di tubuh Reni. Reni kini berbaring terlentang di kasur busa tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya arloji Fossil, kalung dan cincin kawin yang masih tersisa di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak. Aldo kemudian mengikat kembali kedua tangan Reni menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Aldo yang sikapnya lembut dan agak malu-malu kepada Reni.

�Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini,� katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.

Dipilin-pilinnya juga kedua puting Reni dengan ujung jarinya. Reni menggeliat merasakan rangsangan menjalar ke seluruh tubuhya dari wilayah sensitif itu.

�Siapa yang menggigit ini tadi ?� tanya Aldo.

�Alaaaa, sudahlah, banyak cingcong amat kau ini�cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini,� terdengar Bob berseru.

�Ah, jangan kasar begitu. Perempuan cantik gini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Reni?� Al terus membelai-belai vagina Reni yang ditutupi bulu-bulu hitam lebat.

Kali ini ia menyentil-nyentil puting Reni dengan lidahnya, sesekali dikecupnya. Biasanya, Reni bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Aldo setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.



�Unngghhh�. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini,� mohonnya.

Aldo tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Reni yang mulus tanpa rambut sehelaipun. Reni menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Aldo mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya. Aku sempat heran, katanya dia belum pernah menyentuh wanita, tapi kok mainnya sudah ahli begini, apakah kebanyakan nonton bokep? pikirku

�Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak,� kata Aldo sambil melanjutkan mengulum puting Reni. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Reni terhisap masuk.

�MMmfff�.. ouhhhhh�.tidaaakk� saya tidak bisa� � sahut Reni dengan isak tertahan. �Bisa, Mbak� Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja� � Aldo terus

menyerang Reni secara psikologis.

Jilatannya sudah turun ke perut Reni yang rata. Dikorek-koreknya pusar Reni dengan lidahnya. Reni menggeliat dan mengerang lemah.

�Vaginamu indah sekali, istriku�� kata Aldo sambil mulai menjilati bibir vagina istriku. Reni mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku. Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah office boy itu pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Aldo berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat pemuda itu dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Aldo, itu memang titik sensitifnya. Aldo menjilati bagian dalam kedua paha Reni, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Reni merapatkan pahanya mengempit kepala si office boy dengan desahan yang menggairahkan.

�Iya Reni, nikmati cinta suamimu ini,�

Aldo terus meracau, direnggangkannya kembali kedua paha Reni. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat kenikmatan Reni. Dijilatinya celah vagina Reni dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.



�Ooouhhhhhh�. aahhhh�. am�phuuunnn�.� Reni merintih menahan nikmat. Apalagi, Aldo kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.

Reni makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Aldo kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.

�Ayo Mbak Reni, nikmati�. nikmati� jangan malu untuk orgasme�� kata Aldo, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Reni. Akibatnya luar biasa. Tubuh Reni mengejang, dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.

�Bagus Mbak, puaskan dirimu,� kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.

�Aaakkhhhh�.aaauuunnghhhhhh�� Reni melolong, lalu ia menangis merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.

Aldo memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.

�Oke Mbak, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu� katanya sambil memaksa Reni mengulum kedua jarinya.

Reni hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Aldo ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Reni dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.

�Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi,� kata Aldo yang lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Reni.

Penisnya langsung menusuk jauh. Reni menjerit kesakitan. Apalagi Aldo memperkosanya kali ini dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Aldo tak henti mencengkeram kedua payudara Reni. Kadang ditariknya kedua putting Reni hingga istriku menjerit-jerit minta ampun. Seperti yang lain, Aldo juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Reni pingsan saat baru sebagian sperma office boy itu ditelannya. Aldo dengan gemas melepas penutup mata Reni, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah cantik istriku.



*******************************

Satu jam kemudian



Reni sudah satu jam pingsan, aku menghampiri tubuhnya yang terkulai lemas dan sudah berlumuran keringat dan sperma itu.

�Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau,� kataku sambil menghisap sebatang rokok.

�Ya masih dong, bos. Baru juga sekali,� sahut Jaelani sambil tangannya meremas-remas payudara Reni.

�Iya, gua kan belum nyoba bo�olnya� timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Reni. �Oke, terserah kalian. Tapi jam dua siang dia harus segera dipulangkan,� kataku.

Tiba-tiba Reni menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya? Kulihat Reni beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Rambut panjangnya yang indah sudah agak berantakan, ia menyilangkan tangan menutupi tubuh telanjangnya. Tentu itu tak cukup untuk menutupinya malah membuat ketiga pria itu semakin bergairah padanya. Jaelani berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.

�Jangan� saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas?!� Reni memaki-maki.

�Belum ! Tapi sekarang Mbak harus mandi dulu supaya memeknya ini bersih!� bentak sopir itu sambil tangan satunya mencengkeram vagina Reni.

Reni menjerit-jerit waktu pria itu menyeretnya ke halaman belakang. Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Jaelani menarik selang panjang dan langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Reni. Reni menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Reni.

�Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin?� tanyanya.

Reni tampak ragu.

�Cepat, sabunan Mbak, kan dingin� seru Aldo.

Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Reni. Reni perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya.



Tak tahan hanya menonton saja, Bob akhirnya mendekati istriku.

�Begini caranya nyabunin memek!� katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok

vagina Reni.

Reni menjerit kecil ketika Bob mendekap tubuhnya dan tangannya mulai menggerayangi tubuhnya yang licin oleh sabun. Mulut pria gemuk itu juga menciumi pundak dan leher istriku. Tak lama kemudian, acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Reni. Reni segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.

�Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan,� bentak Jaelani.

�Kalau sudah bersih, kita terusin lagi ya Mbak, enak sih!� kata Aldo

�Aiiihhh�� Reni memekik karena Aldo sempat-sempatnya mencomot putingnya.

�Kalau sudah handukan, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,� lanjut Bob sambil meremas bokong Reni yang bundar!

Kulihat Reni telah selesai mengeringkan tubuhnya. Ia mematuhi perintah mereka, tanpa mengenakan apapun ia melangkahkan kakinya ke ruang makan. Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan. Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Reni menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Reni yang terbuka bebas. Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Reni. Kulihat ia menciumnya.

�Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi,� katanya.

Reni menggigit bibirnya dan memejamkan mata.

�Teteknya juga wangi,� kata Aldo yang menggenggam sebelah payudara Reni dan mengulum putingnya.

�Ngghhh� kenapa kalian lakukan ini pada saya,� rintih Reni.

�Mau tahu kenapa ?� tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Reni.

Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.

�Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X,� kata Bob.

Aku lega mendengarnya.

�Siapa itu Mr X ?� tanya Reni.

�Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya,� jelas Bob.

�Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup.� lanjut Bob.

�Sudah, Bos, biar Mbak Reni makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras,� sela Ben.



�Maaf ya Mbak Reni. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini,� kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.

�Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,� katanya.

Tangan Reni terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Dengan ragu-ragu ia menjilatinya, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong. Habis sepotong, Aldo mengupaskan pisang Ambon lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.

�Pilih pisang yang mana, Mbak ?� goda Aldo, �ayo ambil,� lanjutnya.

Reni menggerakan tangannya hendak mengambil pisang namun Aldo menangkap pergelangannya dan memaksa Reni menggenggam penisnya.

�Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja,� katanya.

�Tangannya lembut banget nih� kata Aldo.

Jaelani tak mau kalah, ia menarik sebelah tangan Reni dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Reni menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Aldo. Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Reni tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Reni dengan bernafsu. Reni mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.

�Sudah�uhukkk� sudah cukup,� kata Reni dengan nafas terengah-engah.

�Eee ini masih banyak. Sekarang kita haus nih, Mbak harus temenin kita minum,� kata Bob.

�Tapi gelasnya kurang ya?� sahut Jaelani sambil merenggangkan paha Reni.

Reni meronta-ronta tetapi Aldo dan Bob memeganginya. Jaelani membuka sebotol bir lalu menumpahkan seluruh isinya ke tubuh telanjang Reni hingga basah.



�Hmmm�ini baru maknyus namanya!� kata Bob sambil mendorong tubuh Reni hingga terbaring telentang di meja.

Reni terisak-isak, ia merasakan dinginnya bir itu di sekujur tubuhnya, juga jilatan-jilatan lidah dan tangan-tangan para pria itu yang merangsang setiap titik di tubuhnya. Bob menyeruput bir yang tertumpah di vagina gadis itu hingga terdengar bunyi sruput yang rakus.

�Cara baru minum bir, suegerr!!!� sahut Jaelani yang asyik menyeruput bir pada payudara istriku.

Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Reni. Mereka membawanya ke halaman belakang dan memperkosanya di atas rumput secara beramai-ramai. Sperma mereka bercipratan bukan saja di dalam vagina Reni, tapi juga di tubuhnya. Begitu usai, mereka membaringkan Reni yang sudah tak sadarkan diri di atas sofa. Kulihat kondisi Reni sudah betul-betul berantakan, bekas-bekas cupangan terlihat di kulitnya yang putih terutama di payudara, leher dan pundaknya, sperma berceceran di hampir seluruh tubuhnya mulai dari vagina hingga wajahnya, rambut panjangnya pun tidak luput dari cipratan cairan kental itu. Kami mengangkut tubuh telanjang Reni ke kamar mandi dan membersihkannya dengan shower lalu memakaikan kembali pakaiannya. Reni masih belum sadar akibat perkosaan brutal tadi. Kami menaikkannya ke mobil dan kembali ke ibukota. Sampai di Jakarta, Reni mulai bangun, terdengar suara melenguh dari mulutnya. Matanya masih dalam keadaan tertutup karena aku tidak ingin dia melihatku. Bob mengancamnya agar tidak menceritakan kejadian hari ini pada siapapun kalau tidak ingin rekaman perkosaan tadi bocor dan mempermalukan dirinya dan keluarganya. Reni hanya bisa mengangguk dengan terisak-isak. Kami menurunkannya di depan rumah lalu aku segera tancap gas menjauhi rumahku.



**************************

Jam sembilan malam



Aku tiba di rumah dan setelah memarkirkan mobil di garasi aku masuk ke rumah dan memanggil nama istriku, berpura-pura seolah tidak terjadi apapun.

�Ren�Renn!!� aku mengeraskan suaraku karena tidak ada yang keluar ataupun membalas sahutanku

�Renn�lu dimana!� panggilku lagi

�Cklik!� tiba-tiba kamar mandi lantai satu di sebelahku membuka, Reni keluar dari sana.

�Iya Mas, sori saya sakit perut� katanya, �O ya mas, hari ini gak sempat masak, tadi di jalan pulang macet banget, jadi beli makanan di luar, saya panasin sekarang ya Mas�

Kulihat matanya sembab, tapi ia berusaha tersenyum di depanku. Ketika makan malam ia lebih diam dari biasanya namun berusaha menanggapi obrolanku. Kupeluk pinggangnya yang ramping ketika ia sedang mencuci piring sehabis makan dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Biasanya aksi ini berlanjut hingga ke hubungan intim baik kilat maupun long time. Namun kali ini ia menepisnya.

�Jangan Mas, jangan hari ini, saya cape, tolong ya�please!� katanya dengan tatapan memohon.

Akupun mengerti karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kupeluk dia dengan mesra dan kucium keningnya

�I love you honey!� ucapku dekat telinganya

�Sori banget Ren, lu emang istri yang baik, ga mau orang lain ikut cemas dan susah, gua janji ini ga akan terjadi lagi� kataku dalam hati sambil mempererat pelukanku

readmore>> »»  

Selingkuh vs. Selingkuh

Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu yaitu ketika masih umur 22 tahun dan masih kuliah di tahun ke-tiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku (anak dari sepupu mamaku) dari Semarang datang berkunjung ke sini untuk menghadiri undangan pernikahan sekalian mengisi liburan. Namanya Yessica, dia lebih muda dua tahun dariku dan sedang kuliah tahun kedua di sebuah PTS di kotanya. Setelah lama tidak bertemu, hampir tujuh tahunan aku sendiri agak pangling ketika menjemputnya di bandara, soalnya penampilannya sudah jauh berbeda. Dia yang dulunya pemalu dan konservatif kini telah menjadi seorang gadis belia yang modis dan mempesona setiap pria, tubuhnya putih langsing dengan perut rata, rambutnya juga hitam panjang seperti gadis Sunsilk. Dia tiba di sini sekitar pukul tujuh malam, dari bandara aku langsung mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Ternyata dia enak juga diajak ngobrol karena kami sama-sama cewek gaul, padahal waktu kecil dulu kami tidak terlalu cocok karena waktu itu dia agak tertutup.


Keesokan harinya aku mengajaknya jalan-jalan menikmati kota Jakarta serta sempat berkenalan dengan Ratna dan cowoknya yang kebetulan bertemu waktu lagi shopping di TA. Royal juga saudaraku yang satu ini, belanjaannya banyak dan semuanya bermerk, aku saja sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Malamnya sepulang dari undangan yang diadakan di sebuah restoran mewah di ibukota, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur setelah melepaskan gaun pestaku dan menyisakan celana dalam pink saja. Aku rebahan bugil di ranjang merenggangkan otot-ototku sambil menunggu Yessica yang sedang memakai kamar mandi, dia tadi minum alkohol lumayan banyak, kemungkinan dia muntah-muntah di dalam sana kali pikirku.

�Yes, sekalian ambilin kaos gua di gantungan baju di dalam dong,� pintaku ketika dia keluar limabelas menit kemudian, matanya nampak sayu karena pengaruh alkohol dan kelelahan.

Dia memberikan kaos itu padaku lalu memintaku membantu melepaskan kait belakang gaun malamnya. Setelah memakai kaos, aku membuka kait dan menurunkan resleting gaunnya. Yessica pun memeloroti gaunnya sehingga nampaklah dadanya yang montok, ukurannya tidak beda jauh dengan milikku, cuma putingnya lebih kecil sedikit dari punyaku. Hanya dengan bercelana dalam G-string dia berjongkok di depan kopornya mencari pakaian tidur.

�Kenapa Ci? Kok ngeliatin gua terus, jangan-jangan lu..?� katanya nyengir karena merasa kulihat terus tubuhnya sambil membanding-bandingkan dengan tubuhku.
�Yee.. Nggak lah yaw!! Dasar negative thinking aja lo ah!� ujarku sambil tertawa.

Malam itu, sambil berbaring kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan kami cukup seru dari masalah fashion, kuliah, cinta dan sex sehingga bukannya tertidur, kami malah larut dalam obrolan dan canda-tawa. Terlebih lagi ketika memasuki topik seks dan aku menceritakan secara gamblang kehidupan seksku yang liar, dia terkagum-kagum akan keliaranku dan kelihatannya dia juga terangsang.

Namun ketika gilirannya bercerita, suasana jadi serius, di sini dia menceritakan dirinya sedang ribut besar dengan pacarnya yang selingkuh dengan cewek lain, aku dengan penuh perhatian mendengarnya curhat padaku. Nampak matanya berkaca-kaca dan setetes air mata menetes dari matanya yang sipit, dia memeluk bantal lalu menangis tersedu-sedu dibaliknya. Sebagai wanita yang sama-sama pernah dikhianati pria, aku juga mengerti perasaannya, maka kurangkul dia dan kuelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Aku berusaha keras menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dan memberikan air putih padanya.

Beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda, dengan masih sesegukan dia memanggil namaku.

�Hh-mm.. Apa?�
�Ci, tadi lu bilang lu pernah bikin film bokep pribadi kan ya (adeganku yang disyuting Verna, baca �Pembalasan Verna�)?�
�Mm.. Iya, so what?� jawabku sambil mengangguk.
�Boleh gua liat nggak, hitung-hitung penghilang stress.. Boleh ya?�
�Ehh.. Eh.. Gimana ya? Sekarang?� aku bingung karena risih juga kalau film pribadiku dilihat orang lain.

Akhirnya karena didesak terus dan mengingat sama-sama cewek ini, akupun menyerah. Kunyalakan komputer di seberang ranjangku dan mengambil VCD-nya yang kusimpan di lemari. Yessica adalah orang pertama di luar geng-ku yang pernah menonton vcd ini. Gambar di layar komputer memperlihatkan diriku sedang dikerjai para tukang bangunan, serta adegan seks massal dimana Verna juga belakangan ambil bagian didalamnya membuat jantung kami berdebar-debar. Yessica nyengir-nyengir ketika melihatku yang tadinya berontak akhirnya takluk dan menikmati diperkosa oleh empat kuli bangunan itu.

�Hi� hi� hi� Malu-malu mau nih yee!� godanya yang kutanggapi dengan mencubit pahanya.

Aku merasakan vaginaku becek setelah menonton film yang kubintangi sendiri itu, kurasa hal yang sama juga dialami oleh Yessica karena waktu nonton tadi dia sering menggesek-gesekkan pahanya.

�Ci, gua juga mau dong bikin bokep pribadi kaya lu� pintanya yang membuatku kaget.
�Ngaco lu, jangan yang nggak-nggak ah, nanti gua dibilang ngerusak anak orang lagi, nambah-nambah dosa gua aja!� aku menolaknya.
�Aahh.. Ayolah Ci, lagian gua juga sudah nggak perawan ini, sudah basah jadi tanggung sekalian aja mandi�
�Jangan Yes, gua nggak enak ke lu�
�Ayolah, gua cuma mau ngebales aja kok, Napoleon juga membalas berselingkuh waktu tahu istrinya selingkuh, itu baru adil, ya kan� katanya sok sejarah.
�Ya.. illah.. Napoleon aja sampai dibawa-bawa, kalaupun gua mau, bikinnya sama siapa, cowoknya mana?�
�Di villa aja Ci, penjaga villa lu masih kerja di sana kan? Sekali-kali gua mau coba gimana rasanya kontol kampung nih, please�

Karena didesak terus dan dia sendiri yang minta, maka akupun terpaksa menyetujuinya, lagian aku sendiri sudah lama tidak berkunjung ke sana, pasti Pak Joko dan Taryo senang apalagi aku ke sana membawa �barang baru�.

Kami tidur sekitar jam duabelas dan bangun jam delapan pagi. Setelah sarapan, kami mengemasi barang bawaan, lalu pamit pada mamaku memberitahukan bahwa kami akan ke villa. Aku memakai baju untuk suasana rileks berupa halter neck merah yang memperlihatkan punggungku dipadu dengan celana pendek jeans yang ketat. Yessica memakai gaun terusan mini yang menggantung sejengkal di atas lutut, rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan jepit rambut Tare Panda. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam sepuluh dan tiba di tujuan jam satu lebih, gara-gara liburan yang menyebabkan jalan agak macet.

�Sudah siap lu Yes? Kalau mau berubah pikiran belum telat sekarang, tapi kalau mereka sudah ngerjain lu, gua nggak bisa apa-apa lagi� tanyaku ketika sudah mau dekat.
�I�m ready for it, lagian gua juga mau tahu rasanya diperkosa itu kaya apa� katanya yakin.

Kamipun sampai ke villaku, Pak Joko membuka pintu garasi beberapa saat setelah kubunyikan klakson.

�Waduh Neng, sudah lama kok nggak ke sini.. Bapak kangen nih!� sapanya menyambut kami.
�Iya Pak.. habis Citra sibuk banget sih di Jakarta, kalau libur baru bisa main,� kataku, �O.. Iya Pak, kenalin itu sepupu Citra, namanya Yessica�

Pak Joko terkagum-kagum memandang Yessica yang baru saja turun dari mobil, Yessica juga mengangguk dan tersenyum padanya. Kusuruh Yessica meletakkan dulu tasnya di kamar sementara kami mengeluarkan barang, setelah dia masuk, Pak Joko berbicara dengan suara pelan padaku.

�Eh.. Neng, Neng Yessica itu boleh dientot apa nggak, habis nge-gemesin banget sih, ayunya itu loh�
�Idih, Bapak jorok ah.. Dateng-dateng langsung mikirnya gitu�
�Duh, maaf-maaf Neng kalau nggak boleh, Bapak khilaf Neng�
�Nggak kok Pak, Bapak nggak salah, justru dia yang ngajak ke sini minta digituin, malah minta disyuting lagi Pak, Bapak mau kan disyuting, tenang aja Pak buat koleksi pribadi kok�

Pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi senang mendengar jawabanku, dia langsung bergegas mau menemui Yessica untuk langsung mulai. Tapi buru-buru kutahan dengan menarik lengannya.

�Eh.. Sabar-sabar Pak nanti dulu dong, kita harus cari suasana dulu biar lebih hot, lagian kita lapar nih mau makan siang dulu, Bapak sekalian ikut makan aja yah� kataku sambil menyerahkan sekotak ayam goreng KFC dan menyuruhnya menyiapkan nasi.
�O iya Pak, si Taryo ada nggak? Mau manggil dia juga nih� tanyaku pada Pak Joko yang sedang beres-beres.
�Wah kurang tahu tuh Neng, telepon aja dulu�

Aku pun lalu menelepon vila sebelah, baru kujawab teleponnya setelah beberapa kali di sana bilang �halo.. Halo.. Siapa ini?� untuk mengenali suaranya. Setelah yakin itu suara Taryo aku lalu mengundangnya ke sini dan mengutarakan maksudku. Tentu dia senang sekali ditawari seperti itu, tapi dia cuma bisa menemani hari ini saja karena dia bilang besok siang majikannya mau datang berlibur. Ketika kututup telepon, dibelakangku Yessica baru saja turun dari tangga lantai atas.

�Ngapain aja lu, lama amat beresin barang, yuk makan dulu, lapar nih!� kataku.
�Duh sori tadi sakit perut, kepaksa setor dulu ke WC deh�

Aku memberi usul bagaimana kalau kita makan di taman belakang dekat kolam renang saja, mumpung cuaca juga bagus, juga kusuruh Pak Joko menggelar tikar seperti piknik. Ketika lagi beres-beres bel berbunyi, itu pasti Taryo pikirku. Aku menyuruh Pak Joko meneruskan beres-beres sementara aku ke depan membukakan pintu.

Taryo, si penjaga villa tetangga, muncul di depan pintu dan langsung memelukku begitu pintu kututup. Kami berpelukan dengan bibir saling berpagutan, tangannya mengelusi punggungku turun hingga berhenti di pantat, di sana dia remas bokongku yang montok. Serasa sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan saling melepas rindu saja deh, what.. Taryo jadi kekasihku? Nggak lah yaw.. Just as sex partner!

�Mmhh.. Jangan sekarang ah, mau makan dulu, yuk sekalian gua kenalin sama sepupu gua!� aku melepaskan pelukannya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi mau memelorotkan celanaku.
�Ehehehe.. habis kangen banget sama neng sih, apalagi neng tambah cantik kalau rambutnya kaya sekarang� katanya sambil mengomentari rambutku yang sudah lebih panjang dari yang dulu (kini sudah menyentuh bahu) dan kembali kuhitamkan.

Aku memberikan piring dan sendok garpu padanya dan mengajaknya ke taman. Disana Pak Joko dan Yessica juga baru menyendok nasi dan fried chicken ke piringnya. Kami mulai makan dalam suasana santai, obrolan nakal mereka meramaikan suasana, malah sekali aku hampir tersedak karena tertawa. Taryo menenangkan dengan menepuk-nepuk punggungku dan dadaku, ujung-ujungnya tetap meremas payudaraku.

�Apa sih pegang-pegang malah tambah kesedak tahu!� omelku sambil menepis tangannya.

Pelan-pelan Yessica mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, dengan keudikan kedua orang ini, bahkan dia pun mulai berani jawab waktu ditanya aneh-aneh oleh mereka.

�Tuh, pahanya satu lagi, habisin aja Pak!� tawarku.
�Paha? Mana paha?� celoteh si Taryo pura-pura bego sementara tangannya meraih pahaku.

Langsung kutampik lagi tangannya dan disambut gelak-tawa. Setelah semua selesai makan limabelas menit kemudian kusuruh Pak Joko dan Taryo membersihkan perangkat makan dan mencucinya dahulu sekalian menunggu makanan di perut turun.

�Dah nggak risih lagi kan, habis ini kita action nih, siap nggak?� tanyaku pada Yessica.
�Siapa takut, lagian gua seneng bisa ngebales si brengsek itu, biar dia tahu cewek juga bisa selingkuh, apalagi gua selingkuhnya sama orang yang nggak pernah dia duga� tegasnya.
�Tuh mereka sudah beres Yes, showtime� kataku melihat kedua penjaga villa itu keluar, �Pak Joko, tolong handycamnya masih di meja dalam�

Pak Joko pun masuk lagi dan keluar membawa handycamnya. Kami duduk melingkar di tikar, aku memberi instruksi bak seorang sutradara. Kuperingatkan pada kedua pria itu agar tidak menyentuhku dulu selama aku mensyuting, agar hasilnya maksimal, tidak goyang seperti hasil syuting Verna.

Setelah semua siap, keduanya merapatkan duduk mereka pada Yessica, terlihat dia agak nervous dibuatnya.

�Santai aja Yes, ntar juga enjoy kok� saranku.

Kamera kunyalakan, tanpa disuruh lagi keduanya sudah mulai duluan. Pak Joko meletakkan tangannya di paha Yessica yang duduk bersimpuh, tangan itu merabai pahanya secara perlahan dan menyingkap roknya. Taryo di sebelah kanan meremas payudaranya, sepertinya agak keras karena Yessica meringis dan mendesah lebih panjang. Sementara lidahnya menjilati leher jenjang Yessica, ke atas terus menggelikitik kupingnya dan menyapu wajahnya yang mulus.

Tangan Pak Joko sudah masuk ke dalam rok Yessica yang tersingkap, diremasinya kemaluannya yang masih tertutup celana dalam putih tipis yang memperlihatkan bulu kemaluannya. Pria kurus itu juga membuka resleting celananya hingga penisnya yang sudah tegak menyembul keluar, lalu tangan Yessica digenggamkan padanya dan disuruh mengocoknya. Bibir mungilnya dipagut oleh Taryo, mereka berciuman dengan hot, lidah mereka keluar saling jilat dan belit. Sambil berciuman Taryo menurunkan resleting punggung Yessica lalu memeloroti bajunya lewat bahu, juga disuruhnya Pak Joko memeloroti yang sebelah kiri, setelahnya bra-nya mereka lucuti pula. Kini payudara montok saudaraku yang cantik ini terekspos sudah.

Pak Joko langsung mencaplok susu kirinya dengan liar dan ganas, pipinya sampai kempot menyedot benda itu, aku mendekatkan handycam untuk lebih fokus ke momen itu.

�Gimana Pak? Manis nggak susunya?� tanyaku sambil mensyuting.
�Mantap neng, ini baru pas susunya!� dia melepas sebentar emutannya untuk berkomentar lalu kembali menyusu dan mengorek-ngorek kemaluannya, tangan lainnya mengelusi punggung Yessica.

Taryo masih terus menciuminya, lidahnya terus menyapu rongga mulutnya, begitu pula Yessica juga dengan liar beradu lidah dengannya. Jempol Taryo menggesek-gesek putingnya diselingi pencetan dan pelintiran. Yessica sendiri makin intens mengocoki penis Pak Joko sehingga penjaga villaku ini terpaksa menghentikannya karena tidak mau buru-buru keluar. Kini dia suruh sepupuku merunduk (sehingga posisinya setengah berbaring ke samping) dan mengoral penisnya. Dengan bernafsu, Yessica melayani penis Pak Joko dengan mulut dan lidahnya, mula-mula dia jilati buah pelir dan batangannya dengan pola naik-turun, sampai di kepalanya sengaja dia gelitik dengan lidahnya dan dikulum sejenak. Pemiliknya sampai mengerang-ngerang keenakan sambil meremasi payudaranya yang menggantung.

Taryo menarik gaun itu ke bawah hingga lepas, menyusul celana dalamnya. Setelah menelanjangi Yessica, dia melepaskan bajunya sendiri. Diobok-oboknya vagina Yessica dengan jari-jarinya, liang itu pun semakin becek akibat perbuatannya, cairannya nampak meleleh keluar dan membasahi jarinya.

�Enngghh.. Uuuhh.. Uhh!� desah Yessica disela-sela aktivitas menyepongnya.

Kemudian Pak Joko rebahan di tikar dan dia suruh Yessica naik ke wajahnya, rupanya dia mau menjilati vaginanya. Gantian sekarang Taryo yang dikaraoke, penisnya yang hitam berurat dan lebih besar dari Pak Joko dikocok-kocok oleh Yessica yang sedang mengemut pelirnya. Dia menyentil-nyetilkan lidahnya pada lubang kencingnya sehingga Taryo mengerang nikmat.

�Ayo dong Neng, masukin aja, jangan cuma bikin geli gitu� kata Taryo sambil menekan penis itu masuk ke mulutnya, lalu wajahnya pun dia tekan dalam-dalam saking tidak sabarnya sehingga mata Yessica membelakak karena sesak. Dia meronta ingin melepaskan benda itu dari mulutnya, tapi tangan Taryo yang kokoh menahan kepalanya.

�Sudah dong Tar, jangan sadis gitu ah, bisa mati tercekik dia, kontol lu kan gede� bujukku agar Taryo memberinya sedikit kelegaan.
�Non Yessicanya seneng kok Neng, tuh buktinya!� tangkis Taryo memperlihatkan Yessica yang kini malah memaju-mundurkan kepalanya mengoral penisnya, tapi kepalanya tetap dipegangi sehingga tidak bisa lepas.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang tengah asyik mengulum penis Taryo, mulutnya penuh terisi oleh batang besar itu sehingga hanya terdengar desahan tertahan. Kemudian kuarahkan ke bawah mengambil adegan Pak Joko sedang melumat vaginanya, dia menjulurkan lidahnya menyapu bibir vaginanya. Tangan kanannya mengelus-elus pantat dan pahanya yang mulus, tangan kirinya dijulurkan ke atas memijati payudaranya.

Ekspresi keenakan Yessica terlihat dari gerak pinggulnya yang meliuk-liuk. Lidah Pak Joko menjilat lebih dalam lagi, dipakainya dua jari untuk membuka bibir vaginanya dan disapunya daerah itu dengan lidahnya. Kemaluannya jadi tambah basah baik oleh ludah maupun cairan vaginanya sendiri. Walaupun terangsang berat aku masih tetap mensyuting mereka sambil sesekali meremas payudaraku sendiri, kemaluanku juga sudah mulai lembab.

�Emmh.. Emmhh.. Angghh!� Yessica mendesah tertahan dengan mata merem-melek, tangannya meremasi rambut Pak Joko di bawahnya.

Cairan bening meleleh membasahi vaginanya dan mulut Pak Joko. Pak Joko makin mendekatkan wajahnya ke selangkangannya dan menyedot vaginanya selama kurang lebih lima menit, selama itu tubuh Yessica menggelinjang hebat dan sepongannya terhadap penis Taryo makin bersemangat. Puas menikmati vagina, Pak Joko menarik keluar kepalanya dari kolong Yessica. Dia mengambil posisi duduk dan menaikkan Yessica ke pangkuannya. Tangannya yang satu membuka lebar bibir vaginanya sedangkan yang lain membimbing penisnya memasuki liang itu.

Taryo cukup mengerti keadaannya dengan membiarkan Yessica melepas penisnya yang sedang dioral untuk mengatur posisi dulu. Yessica menurunkan tubuhnya menduduki penis Pak Joko hingga penis itu melesak ke dalamnya diiringi erangan panjang. Pak Joko juga melenguh nikmat akibat jepitan vagina Yessica yang kencang itu. Aku mendekatkan kamera ke selangkangan mereka agar bisa meng-close-up adegan itu. Yessica mulai naik-turun di pangkuannya, payudaranya diremasi dari belakang oleh Pak Joko.

Kembali Taryo memasukkan penisnya ke mulut Yessica yang langsung disambut dengan jilatan dan kuluman. Kurang dari lima belas menit, Taryo sudah mengerang tak karuan sambil menekan kepala Yessica.

�Hhmmpphh.. Oohh.. Keluar Neng!� demikian erangnya panjang.

Pipi Yessica sampai kempot mengisapi sperma Taryo, namun hebatnya belum nampak setetespun cairan itu meleleh keluar dari mulutnya, padahal di saat yang sama Pak Joko juga sedang menggenjotnya dari bawah. Hingga erangan Taryo berangsur-angsur mereda, dia pun mulai melepas penis itu dan menjilati sisa-sisa sperma di batangnya. Penis Taryo kelihatan sedikit menyusut setelah menumpahkan isinya.

�Wuihh.. Gile bener sepongan Neng Yessica nggak kalah dari Neng Citra� komentarnya.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang sedang menjilati sisa-sisa sperma di penis Taryo dengan rakus. Sambil men-charge penisnya, Taryo bermain-main dengan payudara Yessica, kedua bongkahan kenyal itu dia caplok dengan telapak tangannya dan dihisapi bergantian. Kulit payudara yang putih itu sudah memerah akibat cupangan Taryo. Suara erangan sahut-menyahut memanaskan suasana.

Yessica terus menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat, semakin lama makin cepat dan mulutnya menceracau tak karuan.

�Oohh.. Aauuhh.. Aahh!� lolongnya dengan kepala mendongak ke langit bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang, didekapnya kepala Taryo erat-erat sehingga wajahnya terbenam di belahan payudaranya. Momen indah ini terabadikan melalui handycamku dan terus terang aku sendiri sudah terangsang berat dan ingin segera bergabung, tapi sepertinya belum saatnya, nampaknya mereka berdua sedang getol-getolnya menggarap Yessica sebagai barang baru daripada aku yang sudah sering mereka kerjai.

Yessica ambruk di atas tubuh Pak Joko dengan penis masih tertancap. Pak Joko mendekapnya dan mencumbunya mesra, lidah mereka berpaut dan saling menghisap. Kini Taryo yang senjatanya sudah di reload meminta gilirannya. Pak Joko pun menurunkan Yessica dari tubuhnya dan ke dalam mengambil minum. Kedua pergelangan kaki Yessica dipegangi Taryo lalu dia bentangkan pahanya lebar-lebar. Setelah menaikkan kedua betisnya ke bahu, Taryo menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vaginanya.

Walaupun vagina itu sudah basah, tapi karena penis Taryo termasuk besar, lebih besar dari Pak Joko, Yessica meringis dan mengerang kesakitan saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos benda hitam itu, tubuhnya tegang sambil meremasi tikar di bawahnya, mungkin dia belum terbiasa dengan penis seperti itu. Taryo sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya

�Uuuhh.. Uhh.. Sempit banget sih, asoy!� erangnya ketika melakukan penetrasi.

Aku sebagai juru kamera sudah terlalu menghayati sampai tak sadar kalau tangan kiriku menyelinap lewat bawah bajuku dan memijiti payudaraku sendiri, kuputar-putar putingku yang sudah mengeras dari tadi. Taryo mulai menggerakkan penisnya perlahan yang direspon Yessica dengan rintihannya. Pak Joko kembali dari dalam, dia bersimpuh di samping mereka lalu meletakkan tangan Yessica pada penisnya. Dia menikmati penisnya dipijat Yessica sambil meremas payudaranya.

Taryo menaikkan tempo permainannya, disodoknya Yessica sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Yessica semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat bukan sakit. Pak Joko merundukkan badannya agar bisa menyusu dari payudaranya, diemut-emut dan ditariknya puting itu dengan mulutnya.

Sekitar limabelas menit kemudian mereka berganti posisi karena Pak Joko juga sudah mau mencoblos lagi. Kali ini tanpa melepas penisnya Taryo mengangkat tubuh Yessica, dia sendiri membaringkan diri di tikar sehingga Yessica kini diatasnya. Kemudian Pak Joko menyuruhnya agar mengangkat pinggulnya, Yessica lalu mencondongkan badannya ke depan sehingga pantatnya menungging dan payudaranya tepat di atas wajah Taryo.

�Bapak tusuk di pantat yah Neng, tahan yah kalo agak sakit� kata Pak Joko meminta ijin.
�Jangan terlalu kasar yah Pak, saya takut nggak tahan� kata Yessica dengan suara lemas.
�Engghh.. Pak!� erangnya saat Pak Joko memasukkan telunjuknya ke anusnya, lalu dia masukkan juga jari tengahnya sambil diludahi dan digerak-gerakkan untuk melicinkan jalan bagi penisnya.

Setelah merasa cukup, Pak Joko mulai memasukkan barangnya ke sana, kelihatannya cukup susah sehingga dia harus pakai cara tarik ulur, keluarin satu senti masukkan tiga senti sampai menancap cukup dalam dan setelah setengahnya lebih dengan sedikit tenaga dia hujamkan hingga mentok.

�Akkhh.. Sakit..!!� erangannya berubah jadi jeritan ketika pantatnya dihujam seperti itu.

Kedua penjaga villa ini bagaikan kuda liar menggarap kedua liang senggama sepupuku, kedua tubuh hitam yang menghimpit tubuh putih mulus itu seperti sebuah daging ham diantara dua roti hangus, mereka sudah bermandikan keringat dan nampak sebentar lagi akan mencapai puncak. Aku sejak tadi sibuk berpindah sana-sini untuk mencari sudut yang bagus.

Yessica mulai mengejang dan mengerang panjang menandai klimaksnya. Tapi kedua penjaga villa itu tanpa peduli terus menggenjotnya hingga beberapa menit kemudian. Mereka mencabut penisnya dan menelentangkan Yessica di tikar. Mereka cukup mengerti permintaan Yessica agar tidak membuang di dalam karena sedang masa subur, Pak Joko menumpahkan ke wajah dan mulutnya, sedangkan Taryo ke perut dan dadanya. Meskipun masih lemas, Yessica tetap menggosokkan sperma itu ke badannya. Ketiganya rebahan dan mengatur kembali nafasnya.

�Gimana Yes, puas nggak?� tanyaku.
�Aduh Ci.. Lemes banget, kayak nggak bisa bangun lagi rasanya deh!� jawabnya lemas dengan sisa tenaganya.
�Gimana Bapak-Bapak, masih kuat nggak? Gua belum dapat nih!� kataku pada kedua orang itu.
�Iya ntar Neng, harus isi tenaga dulu nih!� jawab Pak Joko.
�Ya sudah istirahat aja dulu, gua mau minum nih haus!� kataku meninggalkan mereka dan menuju ke dalam.

Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Setelah menutup pintu kulkas dan membalik badan tiba-tiba Taryo sudah di belakangku, kaget aku sampai gelas di tanganku hampir jatuh.

�Duh.. Ngagetin aja lu Tar, dateng nggak kedengeran gitu kaya setan aja!� omelku, �Ngapain? Mo minum?�

Tanpa berkata-kata dia mengambil gelas yang kusodorkan dan meminumnya. Aku melihat tubuhnya yang telanjang, penisnya dalam posisi setengah tegang, pelirnya menggantung di pangkal pahanya seperti kantung air. Setelah berbasa-basi sejenak aku mendekati dan memeluknya, berpelukan mulut kami mulai saling memagut, lidah bertemu lidah, saling jilat dan saling belit, kugenggam penisnya dan kupijati. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi.

Kemudian kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan dia duduk di sofa. Aku berdiri di hadapannya dan melepas pakaianku satu persatu hingga tak menyisakan apapun di badanku dengan gerakan erotis. Aku berhenti tepat di depannya yang sedang duduk, nampak dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku, tangannya merabai paha dan pantatku.

�Neng cukur jembut yah, jadi rapih deh hehehe..� komentarnya terhadap bulu kemaluanku yang beberapa hari lalu kurapihkan pinggir-pinggirnya hingga bentuknya memanjang.

Menanggapinya aku hanya tersenyum seraya mendekatkan kemaluanku sejengkal dan sejajar dari wajahnya, seperti yang sudah kuduga, dia langsung melahapnya dengan rakus.

�Eemmhh.. Yess!� desahku begitu lidahnya menyentuh vaginaku.

Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan lidahnya begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Aku mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu klitorisku yang sensitif. Mulutnya kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Sementara tangannya terus meremas pantatku dan sesekali mencucuk-cucuk duburku. Aku mengerang sambil meremas rambutnya sebagai respon permainan lidahnya yang liar. Puas menjilati vaginaku, dia menyuruhku duduk menyamping di pangkuannya. Dengan liarnya dia langsung mencaplok payudaraku, putingnya dikulum dan dijilat, tangannya menyusup diantara pahaku mengarah ke vagina. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang vaginaku.

Selain payudaraku, ketiakku yang bersih pun tak luput dari jilatannya sehingga menimbulkan sensasi geli, terkadang dihirupnya ketiakku yang beraroma parfum bercampur keringatku. Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya, benda itu kini telah kembali mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan-rangsangan yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari vaginaku begitu dia keluarkan. Disodorkannya jarinya ke mulutku yang langsung kujilati dan kukulum, terasa sekali aroma dan rasa cairan yang sudah akrab denganku.

Tubuhku ditelentangkan di meja ruang tamu dari batu granit hitam itu setelah sebelumnya dia singkirkan benda-benda diatasnya. Nafasku makin memburu ketika penis Taryo menyetuh bibir vaginaku.

�Cepet Tar, masukin yang lu dong, nggak tahan lagi nih!� pintaku sambil membuka pahaku lebih lebar seolah menantangnya.

Karena mejanya pendek, Taryo harus menekuk lututnya setengah berjinjit untuk menusukkan penisnya. Aku menjerit kecil merasa perih akibat cara memasukkannya yang sedikit kasar. Selanjutnya kami larut dalam birahi, aku mengerang sejadi-jadinya sambil menggelengkan kepala atau menggigit jariku. Kini dia berdiri tegak memegangi kedua pergelangan kakiku, sehingga pantatku terangkat dari meja. Payudaraku terguncang-guncang mengikuti irama goyangannya yang kasar.

Dalam waktu duapuluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang sementara dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.

Sekarang dia merubah posisi dengan menurunkan setengah tubuhku dari meja, dibuatnya aku nungging dengan kedua lututku bertumpu di lantai, tetapi badan atasku masih di atas meja sehingga kedua payudaraku tertekan di sana. Dia kembali menusukku, tapi kali ini dari belakang, posisi seperti ini membuat sodokannya terasa makin deras saja.

Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu bunyi plok.. plok.. tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Tak lama kemudian aku kembali orgasme, tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di meja.

Namun sepertinya Taryo masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di sofa, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.

�Yessica sama Pak Joko mana Tar? Kok nggak masuk-masuk?� tanyaku pelan.
�Nggak tahu juga Neng, mungkin sudah mulai ngentot lagi di luar, kita lihat aja yuk!�
�Oo� kalo gitu ntar aja deh, masih lemas�

Namun sebagai jawabannya Taryo malah menggendong tubuhku dan membawaku ke kebun. Di sana Yessica maupun Pak Joko sudah tidak ada lagi yang ada hanya baju mereka yang berceceran di atas tikar. Sayup-sayup terdengar suara desahan tak jauh dari sini, tepatnya dari kolam renang.

Dengan menggendongku, Taryo berbelok ke kanan menuju ke kolam. Di sana kami melihat di kolam daerah dangkal Pak Joko sedang asyik menggenjot sepupuku dari belakang dengan doggy style. Yessica mendesah-desah dan sesekali menjerit kecil menerima sodokan Pak Joko, rambut panjangnya kini basah oleh air dan terurai karena ikat rambutnya sudah dilepas.

�Neng, kita nyebur juga yuk, biar seger� ajak Taryo.

Aku menganggukkan kepala menyetujuinya, diapun melangkah turun ke air, di sana tubuhku dia turunkan hingga terendam air. Hmm.. Rasanya dingin dan menyegarkan, sepertinya keletihanku agak terobati oleh air.

�Masih kuat juga Pak Joko, sejak kapan mulai lagi nih?� sapa Taryo.
�Kuat dong, buat neng-neng cantik ini kapan lagi,� sahut Pak Joko di tengah aktivitasnya.

Air kolam merendamku hingga dada ke atas, aku sandaran pada dinding kolam mengendurkan otot-ototku. Taryo kembali menghampiri dan menghimpit tubuhku. Diciumnya aku dibibir sejenak lalu ciumannya merambat ke telinga dan leher sehingga aku menggeliat geli. Penisnya kugenggam lalu kukocok di dalam air. Dia angkat satu kakiku dan mendekatkan penisnya ke vaginaku. Dengan dibantu tanganku dan dorongan badannya, masuklah penis itu ke vaginaku.

Air semakin beriak ketika dia memulai genjotannya yang berangsur-angsur tambah kencang. Kakiku yang satunya dia angkat sehingga tubuhku melayang di air dengan bersandar pada tepi kolam. Aku menengadahkan wajah menatap langit yang sudah mulai senja dan mengeluarkan desahan nikmat dari mulutku. Mulutnya melumat payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.

Aku menoleh ke sebelah untuk melihat Yessica yang berada sekitar lima meter dari kami, sekarang mereka sudah berganti posisi, Yessica duduk di atas pangkuan Pak Joko menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas penis Pak Joko yang disaat bersamaan sedang mengenyot payudaranya. Tangan kiri Pak Joko bergerilya mengelusi punggung dan pantatnya. Taryo memang sungguh perkasa, padahal kan sebelumnya dia sudah menggarap Yessica sampai orgasme berkali-kali. Aku sendiri sudah mulai kecapekan dan setengah sadar karena sodokan-sodokan brutalnya. Gesekan-gesekan penisnya dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuatku gila. Mataku mebeliak-beliak keenakan hingga akhirnya aku klimaks lagi bersamaan dengan Taryo. Spermanya yang hangat mengalir mengisi rahimku.

�Neng.. Neng keluar nih saya!� erangnya panjang sambil meringis.

Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mataku juga makin berat. Mungkin karena kecapaian di perjalanan atau Taryo yang terlalu bersemangat, akupun tak sadarkan diri, padahal jarang sekali aku pingsan setelah bersenggama. Aku masih sempat merasakan diriku digendong Taryo lalu dibaringkan di pinggir kolam, juga menyaksikan Yessica sedang mengoral Pak Joko yang berdiri berkacak pinggang, nampaknya mereka juga sudah mau selesai, tapi entahlah karena aku keburu tidak sadar.

Aku terbangun ketika langit sudah gelap di kamarku, masih telanjang dan terbaring di ranjang. Yessica lah yang membangunkanku dengan mengguncangkan tubuhku. Dia juga masih telanjang, cuma ada kami berdua di kamar ini. Aku mengucek-ngucek mataku sambil menggeliat.

�Jam berapa Yes?� tanyaku dengan pelan.
�Setengah tujuh, mandi yuk, gua juga baru bangun!� ajaknya.
�Entar ah, masih lemes sepuluh menit lagi deh!� jawabku dengan malas dan menarik selimut menutup tubuh bugilku.
�Ci, handycamnya mana? Lihat dong hasilnya, bagus nggak?�
�Mm.. Di ruang tengah kali, terakhir gua taro sana, coba lihat aja�
�O iya, Yes.. Sekalian buatin air hangat yah, tinggal buka krannya aja kok, itu otomatis!� pintaku sebelum dia keluar dari kamar.

Dia kembali tak lama kemudian dengan membawa handycam dan segelas air putih. Kugeser tubuhku duduk bersandar ke ujung ranjang. Dia minta aku menyalakan alat itu karena tidak mengerti. Kami menyaksikan hasil rekamanku tadi melalui layar kecil pada alat itu.

�Hot juga lu Yes mainnya, bakat jadi bintang bokep nih!� godaku melihat keliarannya, �By the way, gimana perasaan lu sesudah ngeliat ini?�
�Lega Ci, gua akhirnya bisa juga ngebales cowok brengsek itu, biar tahu rasa dia ceweknya main sama orang-orang kaya gini, putus ya putus, gua dah nggak peduli lagi kok� katanya berapi-api.
�Sudah dong jangan nafsu gitu Yes, serem ah liatnya!� kataku sambil mengelus-elus punggungnya menenangkan.
�Eh.. Gimana airnya, bisa tumpah nih!� kataku mendadak baru ingat limabelas menit kemudian gara-gara asyik ngobrol sambil menonton rekaman itu.

Kami buru-buru ke kamar mandi dengan berlari kecil dan benar saja airnya sudah meluap tapi sepertinya belum lama karena lantainya belum terlalu banjir. Terpaksa harus kubuang sedikit airnya, lalu kutaburi buble bath dan mengocoknya hingga berbusa. Kusuruh Yessica agar membawa saja handycamnya ke sini agar bisa nonton sambil berendam. Hhmm.. Segarnya berendam di air hangat berbusa itu, sepertinya segala beban seharian hilang sudah oleh kesegarannya.

Di bathtub kami saling menggosok punggung kami sambil menonton handycam yang diletakkan di tepi bak yang agak lebar, aku juga membantu Yessica mengkramas rambutnya yang panjang itu. Setelah dua puluh menitan kamipun menyelesaikan mandi kami, kuguyur badanku dengan air membersihkan busa-busa yang menempel lalu mengelap badan dengan handuk. Yessica ke kamar dahulu karena aku mau buang air kecil dulu. Aku keluar dari kamar mandi sambil mengikat tali pinggang kimonoku, di ruang tengah aku berpapasan dengan Pak Joko yang juga baru masuk dari pintu yang menuju kolam.

�Eh Bapak, Taryo mana Pak, kok nggak keliatan?� sapaku.
�Oo.. Tadi katanya mau pulang dulu ke rumahnya, ndak tahu deh ngapain,� jawabnya, �Tapi nanti katanya mau ke sini lagi sekalian bawain makanan�

Aku lalu meninggalkannya dan masuk ke kamarku, di sana Yessica yang masih memakai gulungan handuk di kepalanya sedang mengoleskan body lotion pada pahanya. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi, Taryo datang membawa empat bungkus nasi uduk, dia bilang tadi dia menengok istri dan orang tuanya dulu di desa tak jauh dari sini. Kami makan di meja makan, tidak terlalu enak sih, tapi lumayan lah buat sekedar ganjal perut.

Di tengah makan, terdengarlah suara dering HP dari kamarku.

�HP lu tuh Yes, sana gih terima dulu!� kataku padanya.

Yessica bergegas ke kamar meninggalkan makannya yang belum habis sementara kami bertiga meneruskan makan. Taryo selesai paling awal, saat itu Yessica masih belum kembali juga, lama juga neleponnya pikirku.

�Saya panggilin Neng Yessi dulu yah!� kata Taryo setelah meminum airnya seraya melangkah ke kamarku.

Pak Joko sudah selesai makan, sedangkan aku tidak habis karena nasinya kebanyakan, tak enak pula jadi sisanya kubuang. Kami berdua membereskan sendok-garpu dan gelas ke bak cucian, serta membuang kertas pembungkus ke tempatnya.

�Yes, ini makannya habisin dulu dong, dingin nanti!� teriakku padanya, �Wah jangan-jangan si Taryo dah mulai lagi tuh, habis belum keluar-keluar sih�

Kami berdua pun segera ke kamarku dan benar juga apa kataku tadi. Taryo sudah telanjang, duduk selonjoran di ranjang dan mendekap Yessica yang duduk membelakanginya bersandar pada tubuhnya. Kimono putih bermotif bunga-bunga kuningnya tersingkap kemana-mana, payudara kirinya yang terbuka dipencet-pencet dan dimainkan putingnya oleh Taryo. Pahanya terbuka lebar dan dipangkalnya tangan Taryo bermain-main diantara kerimbunan bulunya, mengelusi dan mengocok dengan jarinya.

Tak ketinggalan bahu kirinya yang terbuka dicupangi olehnya. Yessica hanya mendesah dengan ekspresi wajah menunjukkan kepasrahan dan rasa nikmat.

Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.

�Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak�
�Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya� jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:

�Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!�

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.

�Randy bangsat.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh.. Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!�

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.

�Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!� erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku, putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

�Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!� desahku dengan nafas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-turun dengan cepat karena ngos-ngosan.

�Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!� terdengar Yessica berkata dari sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu tertidur kecapekan.

Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut, tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian, tanpa sehelai benangpun.

�Yes.. Ooii!� sapaku sedikit teriak sambil melambai, �Mana tuh dua orang itu!?�

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, �Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!�

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.

�Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!� kataku sambil mengelus dada, �O ya, Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?�
�Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini soalnya entar siang majikannya datang!�

Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah kami dua gadis di villa ini.

Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata. Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup angin kemana-mana.

Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar. Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi karena sibuk melayani mereka.

Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.

Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.

Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi, mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu semakin berbusa di tubuh Yessica.

Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.

�Oohh.. Keluar Pak!!� sambil mempererat pelukannya.

Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku. Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu ke vaginaku.

�Uuugghh..!� desahku saat benda itu menusuk ke dalam.

Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.

�Ahh.. Ohh.. Pak!� desah Yessica sambil menggeliat-geliat.

Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya, aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal dengan aromanya.

Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan badannya.

Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.

�Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!� demikian desahku menghayati setiap jilatannya.

Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya. Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.

Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.

�Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek� pujiku.
�Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!� katanya dengan tersipu malu.
�Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak� sahut Yessica sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan menepuk pantat kami bersamaan.

Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah�

�Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!�

Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya, sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica, jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.
E N D

readmore>> »»