Dengan Si Mbah (3)

"Gila loe, quicky dimana kemaren?" Aku cuma mesam mesem aja menanggapi seruan
Lis. Sementara teman2 yg lain bersorak menanggapi kata2 Lis. "Kok lu tau Lis?"
Ruth bertanya penasaran. "Woooy udaaah..." Aku coba memotong pembicaraan, "ah ya
tau lah, underware di mana2 sama mulutnya masih cemot!" Gila! Aku malu abis,
pembicaraanpun meluncur dari yang menjurus sampe bener2 jorok. Ahh tiba2 aku
berpikir, tunggu aja kalau mulutmu yang kebobolan, aku gak jadi marah, malah
menimpali semua omongan yg sudah benar2 jorok itu. Akhirnya setelah bel sekolah
berbunyi dan sebagian ibu2 berangkat pergi, akupun beranjak hendak pulang, Lis
menghampiriku, "Mil, anterin ke situ dong akupunktur"


"Aku pikir lo ga mau Lis"
"Mau cuma gw malu kalau ketauan, nih perut gw besar". Oh pantesan dia selalu pk
baju longgar selama ini. Lis tidak terlalu tinggi, hanya 160 cm. Rambutnya
panjang dibawah bahu, berkaca mata tipis, putih mirip cina. Sebetulnya dia biasa
saja, cuma bibirnya agak sensual, dan wajahnya cukup manis. Badan biasa dan
memang benar si mbah dadanya gak terlalu besar. Sepertinya 32A saja. Tapi
pantatnya memang bohai, walaupun itu tidak pernah benar2 keliatan karena dia
selalu berbaju longgar dan celana panjang.
Satu hal yang aku tau belakangan kulitnya putih mulus dan bentuk paha dan
betisnya cukup indah.
Setelah berdiskusi apa yg ia ingin lakukan akhirnya kami semobil dengan mobil
Lis menuju ruko si Mbah, walaupun aku sempat ke toilet untuk melepas semua
underwareku. Lis ingin mengecilkan perutnya yg agak membesar dan ingin bertanya
apakah akupunktur bisa membantu kesuburannya. Aku dan Lis sama2 baru memiliki
anak satu dan sulit mendapatkan lagi. Walaupun entah mengapa aku mulai yakin aku
sekarang benar2 telat mens dan mungkin sudah mulai hamil oleh si Mbah.
Singkat cerita sesampainya di ruko si Mbah, dia menerima kami dengan gembira.
Setelah merawat Lis, si Mbah pun melayani aku dengan buasnya di kamar lain. Dia
mengatakan semua bagaimana indahnya tubuh Lis. Seperti biasa dia merawat bagian
belakang tubuh Lis dulu dan setelah semua jarum tertancap dia menggarapku di
ruang sebelah. Dan itu ronde pertama. Ronde ke dua dilanjutkan setelah si Mbah
membalikkan tubuh Lis dan menancapkan jarum akupunktur di bagian atas tubuh Lis.
Si Mbah bercerita bahwa dia tidak membuka semua underware Lis, dan mengatakan
bahwa sekarang bukan waktunya menggauli Lis. Hingga akulah yg menjadi
pelampiasan si Mbah, dan aku seperti biasa menikmatinya walau aku tak bebas
berteriak2 keenakkan merasakan permainan si Mbah.
Setelah selesai semuanya aku cepat2 menunggu Lis di ruang tunggu. Dan aku yakin
memang si Mbah tidak mengeksekusi Lis hari itu.
Dalam hatiku aku cukup puas, dan apa yang aku peroleh mulai hari itu resmi
gratisss. Horeee.
Keesokan harinya seperti biasa, kami para ibu2 berkumpul di dekat halaman parker
sekolah, begitu kulihat Lis berangkat pergi, cepat2 akupun berangkat menuju ruko
Si Mbah. Sesampainya di sana aku tidak menjumpai Lis, bahkan ketika aku masukpun
tidak ada. Bahkan belum ada satu pasienpun karena masih belum jam 8 pagi. Sambil
menunggu akupun membantu si Mbah menyiapkan seluruh ruangan terapi. Rupanya si
Mbah ini cukup rajin, seluruh lantai sudah di sapu dan dip el dari sejak tadi
pagi dia bangun. Dan dia pun sudah rapih dan mandi. Aku Cuma membantu
membereskan tempat tidur sementara si Mbah menyiapkan semua jarum akupunkturnya.
Jam 8:30 semua sudah siap, akhirnya aku pun di rawat oleh si Mbah, dan diakhiri
dengan hal yang selalu aku nanti nantikan he he he.
Jam 9:30 aku sudah siap2 berangkat kembali ke sekolah, aneh kemana si Lis.
Ketika aku pamitan dan turun pulang di ruang pasien tidak ada juga si Lis. Yang
ada hanya 2 orang pasien satu laki2 gemuk dan perempuan muda yang aku yakin
bukan type yang Mbah suka.
Kejadian itu berlangsung terus hingga akhir minggu, Lis tak datang ke si Mbah
dan aku sekarang jadi rajin datang ke ruko Mbah pagi2 untuk membantu Mbah dan
menunggu Lis datang. Mbah pun bertanya2 mengapa Lis tak datang2. Namun efek
baiknya dari hal ini, aku sekarang diberi akses untuk masuk ke dalam tanpa harus
memencet bel dulu. Mbah memberikan PIN code pintunya, sehingga aku bisa masuk
dengan leluasa. Pada hari Jumat dimana sekolah pulang lebih pagi, dan setelah
mengantarkan anakku pulang aku sempatkan mengunjungi si Mbah. Ketika sudah
parker dan hendak turun aku melihat Regy berjalan terseok2 ke arah ruko si Mbah.
Wajahnya memerah kepanasan dan keringat bercucuran. Hmmm nampaknya dia baru
mengambil uang di Mall kelapa gading dan pastinya ada gulungan sirih di
vaginanya.
Begitu dia masuk dan setelah yakin Regy sudah berada di atas aku pun masuk ke
dalam. Ruang tunggu pasien Nampak kosong sepi. Memang hari jumat biasanya ramai
tapi rata2 setelah jam 2 atau jam 3. Akupun bergegas masuk ke atas dan benar
saja dari salah satu ruangan aku mendengar suara2 yang pastinya itu si Mbah
dengan Regy sedang ML. Ahh si Mbah yang katanya gak suka ternyata Regy di embat
juga. Aku mendengarkan semua erangan Regy dan teriakan2nya yang ternyata lebih
keras dari aku. Dan tak jarang Regy menyumpah-nyumpahi si Mbah dengan kata-kata
jorok. Sedangkan si Mbah yang terdengar hanya lenguhannya saja, atau perintah si
Mbah seperti ? ayo kamu nungging!? halahhh ini pasti si Mbah akan menunjukkan
kemampuannya dan benar saja tak lama kemudian Regy pun berteriak teriak dan
melolong-lolong dengan kerasnya.
Aku mendengarkan saja apa yang terjadi di ruangan itu hingga suatu saat setelah
Regy berteriak panjang dan ruangan menjadi sepi, si Mbah tiba2 keluar dengan
kondisi masih telanjang bulat. Dia kaget melihat aku duduk di ruang tengah. Aku
hanya tersenyum. Si mbah pun diam saja sambil menisyaratkan agar aku juga diam.
Si mbah mengaambil air minum sambil mengambil sebatang rokok. Dia menghidupkan
tv dan ternyata itu caranya dia mengecek ada tamu atau tidak di ruangan depan.
Ahhh kenapa selama ini aku tidak diberi tahu, aku pikir itu tv biasa, dan tidak
ada program CCTVnya. Setelah melihat tidak ada siapapun di ruangan depan si Mbah
memindahkan chanel dan ternyata ruangan tempat Regy beradapun ada kameranya.
Tampak Regy tidur tertelungkup kelelahan.
Aku yang gemas melihat penis si Mbah dari tadi berdiri menantang, mencoba
meraihnya untuk membersihkannya. Si Mbah melarangnya, dia menuju ke kulkas dan
mengambil 3 buah ice cube. Es batu itu digenggamnya sekaligus membalur pennisnya.
Penis yang pasti kepanasan itu membuat semua ice cube itu meleleh terkena barang
panas he he he. Aku makin gemas dan aku rebut butiran e situ dan mulai aku gosok2an
ke penis Mbah. Batang itu makin mengeras dan membusung sehingga aku tak tahan
untuk tidak mengulumnya. Aku tau Batang yang masih kuat itu tak akan meledak
dimulutku. Aku berdiri dan mengajaknya ke salah satu ruangan, yah aku minta
jatah. Aku buang 3 es batu yang tadinya aku genggam ke salah satu sudut ruangan,
dan segera aku peluk dan cium dengan erat si Mbah. Mulutnya yang masih bau rokok
itu menyambut ciumanku dengan buas. Sementara tangannya menyingkap rok panjangku
serta memainkan vaginaku yang memang sesuai peraturan mbah tidak menggunakan
apapun. Setelah merebahkan aku di tempat tidur dan melucuti rok ku si Mbah
menindihku dan menciumi aku dengan kuat. Tiba2 aku merasakan ada rasa dingin di
selangkanganku. Aku pikir itu penis Mbah ternyata tangan Mbah memasukkan satu
buah es batu ke vaginaku, aku yang sempat hendak menjerit tertahan dengan bibir
si Mbah yang masih mencium aku dengan kuatnya hingga nafasku sesak dibuatnya.
Sementara aku mengelinjang2 akibat kemasukan es batu yang dingin di vaginaku
apalagi jari2 si Mbah menusuk2 vaginaku hingga es itupun makin masuk ke dalam.
Si Mbah bangkit sedikit dan diarahkannya penis ke vagina ku, bagitu masuk akupun
tak kuasa untuk tidak menjerit2. Apalagi saat si Mbah memompa2 vaginaku, aku pun
berteriak2 merasakan sensasi yang ada.

Tanganku mencengkeram punggung si Mbah sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi
di diriku. Si Mbah tiba2 berhenti bergerak, rupanya dia ingin membuka kaos
lengan panjang yang masih aku kenakan. Tapi kaos itu tak dibuka dengan sempurna,
ketika aku berusaha melepaskan kaos dilenganku, si Mbah menahannya. Tanganku
berada di atas kepalaku terjerat oleh kaosku sendiri dan tertahan oleh tangan si
Mbah. Ini membuat dadaku membusung sehingga membuat si Mbah dengan lapar
menciumi dan menggigit2 kecil payudaraku. Aku berteriak2 lagi, dan sudah tak
peduli kalau ada Regy di ruangan sebelah. Mbah menggenjotku dengan makin hebat.
Karenanya es yang ada di dalam vaginaku terdesak2 hingga keujung rahimku, aku
tak kuat lagi hingga akhirnya orgasmekupun datang. Tapi si Mbah bukannya
berhenti malah menggenjot aku habis2an. Mataku terbelalak aku mengerang2
berteriak memintanya berhenti. Berkali2 aku berteriak memanggil namanya dan
akhirnya seperti halnya Regy akupun menyumpahi si Mbah. Tiba2 kepalaku pusing
dan orgasm eke dua dalam hitungan sekejap dari yang pertama tadi tak ter bending
aku mengelepar merasakan akibatnya. Mbah menciumi ketiakku yang terlentang
menganga.
Dia menyingkapkan jilbabku, dan kali ini membiarkan ku membuka kaos lengan
panjang yang tadi di tahannya. Tapi ketika aku hendak sedikit menarik pinggulku
Si Mbah malah menghentakkannya membuatku ngilu. Dia menciumiku dan leherku
sementara aku masih mengerang merasakan sodokan yang dalam di vaginaku sementara
tanganya memeras2 dadaku. Sedikit2 Mbah mulai memompaku. Aku sudah memintanya
untuk stop dulu malah membuat si Mbah memompanya makin hebat. Aku rasa tak
sampai 1 menitpun aku jebol lagi. Mulutku pun dibuatnya melongo saat dengan
teganya dia memompa dengan lebih kuat lagi, aku pun hanya kuat mengejang sekali
dan meronta2 dengan memukul dada si Mbah sebentar sesudah itu aku lemas nyraris
tak sadarkan diri. Aku Cuma merasa lega ketika si Mbah menarik keluar penisnya
dan berlalu dari ruangan.
Tak lama si Mbah pun kembali, dia ternyata mengajak Regy masuk. Mereka
berbincang2 dan nampaknya memang Regy sudah mengira kalau aku yg ada di ruangan
ini karena terdengar jelas tadi. Aku sudah tidak perduli lagi. Aku benar2 lemas.
Mereka berciuman sambil berdiri. Regy mengusap2 penis si Mbah yang sudah tak
sekeras tadi. Si Mbah sepertinya sudah merencanakan ini. Setelah merebahkan Regy
di sampingku, mereka berciuman dengan mesra sekali. Tapi itu tak lama, Regy
mengalami hal yang sama. Si Mbah mengambil es batu yang tersisa tadi walaupun
tinggal 2 butiran kecil tapi pastinya membuat Regy bergetar2 dan berteriak2
seperti aku. Bahkan setelah KO yang pertama si Mbah membalikkan tubuh Regy dan
di doggy style. Aku mulai agak sadar dan melihat penderitaan Regy. Wajahnya yg
tak jauh dari wajahku terlihat berkeringat dan hanya bisa memejamkan mata sambil
sesekali mulutnya menjadi monyong dan berteriak menahan apa yang dia rasakan.
Tangannya akhirnya tak bisa menopang tubuh lemasnya. Regy tersungkur lemas namun
masih menungging karena pinggangnya yang ditahan oleh si Mbah.
?Mila sini? perintah si Mbah. Aku menghampirinya dan si Mbahpun menciumi bibirku.
Aku pun balas menciuminya sambil memeluknya. Sementara si Mbah juga masih
memompa Regy. ?Ambilin Es lagi?, aku pun berlalu keluar ruangan sementara Regy
berteriak ?Jangaaan aku sudah gak kuaaat?.
Ketika aku sedang mengambil es batu aku pikir satu saja cukup, aku gak tega
melihat Regy, walaupun sejujurnya sekarang kalau aku mengingat2 bagaimana
rasanya tadi kayanya enak sekali. Belum sampai masuk kamar terdengar Regy
berteriak keras ?Ampun Mbaaaaaah???? Ketika aku membuka pintu Nampak Regy
tersungkur dan telah lepas dari sodokan si Mbah. Aku menghampiri si Mbah, ku
berikan es batu itu. Ternyata Mbah mengambilnya dan memasukkan kemulutnya.
?Mau minum Mbah? Mbah menggelengkan kepalanya. ?Nggak Kamu aja? Aku keluar
mengambil segelas air putih, meminumnya dan setelah mengisinya lagi aku
membawanya ke kamar. Mbah Cuma meminumnya sedikit. Dia sedang mengusap2kan e
situ kini ke kontolnya. Aduh itu dari tadi belum juga meledak. Diambilnya
jilbabku dan elapnya penisnya dengan jilbabku hingga bersih dan sekali lagi
dibalurnya penis itu dengan es batu.
?Sepong dong? perintah singkat itu ditujukan ke Regy. Regy yang lemas tapi masih
bisa menuruti si Mbah. Sedangkan aku di gamitnya dan kamipun berciuman sambil
berdiri, sementara Regy mengulum penis si Mbah. ?temanmu ternyata ok juga? Kata
si Mbah sambil tangan kirinya mencengkeram kepala Regy dari belakang. Mbah
melepaskan pelukannya kemudian memerintah Regy nungging lagi. Regy menuruti
semua perintah si Mbah dan kembali lagi si Mbah memasukkan es ke liang vagina si
Regy, walaupun Regy sempat meronta2 namun tenaga Mbah masih lebih kuat. Setelah
Regy mengalami orgasmenya lagi, si Mbah memintaku nungging juga. Begitu terus
dilakukan bergantian antara aku dan Regy. This is my first 3 some.
Sampai akhirnya si Mbah menuntaskannya kepada Regy. Semburan pertamanya di dalam
vagina regy. Namun tak lama Regy pun disuruh Si Mbah untuk menyepongnya hingga
sisa2 spermanya habis. Aku melihatnya dengan terkulai lemas setelah tidak tau
sudah berapa kali aku orgasme.
Ketika Mbah keluar ruangan untuk mandi. Aku dan Regy hanya saling berpandangan.
Aku agak lega waktu Regy tersenyum ?Gila tuh orang? sahutnya. Kami sempat
berbincang2 sedikit tapi tak lama terdiam karena nampaknya si Mbah sedang
mempersilahkan seorang pasien di ruang sebelah. Aku terdiam dan tanpa aku sadari
aku tertidur.
Ketika aku bangun, aku tak tau sudah jam berapa. Regy yang ternyata juga
tertidur aku bangunkan. Aku segera berpakaian. Regy meminta aku mengambilkan
baju di ruangannya. Setelah kami sama2 berpakaian dan rapih kamipun beranjak
hendak pulang. Ketika kami berpamitan kepada si Mbah nampaknya dia sedang sibuk
dengan pasiennya entah siapa. Begitu kami turun di ruang tunggu pasien aku
sempat melihat ada 4 orang pasien yang sedang menunggu. Begitu di luar kami baru
sadar bahwa hari sudah gelap. ?Mil sudah jam 7 malem!? aku meraih HPku di tas
aduuuuh ada 4 miscall dari suamiku. ?Gy bantuin aku tunggu jangan pulang dulu?
aku pun segera menelepon suamiku. Sebisa mungkin aku waktu itu beralasan dengan
suamiku bahwa aku dan Regy setelah terapi melakukan fitness, spa dan sauna.
Untungnya suamiku tidak terlalu marah apalagi dia juga mendengar bantuan
alasanku saat dia berbicara dengan Regy. Aku juga gentian membantu Regy. Selesai
saling membantu kami saling tertawa.
?Gy lain kali yang lebih seru ya??
?Oh ya dong, gimana kalau nanti gentian kita yg ngerjain si Mbah??. ?Wah ide
bagus tuh, cariin caranya ya?. Kamipun larut dalam pembicaraan dan saling
menimpali member komentar atas permainan si Mbah tadi.
Dalam perjalanan pulang aku puas, dengan yang terjadi tadi. Walau ada 2 hal yang
masih mengganjal. Mabh belum tau aku hamil, dan kemana si Lis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar