Lhian, diperkosa gurunya sendiri

Pak Dion masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Nina lalu mengangkat kaki kanan Nina ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Nina. Nina menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Nina yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Nina diperkosa oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Nina. Nina kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Nina. Dia menarik Nina dari pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Nina disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot. Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Nina turun, sehingga vagina Nina langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras.
"Akkhh, aakkhh, oogghh,". teriakan memilukan keluar dari mulut Nina.
Penis Pak Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya pendek yang memasuki vagina Nina, masuk semuanya ke dalam vagina Nina, membuat Nina kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Nina merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot. Pak Gatot memaksa Nina untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Nina dengan leluasa. Kedua Payudara Nina besar menggantung bebas, naik turun seirama tubuhnya.

Kemudian Pak Gatot menjepit kedua puting susu Nina dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Nina berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Nina yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Nina beberapa kali.
"Akkhh, aakhh, damn, shitt", Nina kembali merasakan perih luar biasa pada punggung, pantat, dan pahanya.
Cambukan Pak Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat, dan paha Nina.

Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Nina tetap merasakan perih dan panas di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Nina terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Nina dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Nina menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Nina, lalu membuat goyangan memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Nina itu.
"Oohh, sshh, shh", Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Nina yang empuk basah menduduki selangkanganya.

Ketika Pak Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Nina dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Nina tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil mencium bibir Nina dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Nina, Pak Gatot terus menggenjot vagina Nina. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Nina dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Nina. Kemudian dia menarik tangan kanan Nina dan memaksa Nina untuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Nina. Ia mengangkat kedua kaki Nina dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Nina. Dengan kasar Pak Heru menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Nina. Lalu ia mulai menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Nina dengan kasar, membuat vagina Nina semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Nina dan memaksa Nina untuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru memaksa Nina untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Nina menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Nina terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru Nina terhadap tubuh Nina. Kali ini Nina tidak kuat lagi menahan orgasmenya yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama. Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Nina merasakan sakit luar biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah bersarang didalamnya.

Setelah delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Nina akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Nina telah diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.

Lebih-lebih ketika posisi kedua tangan Nina yang terikat digantung keatas. Pak Andi menjilati dan menciumi payudara Nina.
"Mmuuahh, tetek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm"
Liur pak Andi membasahi tetek Nina. Nina kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja lubang anus dan vaginanya. Nina kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan.
"Ouughh, arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh"
Nina terus berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Nina mulai mengering, Pak Andi kembali membasahi dubur Nina dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng agar licin. Pak Andi menyodomi Nina untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat Nina, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Nina (Anal Destruction).

Kemudian mereka kembali menelentangkan Nina di lantai, lalu mereka maju semua mencari bagian-bagian tubuh Nina yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka. Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina, dan memaksa mengulumnya. Pak Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memiaw Nina yang berdarah-darah. Pak Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang pantat Nina yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara belahan payudara Nina, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan menarik puting susu Nina yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Nina yang gemuk putih dengan beberapa helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam jepitan ketiak Nina. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Nina yang sebelah kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Nina, kemudian memaksa tangannya mencengkram penisnya lalu membantu tangan Nina untuk mengocoknya. Yang terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Heru dengan tangan Kiri Nina.

Akhirnya Nina yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana. Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh Nina yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.

******

Setelah para guru Nina pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Nina yang diam-diam mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Nina yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Nina yang masih tidak sadar. Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Nina. Lalu mereka mulai menikmati tubuh Nina secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika sadar, Nina hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Nina, akhirnya tercapai juga.

Setelah puas semua, mereka meninggalkan tubuh Nina yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang begitu berat.

Setelah peristiwa tersebut, Nina terus mengunci diri dalam kamar dan diam membisu ketika ditanyai oleh teman ataupun keluarganya. Beberapa hari kemudian Nina pulang ke asalnya, dan tinggal dengan ortunya. Nina mengalami shock berat, dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sementara para guru yang memperkosa Nina, bebas beraktivitas karena Nina tidak berani memberi kesaksian. Nina terperangkap dalam trauma perkosaan itu untuk selama hidupnya. Sedangkan para guru yang memperkosanya masih sibuk mencari mangsa siswinya yang lain.

**THE END**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar